AES010 Pertanyaan diri
Dewi Sunartini
Saturday October 8 2022, 6:12 AM
AES010 Pertanyaan diri

Hari ini rasanya sedih sekali saat mendengar kata “ jangan menyalahkan kakinya, karena dia tidak salah”

Setidaknya aku harus menerima dan berserah diri dengan keadaan saat ini, keadaan yang membuat aku menyalahi sendiri, dan terus bertanya kenapa aku sulit untuk bisa pulih.

3 minggu lamanya, aku pikir ini sakit pegal yang biasa aku rasakan setelah berkegiatan di alam bebas, nampaknya otot kaki ku tidak semuda dulu, tidak mudah. Setelah mencoba memaksakan diri terus beraktifitas dengan optimisme dan harapan sepertinya akan segera sembuh, tapi ternyata tidak. Aku menyerah di minggu ketiga ini. Berpikir panjang. Jika ada yang bilang, coba tanya dan ajak ngobrol diri kamu sendiri. Sebenernya aku sering lakukan itu, bertanya bagaimana kondisi ku saat ini, dengan jujur hati aku merasa lelah. Tapi memang sepertinya aku lebih mendengarkan kata hatiku yang lain, yang mengatakan ada tugas dan tanggung jawab yang harus aku selesaikan karena keputusan yang aku ambil. Tapi aku lupa akan tanggung jawab dengan diriku sendiri. Kenapa aku lebih mendengarkan suara hatiku yang berhubungan dengan orang lain ketimbang yang hanya berkaitan dengan diriku saja ? Bukankah memikirkan diri sendiri adalah sesuatu yang mudah ?

Aku tidak mau meninggalkan tugas ku. Aku ingin berbagi ! Tapi apa yang bisa kamu bagi jika dirimu saja perlu ruang!

Atau aku tidak mau sekelilingmu menganggapmu buruk karena tidak memberi dan berbagi ?

Apa bedanya ?

Tentu beda bukan, jika tujuan kita memberi karena sayang tak peduli respon mereka akan membenci kita menganggap diri ini buruk atau tidak kita tetap mengasihi bukan ? Tapi bagaimana dengan rasa kecewanya jika kita sudah mengasihi tapi tetap dibenci? Apakah itu karena kita tetap mengharapkan imbal ? Apakah itu kasih ? Apakah menjadi pengasih itu menjadi tidak wajar jika kita kecewa ?

Aku masih bertanya, seburuk apakah aku sampai-sampai aku tidak bisa melepas rasa kecewaku, masih saja ada rasa kecewa saat aku mengasihi. Apakah aku memang mengasihi atau mengharapkan imbal ? Apakah ini berkaitan dengan ikhlas. Ikhlas itu sulit dijelaskan. Di agamaku sedikit besarnya gambaran ikhlas adalah ketika kita melakukan segala sesuatu hanya karena Allah.

Wah sungguh terkejut saat aku sedang menulis ini, semuanya berkaitan. Mungkin aku hanya perlu berserah diri dengan tidak perlu memikirkan tentang baik buruknya diri ini. Siapalah yang paling benar jika sesama anak adam bisa menilai sejauh mana keburukan kita, bukankah setiap manusia memang memiliki kekurangan ? Janganlah takut jika kita memiliki cap buruk dimata orang, jika memang sudah kita niatkan hati untuk kebaikan dan ibadah semata. Tapi jangan menutup diri, bisa jadi itu adalah pengingat yang mana mungkin kita luput dan lupa tentang kesalahan kita. Terima saja dengan keadaan yang memang harus begitu adanya. Jangan coba kendalikan hal yang tidak bisa kita kendalikan. Kita bisa atur, rencanakan dan coba perbaiki semampu kita. Ketika kata “push your to the limits” sudah tidak bekerja istirahatlah, sayangi dirimu, jangan merasa bersalah jika semuanya tidak berjalan baik, jika sekelilingmu bisa mengerti keadaanmu tanpa mempertanyakan kembali baguslah kamu. Jika banyak pertanyaan baguslah berarti kau diperhatikan.

Tau dirilah batasan mana saja yang bisa kita kendalikan atau tidak

Tau dirilah sejauh mana kamu bisa berjuang

Jangan memaksa, jika memaksa roda untuk tetap berputar jika tidak mulus pergerakannyaakan ada saat dimana menjadi rusak.

Aku tahu ini tentang tanggung jawab terhadap keputusan yang kamu ambil, tapi kamu tidak sendiri bukan ?

Meskipun hanya dirimu yang perlu kau kendalikan tapi manusia akan tetap hidup dalam kleompoknya. Tidak mungkin hidup sendiri (katanya).

Apakah manusia bisa hidup sendiri ?

Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Terima kasih ka Dewi untuk tulisan reflektifnya pagi ini. Bagus sekali kak. Semoga menjadi kebaikan. Segera pulih ka Dewi. 🙏🏼😊
Dewi Sunartini
@dewi-sunartini   4 years ago
Hatur nuhun Kak Andy