Belakangan yang kelamaan ini rasanya stagnan, melihat segalanya seakan usang. Ah, membosankan. Tiadakah kebaruan yang bisa diperlihatkan di hadapan?! Eh, sebentar. Ataukah ini sedang terjebak dalam ilusi ke-sudah pernah-an. Seperti tidak ada yang baru karena merasa sudah tahu, padahal hanya regresi linier ingatan terdahulu. Begitukah?
Dengan kesadaran bahwa kita hanya bisa mengerti melalui kerangka pemahaman sendiri, sepertinya begitu! Melihat keusangan dari lingkungan dan orang lain karena diri sendiri yang sudah mulai usang. Merasa stagnan dan bosan karena kerangka pemahaman sendiri yang masih sama, sehingga tidak bisa mengindera kebaruan yang ada di luaran.
Mencari-cari hal baru untuk mengembangkan kerangka pemahaman sendiri ini pun, ternyata tidak jadi solusi yang menyegarkan. Malahan memperkental persoalan, karena keotomatisan respon alami kerangka diri meregresi linier realita persepsional ini sudah begitu berkerak menjadi karakter. Hmm… kelintas kutipan consciousness is disease. Memang sih, dis-ease.
Yasudah, coba berhenti mencari (searching) dan mulai melihat (looking). Penemuan pun terjadi, menemukan catatan-catatan lama di sudut-sudut kerangka. Ternyata, kerangka pemahaman diri yang selama ini dipergunakan secara otomatis belum dikenali dan termanfaatkan secara otonomi. Ada hal eksisting di kedalaman yang ternyata menjawab kebutuhan akan kebaruan di kekinian.
Seperti mantra alur terus berjalan dan peran selalu terisi yang di sudut fondasi kerangka tiang utama kesadaran diri. Ada juga amor fati fatum brutum yang tercatat di pilar ubermensch yang paling disukai pada masa itu. Bahkan mitos Sisipus yang beberapa tahun lalu masih dipergunakan pun, malah dilupakan sekarang oleh kesibukan mencari kebaruan.
One who cannot command, must obey. Yang tidak mampu otonomi diri, pastilah terjebak otomatis diri. Eh, jadi teringat. Bukankah situasi ini pernah terjadi di sekitar tujuh tahun lalu yang membawa diri berlatih menggunakan tangan kiri. Niatnya untuk menyeimbangkan otak, jadinya malah otot dada bahu depan besar sebelah.
Hanya gapapalah, toh gerakan hadir dari usaha untuk menyeimbangkan ketidak seimbangan. Kalau tidak ada ketidak seimbangan, tidak ada pergerakan. Stagnan. Yang jadi persoalan pun akhirnya sekarang bergeser, bukan soal mencari-cari dan menemukan kebaruan. Justru, soal merespon kenyataan (persepsi akan kenyataan) secara otomatis (automatic) atau secara otonomi (autonomy).