Kali ini aku mau mencoba menulis lebih baik, tulisan pertama ku ternyata membuat orang tidak nyaman, baiklah, semoga tulisan kali ini bisa membuat orang lebih nyaman. Kali ini mau bercerita perjalanan anak sulung ku pindah ke lingkungan yang lebih baik, teringat kembali waktu tes masuk sekolah dasar di salah satu sekolah swasta almamater saya dan ibunya, dulu sekolah itu menjadi percontohan keragaman dan toleransi. Pada masa aku sekolah disana, semua agama ada kelasnya masing - masing, bahkan agama Hindu yang siswanya cuma 2 anak kakak beradik pun ada kelasnya dan ada gurunya khusus. Tetapi ketika anakku lolos seleksi untuk masuk situ, sekarang sudah berubah menjadi sekolah yang isinya mayoritas muslim. Drama dimulai dari kelas 1, ketika masuk mereka bilang tidak wajib bisa baca tulis, nyatanya hanya 2 bulan pertama soal ulangan di bantu bacakan, lewat dari itu siswa harus sudah bisa baca sendiri. Kebayang kan banyak yang keteteran. Anak sulungku kebagian wali kelas eks BPK, super galak. Suatu ketika pulang sekolah dia muntah muntah, ku kira dia sakit jadi aku bawa ke RS Limijati, aku tlp kawan ku dr TK yang memang pegang Baqir dari lahir, namanya dr. Frecil. Ketika di IGD langsung di periksa dan cek darah, ternyata badannya baik baik saja, lalu disarankan untuk konsul ke psikolog yang juga kawan baik dari smp, Prita dari Dwipayana, setelah anakku ngobrol dengan nya dan cerita semuanya, dia terkena psikosomatis, kondisi anak ketakutan dan trauma karena sering di bentak bentak dan ditunjuk tunjuk gurunya dan dipindahkan meja belajarnya ke samping meja guru, artinya sudah lah di bentak di permalukan pula di depan teman temannya. Akhirnya diputuskan dia butuh terapi untuk memulihkan kondisi psikologisnya. Kami pun ngobrol dengan kepala sekolah tentang hal ini. Akhirnya wali kelasnya mau untuk berusaha berkomunikasi dengan muridnya dengan intonasi dan cara yang lebih baik. Oiya, temannya anakku ada yang tidak naik kelas di kelas 1, terbayangkan bagaimana situasi belajar dan mengajar disitu. Dikelas 2 dia dapat wali kelas yang sangat baik yang mau memberikan bimbingan lebih setelah jam sekolah usai untuk kemajuan akademis anakku, gratis, fasilitas dari sekolah. Prestasi anakku pun jauh membaik, moodnya jadi lebih baik, disayangkan perundungan mulai terjadi di fase ini. Nenek buyutnya anakku beragama Katholik, jadi kalau mendekati Natal , Baqir ceria, suka nyanyi atau sekedar humming lagu lagu natal, rupanya ada bbrp orang tua murid yang mengajarkan bahwa hal itu haram dan menjadikan dia kafir. Dia di tegur keras oleh teman temannya itu lalu di panggil KrisLam, Kafir, Monyet, dll. Dari mulai perundungan verbal mulai bereskalasi ke perundungan fisik. Beruntung aku membekali dia olah raga beladiri supaya dia bisa membela dirinya sendiri. Disini lah drama kedua dimulai, kasus demi kasus tidak dapat diselesaikan dengan baik oleh pihak sekolah dan akhirnya aku jadi bertemu dengan segmen orang tua yang jauh berbeda dengan ketika aku bersekolah disana.
Kelas 3 akademis anakku jauh lebih baik lagi tapi dia menjadi pemurung, sedih aku melihatnya. Tiap hari sudah tidak ada waktu untuk bermain dengan teman kompleknya, waktu habis untuk mengerjakan semua PR yang sehari bisa 3 sampai 4. Belum kalau ada ulangan harian dan mingguan. Ngobrollah aku dengan psikolognya dia, lalu dianjurkan untuk pindah sekolah supaya dia bisa dapat lingkungan yang lebih baik. Salah satu yang dianjurkan Prita adalah Semi Palar. Ketika masuk dalam waktu awal awal pandemi dia harus menjalani trial panjang, 6 bulan, jadi 3 bulan pertama dia bersekolah di 2 tempat, karena online jadi bisa di lakukan, sampai ketika pihak Smipa meyakinkan kami seperti Baqir bisa masuk dan cocok di Smipa. Legaaa nyaaa bukan main. Harapan positif anak kami mendapatkan pembelajaran terbaik di lingkungan yang terbaik. Dia senaaang sekali bisa mendapat teman teman dan guru yang jauh lebih ramah, baik hati dan siap membantu dia ketika dibutuhkan. Banyak sekali pembelajar yang aku dan anakku dapatkan dari Smipa, empati yang lebih mendalam, pola hidup yang lebih sustainable dan ramah lingkungan, kemandirian berkat rutin harian yang di anjurkan sekolah. Dia jadi terbiasa membereskan dan membersihkan kamarnya sendiri, mencuci alat makannya sendiri, menemukan kesukaan memasak, kesukaan meracik berbagai sambal tradisional indonesia, kesenangan dalam berkarya, kesenangan dalam belajar (ketika sekolah offline, kalau waktunya libur panjang, baru juga seminggu sudah menanyakan, kapan sekolah, hal yang tidak terjadi sebelumnya). Sekarang dia mulai minta ijin untuk membaca buku buku yang diatas usianya, tentunya mesti aku kurasi dulu apakah bacaan itu cocok atau tidak. Dia sudah berani menulis essay pertamanya. Walaupun ada kejadian kejadian tidak menyenangkan yang terjadi tapi dia berhasil menghadapinya dengan baik berkat bimbingan dan dukungan kakak kakak baik hati dari Smipa. Tentunya dia belajar untuk kecewa dan sedih serta marah dengan cara yang lebih baik di Smipa. Support system yang luar biasa dia dapatkan di Smipa sehingga dia bisa sampai seperti sekarang. Aku belajar banyak sekali darinya. Kemunculan demi kemunculan kreatifitas, ide, ucapan, dll yang sampai saat ini masih membuat ku kagum padanya. Kalo aku yang mengalami semua itu mungkin hasilnya akan jauh lebih negatif dari itu. Bangga sekali rasanya liat dia berkembang dengan baik walaupun di terjang badai berkali kali. Semoga dia bisa menjadi dirinya yang terbaik yang bermanfaat untuk agama, negara dan lingkunganya suatu saat nanti.
Demikian sedikit celoteh ku tentang anak sulungku, mohon maaf apabila ada kekurangan dalam tulisan ku, aku hanya berniat menceritakan perjalanan anak sulungku sampai ke tahap ini. Mohon maaf apabila tulisan pertama terdahulu membuat orang tidak nyaman, semoga kali ini tidak menyinggung orang lain. Salam