Kita dihadapkan pada banyak pilihan dan mengambil banyak keputusan setiap harinya. Sejak bangun tidur, kita diberi banyak pilihan, akan tetap berbaring sejenak atau langsung bangkit, mau langsung mandi atau melakukan hal yang lain terlebih dahulu. Apakah akan sarapan atau tidak, jika kita memilih untuk sarapan, kita aan makan apa? Tanpa disadari kita melakukan ini terus menerus, menjadi sebuah kebiasaan, hingga merupakan sebuah rutinitas.
Hari ini hari Minggu, saya tidak punya keharusan untuk bangun pagi. Begitu bangun saya memutuskan untuk berbaring sejenak.
"Engga ke Gym?" Tanya Nina yang sama seperti saya masih berbaring.
"Engga ah, badan semua sakit. Mungkin akan lari aja ke City Park nanti sore." Kata saya.
Sejak dari Gym hari Jumat kemarin, badan saya terutama paha sakit sekali, bahkan kemarin ketika pulang dari stadion menonton football, jalan saya agak sulit, kaki saya sakit dan kesemutan. Saya bertanya-tanya, apakah pembuluh darah di kaki saya baik, karena kesemutan bisa berarti aliran darah ke kaki agak terhambat. Betis saya memang sakit selama 24 jam sehari, setiap hari. Saya pikir karena memang saya hobby jalan kaki sehingga memang beban ke kaki sangat besar. Setiap hari saya usahakan minimal 10.000 langkah! Saya tidak tahu, mungkin harus tanya dokter untuk dilihat.
Pagi tadi saya memutuskan untuk tidak berolahraga. Lalu dihadapkan pada banyak pilihan kegiatan. Saya memutuskan akan berkegiatan di rumah saja. Tugas rumah kebetulan sudah saya selesaikan Jumat malam dan saya tidak perlu masak hari ini karena masih banyak gumbo yang kemarin saya buat. Saya bisa beristirahat pagi ini, kebetulan saya juga sakit kepala, Mungkin karena kebanyakan minum bir di stadion kemarin, jadi saya memutuskan untuk bersantai pagi ini.
"Kano sama aku akan ke Barnes and Noble nanti siang," Kata Nina
"Tumben Kano mau ke toko buku, kayanya udah lama ga ke sana." Kata saya
"Dia mau ngobrol." Kata Nina lagi.
"Jam berapa?" Tanya saya
"Sebelum jam 3, kayanya. Kamu ikut aja." Kata Nina lagi.
"Wah Kalo gitu mending aku jalan ke City Park sekarang. Kayanya ga akan lari kaki sakit sekali. Kalo jalan paling sekitar 1 sampe 1.5 jam, lah." Kata saya.
Entah sudah ada berapa keputusan yang saya buat dari sejak bangun tidur hingga saat itu. Menurut artikel yang saya baca siang ini, rata-rata orang dewasa membuat 35000 keputusan setiap harinya dari yang paling sederhana hingga sebuah keputusan yang sangat penting dan membuat stress. Begitu banyak keputusan yang harus dibuat hingga ketika pulang usai bekerja hampir semua orang kelelahan, baik secara mental mapun fisik, hingga di rumah bahkan kesulitan untuk memutuskan akan makan malam apa. Ini katanya disebut dengan decision fatigue.
Menarik sekali jika direnungkan lebih dalam tentang soal membuat keputusan ini. Ketika mengendarai mobil ke tempat kerja bisa kita hitung ada berapa keputusan yang secara sadar maupun spontan harus kita ambil. Dari bangun tidur hingga selesai mandi, kita sudah banyak mengambil keputusan. Harus memakai pakaian apa? itu juga butuh sebuah keputusan. Jika seseorang mengambil keputusan 35000 kali sehari, tidak termasuk tidur selama, anggap saja 8 jam, maka ada sekitar 16 jam yang kita habiskan untuk mengambil keputusan. Artinya kita mengambil keputusan lebih dari 2000 kali per jam! Bayangkan betapa melelahkannya itu.
Menulis esai ini saja saya harus melalui ratusan atau mungkin ribuan keputusan. Keputusan menggunakan kata-kata yang tepat, memilih topik, harus memikirkan mulai dari mana, apakah harus pakai koma lalu melanjutkan kalimat atau diberi titik saja lalu memulai kalimat baru? Belum lagi jika menggunakan sebuah kata lalu saya kurang sreg, dan saya memutuskan untuk menghapusnya, lalu memilih kata-kata lain, keputusan lagi keputusan lagi. Bukan main, bukan?
Nah, jika setiap hari membuat 35000 keputusan, sekarang silahkan hitung sudah berapa keputusan yang kita buat selama hidup ini? Seru ya? Hahaha...
foto: blog.vantagecircle.com