Sepanjang pagi saya berusaha menulis sesuatu tapi sama sekali tidak berhasil. Alasannya sangat jelas, lapar! Saya memang biasanya tidak menyiapkan sarapan karena di tempat kerja selalu ada pastry yang bisa saya nikmati. Pagi ini tidak ada! Jadi sarapan saya hanya kopi, dan itu ternyata tidak cukup. Saya sempat berpikir untuk membeli sesuatu, tetapi pekerjaan lumayan banyak sehingga saya tidak sempat. Akhirnya ya saya harus menunggu hingga waktu makan siang sambil perut keruyukan.
Dalam keadaan lapar ternyata sulit sekali konsentrasi. saya berusaha menulis sesuatu karena kebetulan punya sebuah ide, tapi ide tersebut tidak bisa dikembangkan menjadi sebuah tulisan. Hanya beberapa poin yang saya catat lalu akhirnya masuk tempat sampah. Lapar dan menulis itu tidak bisa menjadi sahabat. Barusan saya selesai makan siang, lalu mulailah banyak ide lain muncul.
Lapar. Sebetulnya mengapa manusia merasa lapar? ternyata waktu saya baca, ada banyak teori. Ada yang mengatakan teori kontraksi, kalau perut berkontraksi maka akan merasa lapar, lalu dibuat sebuah penelitian menggunakan balon, ternyata kalau balon digelembungkan di dalam perut orang tidak merasa lapar karena perutnya tidak berkontraksi. Tapi teori ini terbantah ketika ada seseorang yang perutnya sudah diangkat ternyata masih merasa lapar. Ada teori lain yang mengatakan bahwa rasa lapar terjadi karena kadar gula dalam darah rendah, tapi menurut seorang ahli bernama LeMagnen kadar gula darah relatif tidak berubah banyak dalam kondisi yang normal, jadi glucose theory tidak tepat juga. Lalu muncul teori insulin yang mengatakan bahwa jika kadar insulin meningkat secara mendadak maka kita menjadi lapar. Ada lagi juga yang mengungkap soal suhu tubuh yang mengungkap bahwa jika suhu tubuh menurun maka kita merasa lapar, mangkanya orang cenderung makan banyak jika cuaca dingin. Saya akan serahkan pada para ahli untuk memutuskan teori mana yang paling cocok hehehe...
Lapar ternyata juga dipengaruhi faktor psikologi. Selama hidup kita mempelajari banyak hal, termasuk penglihatan, penciuman dan tekstur. Kita juga banyak belajar dari rutinitas setiap hari. Ada contoh yang bisa diangkat misalnya ketika jam menunjukkan pukul 12, kita merasa lapar karena dari rutinitas sehari-hari jam itu menunjukkan waktu makan. Sejak kecil kita juga belajar mengenai bau makanan, banyak orang yang terbiasa mencium ikan asin sejak kecil lalu ketika pada suatu saat mencium orang sedang menggoreng ikan asin, lalu menjadi lapar. Beda halnya dengan mereka yang tidak mengenal ikan asin atau terasi, begitu mencium bau terasi dia kabur dan mau muntah. Mangkanya sering ramai di asrama dulu ketika ada teman orang Indonesia menggoreng terasi yang mengakibatkan pemadam kebakaran datang karena dikira ada kebakaran. Karena tidak mengenal terasi, bau terasi digoreng bukannya membuat orang lapar tapi dikira ada bencana! hahaha... Faktor psikologi ini sangat masuk akal juga, lihat saja ketika orang mengupas mangga muda, kadang tanpa sadar kita merasa ngilu walau hanya sekadar membayangkan rasa asamnya. Nah demikian juga dengan rasa lapar, melihat makanan tertentu yang kita sukai membuat kita mengeluarkan air liur lalu merasa ingin makan. Nah mungkin faktor psikologi ini yang memaksa saya untuk nyupir berjam-jam demi memperoleh rendang jengkol yang sudah dibekukan dan harganya sampai $18 sebungkus walau hanya 250 gram! Kenapa? Karena saya penggemar jengkol dan jengkol yang ditunjukkan membuat saya mengeluarkan air liur dan kepengen makan! Hmm... jadi ingat saya harus SMS penjualnya sebelum saya kehabisan, sekalian mau beli rempeyek, keripik usus dan keripik ceker! hahahaha...***
Wah, saya lagi belajar tentang puasa yang nyambung juga dengan tulisan Pak Jo soal rasa lapar ini.
Asyik. Bakalan seru nih esai soal.puasa. 😊