Lupa nama kegiatannya, tapi ingat bahwa di kegiatan tersebut anaknya sempat mendapat sebuah buku yang ternyata mampu memancing keinginan untuk belajar baca, hingga si ibu kemudian mencari dan melengkapi seri dari buku tersebut. Demikian cerita satu orangtua di forum FBO kemarin. Lalu disahut oleh beberapa orangtua lain, βFestbuk itu bu.. Festival Bukuβ. Waah waas seketika. Festival Buku adalah salah satu kegiatan Smipa yang sudah beberapa kali berjalan dengan dukungan dan keterlibatan besar pihak orangtua. Terakhir diselenggarakan 2 Tahun Pendidikan lalu, sebelum pandemi.
Awalnya Festival Buku digagas untuk membangun kesadaran mengenai buku. Mengingatkan lagi asiknya membaca buku, lalu muncul ide untuk bertukar buku-buku di rumah yang sudah selesai, dibaca dengan buku milik teman yang juga sudah tidak lagi dibaca. Dari situ lahir istilah Situbucang, Silih Tukar Buku Rencang. Ada pula Bursa Buku, yang menjual buku-buku yang dibuat oleh anak-anak Smipa, dan terbuka bagi mereka yang ingin menjual saja, bukan menaruh buku untuk bisa dibawa oleh orang lain. Di beberapa Festbuk terakhir, kegiatan-kegiatan di dalam Festbuk terus bertambah dengan adanya Bursa Buku ekstern dengan vendor dari luar, juga Pojok Dongeng. Biasanya orangtua atau kakak mendongeng untuk anak-anak di setiap jenjang, sebelum ajang bertukar buku dimulai. Guliran di kelaspun biasanya jadi menyesuai dengan tema, yaitu literasi seperti mengolah puisi atau saling berpantun. Sempat pula disatukan dengan Peluncuran Buku Perjalanan anak-anak kelas 8. Hari yang seru pokoknya.. 
Anak-anak yang mengumpulkan buku untuk ditukar, mendapat token sejumlah tertentu untuk ditukar dengan buku pilihan mereka. Meski biasanya pengumpulan buku agak alot, tapi menjelang dan pada hari H, grafik semangat selalu meningkat pesat. Senang sekali melihat anak-anak memilih buku dengan sungguh-sungguh. Kadang setelah mendapat buku yang disukai, ada yang memilih buku untuk adik, untuk mama.. so sweet. Ada pula yang berbagi token dengan teman yang tidak punya token karena tidak menukar buku.
Tapi yang paling mengharukan adalah melihat kesungguhan jajaran orangtua yang membantu. Mulai dari perumusan, membuat berbagai desain seperti logo, poster, ataupun token, membantu langsung sebagai panitia dan terjun langsung di pelaksanaan seperti menyortir dan memilah buku-buku terkumpul, menghubungi vendor, menjaga dan membantu anak-anak saat menukar token, dan yang tak kurang pentingnya, saling mengingatkan dan memotivasi anak dan teman-teman untuk turut serta menukar buku. Sungguh luar biasa.. Dengan adanya pandemi, beberapa orangtua sempat melontarkan ide untuk membuat ruang bertukar buku secara daring. Namun belum diolah lanjut. Mudah-mudahan kembali terwujud satu saat nanti, meski dalam bentuk yang berbeda..
waaaaaaaa kangeeeennn π₯°ππ
Iyaaa banget bu.. ππ
Vania tiap kali liat buku2 tukeran hasil Fesbuk, sll blg 'kapan Fesbuk lagi ya? skr aku udh SMP, udh gak bisa
tukeran buku.' Lsg sadar, 1,5 thn sekolah daring, bikin dia jd abege. π
sekolah luring juga tetap tumbuh jadi Abege bu.. hehe, dengan pengalaman yang lebih langsung tapi ya, seperti tukeran buku itu