AES 122 Proyek Sisifus
leoamurist
Sunday September 26 2021, 4:47 AM
AES 122 Proyek Sisifus

Seorang raja yang dihukum langsung oleh raja para dewa karena memanfaatkan warganya dan mengakali beberapa dewa. Ia menggunakan kemampuannya pada area kekuasaan untuk menguasai orang lain, bahkan sampai mengambil kekuasaan orang lain seperti kepemilikan material sampai kepemilikan imaterial. Menampilkan potensi penguasaan yang telah sampai puncaknya. Tantangannya kembali ke dasar, menguasai diri sendiri.

Ia menggunakan kemampuannya pada area keberanian untuk bertukar manfaat dengan dewa sungai, suplai air bagi kerajaannya agar selalu terjamin dengan informasi keberadaan putri yang hilang dewa sungai. Menampilkan potensi penguasaan informasi sebagai pertukaran yang imaterial dengan yang material dalam nilai yang setara. Tantangannya melampaui pertukaran, transformasi.

Ia menggunakan kemampuannya pada area kecerdasan untuk menangkal sergapan dewa pencabut nyawa, meniru keterampilan sang dewa dan berimprovisasi menggunakannya untuk menyergap balik sang dewa pencabut nyawa itu. Menampilkan potensi penguasaan pengetahuan dan pengalaman untuk merespon stiuasi aktual yang terjadi secara spontan dengan tepat. Tantangannya melampaui egosentris, menjadi holistik.

Ia menggunakan kemampuannya pada area keterampilan untuk mengantisipasi yang tidak terhindarkan yaitu kolaborasi dewa perang yang bosan dengan terus beraktivitas dengan dewa kematian yang bosan karena terus terdiam tidak ada aktivitas karena dewa pencabut nyawa yang terperangkap oleh sergapan balik Sisifus tersebut. Menampilkan potensi penguasaan kreativitas merangkai perencanaan, strategi, dan taktik. Tantangannya estetika paradoks, menerapkan etika pengorbanan.

Ia menggunakan kemampuannya pada area diplomasi untuk mengajukan penawaran kepada dewa kematian, kesempatan untuk kembali ke dunia kehidupan untuk mengalami pemakaman yang layak karena sebelumnya kematiannya sebagai seorang raja terasa tidak etis dan masih terganjal rasa penasaran. Dewa kematian mengabulkannya dengan syarat, ketentuan, dan batasan waktu. Menampilkan potensi penguasaan rasionalitas dan logika terapan. Tantangannya integritas diri, melaksanakan disiplin.

Ia menggunakan kemampuannya pada area kekuasaannya lagi, yang kini semakin meluas dan semakin mendalam. Yang semakin mengisi kepenuhan dirinya hingga batas waktunya berada di dunia. Manusia adalah waktu, dengan usia sebagai ukurannya. Ia bebas dengan menentukan batasnya sendiri, bahkan raja para dewa pun tidak dapat melakukan apa-apa selain menunggu batasan itu tercapai.

Sampai pada garis batas, raja dewa sudah menunggunya di perbatasan. Sisifus yang sudah penuh hingga titik batasnya, menyambut sang raja dewa dengan penerimaan aktif. Garis mati. Titik penuh. Selesai di dunia hidup. Mulai di dunia mati. Sisifus dihukum oleh sang raja dewa dengan kutukan, selamanya mendorong batu besar naik ke puncak bukit untuk mengelindingkannya kembali ke bawah kemudian mendorongnya naik lagi ke puncak untuk menggelindingkannya kembali ke bawah kemudian mendorongnya lagi menggelindingkannya lagi dan seterusnya dan selamanya.

Semua yang kita lihat bukanlah kebenaran, itu hanya perspektif. Semua yang kita dengar bukanlah kebenaran, itu hanya opini. Hukuman kutukan dari kebenaran sang raja dewa, justru hadiah dan berkat bagi kebenaran Sisifus. Ia yang berbahagia dengan menerima konsekuensi yang sudah sejak awal disadarinya, menyadari kesadaran ini dengan mendekap aktif peran dan fungsi keberadaannya sehari-hari hingga nanodetik kemenyadaran.

Semua tantangan dari potensi dirinya tertuntaskan dengan kutuk-berkat ini. Bebas adalah perihal menentukan batas, integritas dirinya semakin teguh dengan mengorbankan kebebasan dirinya secara etis dengan disiplin pada hal sederhana, paradoks yang estetis ini justru membuatnya melampaui egosentris menjadi holistik. Bukan hanya menemukan makna dari kerja, malahan sampai kepada transformasi balik dari makna kepada kerja.

Bisa jadi, puncak dari langit adalah dasar lautan dan dasar dari lautan adalah puncak langit. Karena kembali ke dasar hanya bisa dilakukan kalau sudah sampai ke puncak. Entah hukuman atau hadiah, entah kutuk atau berkat. Demikianlah Sisifus berbahagia dengan kemenyadarannya menjalani kesadaran ini. Menguasai dirinya sendiri.

Konon, dampak kerja Sisifus adalah matahari yang terlihat menanjak naik ke puncak langit dari pagi hari ke siang kemudian menggelinding turun ke dasar lautan dari sore ke malam. Menggulirkan keberlangsungan kehidupan semua makhluk di bumi.