Akhir pekan. Yang saya kangeni adalah sebuah tempat yang nyaman, sunyi dengan secangkir kopi dan pastry dimana saya dapat duduk dengan tenang di sebuah meja kecil dan menulis. Dalam beberapa bulan mendatang mungkin saya tidak perlu keluar rumah, sekarang kondisi rumah sangat penuh debu karena para pekerja mulai membersihkan dinding untuk pengecatan. Masih harus bersabar.
Ini salah satu fenomena menarik yang saya saksikan di Bandung. Tempat kopi itu bertebaran di mana-mana. Namun sejauh ini saya belum menemukan tempat yang nyaman dimana saya dapat bekerja dengan tenang dan terhindar dari asap rokok! Tempat ngopi di Bandung sejauh ini sangat amat ramai, penuh sesak dan bau asap rokok. Sangat mungkin saya belum menjelajahi semua opsi yang tersedia, agak malas menembus lalulintas yang terlalu riuh ini, belum lagi urusan parkir kendaraan yang luar biasa sulit. Nah, oleh sebab itu niat saya adalah menciptakan tempat yang nyaman di rumah, tapi untuk itu masih perlu waktu.
Beberapa hari terakhir, yang mengasyikan adalah saya menemukan tempat membeli jajanan pasar yang murah dan kualitasnya sangat baik. Tidak kalah dengan yang selalu ramai dikunjungi oleh para pendatang dari luar kota. Dengan biaya kurang dari 1/3-nya, saya bisa puas menikmati kudapan ringan ini. Nah tinggal saya mencari kopi yang baik. Saat ini kebanyakan kopi yang saya peroleh terlalu halus, sehingga jika menggunakan French press, masih banyak butiran kopi yang terbawa. Mungkin saya harus memilih yang lebih coarse. saya belum sempat bereksplorasi soal ini. Nanti kalau saya sudah lebih leluasa keluar rumah dan tidak ada lagi pekerja.
Bermula dari kebutuhan untuk mencari makanan kecil untuk ayah saya. Beliau senang makanan kecil tapi karena sudah sepuh, saya harus mencari yang cocok. Beberapa malam yang lalu saya kemalaman sehingga tidak sempat mencari makanan kecil, baru ketika pagi hari saya dalam perjalanan mengunjungi beliau, saya naik motor sambil melihat-lihat jika ada yang berjualan makanan kecil. Kemudian saya melihat sebuah rumah yang halamannya penuh dengan meja besar dan berbagai macam jajanan pasar berjejer rapih. Ada bika ambon, pastel, kue lapis, lemper, ketan bumbu, bolu kukus, berbagai jenis gorengan, serabi kinca, serabi notosuman, dadar gulung, pisang molen, risoles, kroket, dan lain-lain. Wow.. Ini surganya jajanan pasar. Untung saya tidak lapar mata karena hanya memfokuskan pada makanan yang ayah saya dapat nikmati. Jadi hanya membeli yang dibutuhkan saja dan memilih beberapa yang ingin saya coba, total 15 item, 36 ribu rupiah! Siapa tidak bahagia? Kalau saya beli di toko langganan yang ramai itu, saya bisa menghabiskan sekitar 200 ribu!!!
Selama sekian tahun di rantau, jajanan pasar itu sangat sulit diperoleh. Jika saya mau, sebetulnya dapat mengemudi sekitar 2 jam menuju kota lain, itu satu jalan, jadi biasanya butuh sepanjang hari untuk pergi belanja dan kembali. Hanya saja, jenisnya sangat terbatas, sejauh ini yang mudah dijumpai hanya dadar gulung, tempe mendoan, kue lapis beras, kadang serabi kinca, pokoknya tidak banyak dan kualitasnya memang kualitas makanan rumahan bukan untuk dijual. Jadi intinya tidak seenak yang saya peroleh di tempat yang barusan saya temukan ini.
Salah satu kegemaran saya memang menikmati makanan karya orang lain. Nah saya sudah sering ceritakan bahwa sekian bulan tinggal di Bandung, yang sangat saya nikmati adalah makanannya. Memang waktu saya masih terlalu terbatas untuk eksplorasi, tapi memang Bandung menurut saya salah satu kota yang menawarkan keragaman jenis makanan yang hampir tidak terbatas. Segala yang kita inginkan tersedia walau tentu saja untuk urusan kualitas tergantung selera masing-masing.
Penemuan makanan kecil ini cukup membuat saya gembira. Ini akan menjadi menu sarapan beberapa hari ke depan hingga mulai bosan dan waktunya mencari yang baru. tapi bagaimana bisa bosan jika di satu tempat saja bisa tersedia lebih dari 100 jenis kudapan? Ini luar biasa! Besok saya akan cari serabi. Ini yang belum saya makan selama bertahun-tahun hahaha..