Istilah puer aeternus dalam bahasa Latin berarti anak laki-laki abadi. Istilah ini pertama kali disebutkan dalam Metamorphoses , yang ditulis oleh penyair Romawi Ovid. Dewa anak Iacchus dipuji atas perannya dalam misteri Eleusinian, inisiasi yang berkaitan dengan dewi-dewi Yunani, dan ritual keagamaan rahasia Yunani kuno yang paling terkenal. Di kemudian hari, dewa anak ini diidentifikasikan dengan Bacchus, nama lain untuk Dionysus, dan dewa Eros. Ia adalah dewa kehidupan, kematian, dan kebangkitan, dewa pemuda ilahi.(eternalised.com).
Diatas adalah definisi dari istilah puer aeternus, aku menemukan istilah tersebut di kanal youtube eternalised, videonya berjudul Puer Aeternus: Psychology of Man-Child. Membahas tentang seorang puer, yang selalu nyaman dengan kenyamanannya, ingin berkembang tetapi tidak ingin bertindak, memiliki pemikiran seperti calon filsuf besar, namun kontradiktif dengan perilakunya. Dan mungkin aku juga bisa termasuk ke dalam puer aeternus, pria muda dewasa yang terus saja mengangkan masa depan yang ideal, namun menutup mata terhadap realita yang ada.
Jung menulis:
“ Puer biasanya menjalani kehidupan sementara , karena takut terjebak dalam situasi yang mungkin tidak memungkinkan untuk melarikan diri. Rencana untuk masa depan lenyap dalam fantasi tentang apa yang akan terjadi, apa yang mungkin terjadi, sementara tidak ada tindakan tegas yang diambil untuk mengubahnya. Ia mendambakan kemerdekaan dan kebebasan, tidak suka dengan batasan dan batasan, dan cenderung menganggap pembatasan apa pun tidak dapat ditoleransi.” (Carl Jung, CW Vol 9.2: Aion)
Menjadi seorang idealis di masa kini mungkin hanya dambaan saja, yang aku tangkap seorang puer memiliki keinginan untuk perubahan, namun pada akhirnya rencana-rencananya hanya fantasi belaka, secara pemikiran seorang puer memang bebas, namun dia terpenjara oleh tekadnya yang tidak solutif.
Karena pada akhirnya ada benarnya juga bahwa kedewasaan itu bukan soal angka pada umur, tapi menitikberatkan pada pola pikir dan prinsip yang dipegang dengan begitu teguh. Realita kehidupan begitu pahit dan begitu banyak ketidaknyamanan yang harus dijalani, pasti akan ada batu kerikil tajam yang menghadang, dan kita harus melewatinya dengan kaki tak bersepatu. Pendambaan pada konsep idealis yang dipegang teguh oleh seorang puer pada akhirnya hanya akan menyebabkan pemikiran yang paradoksal, berkonflik dengan diri sendiri, tanpa ada tindakan yang benar-benar nyata. Asumsiku menyatakan mungkin beberapa orang akan mengalami fase puer aeternus dalam hidupnya. Salah satu aspek negatif dari puer aeternus merujuk pada seorang pemuda tertentu yang sudah berada di masa remaja, dan biasanya disertai dengan ketergantungan yang terlalu besar pada ibu. Bertumbuh dalam asuhan seorang ibu adalah hal yang paling baik, namun apabila terlalu tergantung, maka akan lupa untuk hidup secara mandiri, burung tidak akan terbang apabila terlalu lama di dalam sangkar.
Puer aeternus, sang anak laki-laki abadi, aku juga sedikit bimbang, mungkin bisa jadi hampir seluruh pria akan merasa menjadi anak-anak walaupun sudah berumur apapun, akan selalu ada rasa kekanakan yang kita punya. Tapi bisa jadi itu hanya perasaan aku saja. Maksud aku, dewasa itu tidak menyenangkan, maka apa salahnya mempertahankan rasa kanak-kanak itu untuk mewaraskan kita sebagai manusia, dengan catatan mengetahui batasan serta bisa membedakan mana yang fantasi dan realita. Intinya pintar-pintar kita saja. Aku sendiri masih merasa bingung, yah mungkin tulisan sederhana ini cocok untuk membuka awal pekanku. Dan sesekali aku juga harus menampar diriku sendiri, bisa jadi aku memang menuliskan tentang diriku sendiri yaitu aku juga seorang puer.