AES001 Belajar Mengenali, Bukan Dikuasai
daniasundari
Monday April 20 2026, 8:34 PM
AES001 Belajar Mengenali, Bukan Dikuasai

Takut dan cemas adalah dua perasaan yang sama-sama tidak nyaman untuk dirasakan. Ketika keduanya muncul bersamaan dalam diriku, sering kali apa yang sudah aku rencanakan jadi gagal, karena aku sudah lebih dulu diliputi oleh perasaan itu.

Makna takut dan cemas memang tidak jauh berbeda. Keduanya saling berkaitan. Saat rasa takut muncul, biasanya cemas akan mengikuti. Begitu juga sebaliknya, ketika aku mulai merasa cemas, di dalamnya sudah ada rasa takut yang menyertai.

Suatu hari, kedua perasaan ini muncul di saat yang cukup genting. Orang terdekatku, yang sangat mengenalku, sampai berkata, “Ini bukan kamu banget.”

Hari itu, sebenarnya aku sudah memiliki rencana—bahkan sudah tergambar jelas di pikiranku. Tapi ketika dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang harus aku mitigasi, rasa takut justru muncul lebih dulu. Aku belum mencoba, tapi sudah merasa takut. Lalu datang cemas, disusul putus asa. Pada akhirnya, aku memilih untuk menolak kesempatan itu.

Setelah kejadian itu, aku mencoba merefleksikan apa yang sebenarnya memicu perasaan-perasaan tersebut. Aku tidak menyalahkan siapa pun. Justru aku menyadari bahwa lingkungan sebenarnya bisa menjadi pendukung agar kita lebih kuat dalam bertindak.

Aku jadi teringat perkataan seorang teman, “Aku adalah aku. Emosi hanyalah milikku.”

Dari situ aku memahami bahwa perasaan yang muncul bukan untuk mengendalikan diriku sepenuhnya. Justru kehadiran mereka adalah ruang belajar—untuk mengenali, mengelola, dan memilih.

Apakah aku ingin membiarkan perasaan itu terus hadir dan menguasai?

Atau aku memilih untuk memahami apa yang kurasakan, lalu berusaha mengelolanya agar tidak berlarut-larut?

Setelah mendapatkan teguran dari orang terdekat, aku berusaha lebih cepat mengenali perasaanku dan segera mengelolanya. Aku tidak ingin rasa takut dan cemas itu terus menghantui sepanjang hari dan merusak semua aktivitas yang sudah aku rencanakan.

Tidak ada kata terlambat untuk menyadari.

Jika kita bisa mengenali lebih dini, tentu akan terasa lebih ringan. Namun jika kesadaran itu datang setelah ditegur, itu pun tidak apa-apa—yang penting, kita segera sadar dan mulai mengelolanya.