Halo teman-teman yang budiman, jujur saja, awalnya saya tidak tahu judul apa yang layak untuk tulisan hari ini. Ada hari-hari ketika judul datang lebih dulu daripada isi tulisan. Tapi ada juga hari ketika isi kepala berjalan sendiri, sementara judul tertinggal jauh di belakang.
Maka saya memilih judul “Melihat Lebih Dekat.” Sebab barangkali itulah yang paling tepat untuk menggambarkan proses hari ini. Hari ini bukan sekadar tentang melihat ke belakang. Bukan hanya menghitung apa yang sudah berjalan dan apa yang belum berjalan baik.
Lebih dari itu, hari ini menjadi semacam usaha untuk mendekatkan diri pada sesuatu yang sempat terasa berjarak: diri sendiri, proses belajar, dan suasana sekolah yang perlahan harus saya masuki kembali.
Saya menyadari bahwa proses pengenalan diri saya mungkin tidak sedalam teman-teman yang melakukan perjalanan. Mereka berjalan lebih jauh, melihat tempat baru, mengalami dinamika kelompok secara langsung, dan barangkali menemukan bagian dari diri mereka melalui rute yang lebih nyata.
Sementara saya menempuh jalan yang berbeda. Saya tidak ikut berjalan bersama mereka, tidak mengalami hari-hari panjang di perjalanan, dan tidak menyaksikan langsung bagaimana tubuh serta pikiran diuji oleh ruang luar. Karena itu, saya bisa memahami jika proses saya terasa kurang lengkap dibandingkan mereka.
Namun saya juga mulai melihat bahwa tidak semua perjalanan harus mengambil bentuk yang sama. Ada orang yang mengenali dirinya melalui jalan panjang dan medan yang asing. Ada pula yang mengenali dirinya melalui tulisan, percakapan, kegelisahan, dan ruang-ruang sunyi yang harus dihadapi sendirian.
Dan dalam hal itu, saya rasa output saya tidak terlalu melenceng dari apa yang diharapkan KPB. Mungkin jalannya berbeda, tetapi arahnya masih sama. Saya tetap belajar. Saya tetap mengeksplorasi. Saya tetap berusaha memahami bagaimana diri saya bergerak di tengah kelompok, meski bentuk kelompok itu tidak selalu hadir sebagai perjalanan fisik.
Kadang kelompok hadir dalam pikiran, dalam perbandingan, dalam rasa tertinggal, dan dalam usaha untuk menerima bahwa setiap orang punya ritme belajar yang tidak seragam. Hari ini juga menjadi awal untuk menyelaraskan diri kembali dengan suasana sekolah.
Setelah beberapa waktu hidup dalam ritme proyek, tulisan, dan pemikiran sendiri, kembali ke sekolah terasa seperti masuk lagi ke ruangan yang dulu akrab, tapi kini sedikit asing. Ada suara yang harus dibiasakan lagi. Ada wajah yang harus dibaca lagi. Ada ritme yang harus diikuti pelan-pelan.
Dan hari ini, saya sedang mencoba melakukan itu. Melihat lebih dekat. Bukan untuk mencari kesalahan pada proses yang sudah lewat, tapi untuk memahami apa yang masih bisa saya bawa dari sana.
Sebab pada akhirnya, belajar bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang pergi, melainkan seberapa jujur ia membaca jejak yang ditinggalkannya sendiri.