Di era di mana teknologi banyak menekankan inovasi dan digitalisasi dalam balutan sistem ekonomi berbasiskan akumulasi kapital tiada henti, produktivitas erat dihubungkan dengan suatu hal yang mampu menunjang keberlangsungan sistem ekonomi dan teknologi tadi. Apabila terdapat individu atau sekelompok individu yang memilih memunculkan ide atau tindakan yang di luar arus utama yang berkembang biasanya akan dilabeli dengan suatu hal yang kurang bahkan tidak produktif. Tentu pada tahap selanjutnya muncul unsur "pemaksaan" yang secara langsung dan tidak langsung, baik disadari ataupun secara halus mengkontruksi bagaimana seorang individu perlu berpikir dan bertindak. Hal ini dimungkinkan karena terkesan tidak ada pilihan atau alternatif lain yang dapat menjamin seorang individu ataupun kelompok mampu produktif dalam menjalani hidupnya.
Pada dasarnya, keinginan untuk berkontribusi yang muncul pada setiap diri individu adalah pembeda yang memisahkan suatu gagasan atau supaya upaya yang dinilai produktif atau tidak produktif. Sehingga untuk memilih berdiam dan beristirahat sejenak pun dapat dipandang sebagai suatu hal yang produktif sepanjang diarahkan pada proses kontributif yang berkesinambungan pada kehidupan. Melalui berdiam atau berisitirahat yang dipilih dengan penuh sadar adalah bentuk nyata dari individu yang berotoritas terhadap dirinya. Ia memilih untuk berdiam dan beritirahat dari kegaduhan dan hingar bingar pergolakan batin maupun lingkungan kompetitif culas. Ia memilih berdiam dan beristirahat dari upaya melanjutkan gerak kengerian dari mengeksploitasi alam tanpa kesudahan. Otoritas diri seperti ini yang menjadi dambaan bagi manusia modern yang hari-harinya berkutat dalam beragam target dan lingkup hidupnya terhimpit oleh tekanan sosial dan standar-standar nilai yang penuh transaksional.
Kekhawatir dalam menjalani proses berdiam atau berisitirahat ini perlahan menjadi tidak relevan dengan kehendak untuk berkontribusi pada kehidupan yang berkelanjutan. Seiring dengan pikiran dan tindakan yang selaras maka biasanya akan muncul "panduan" yang berasal dari suara yang 'Agung'. Suara ini yang senantiasa akan mengingatkan sebatas mana sikap diam dan berisitirahat ini terus berlanjut. Suara ini pula yang dapat mengimbangi kerisauan yang muncul saat diri mulai tergilas oleh suara-suara lain yang saling menimpali supaya tetap ajeg dan menikmati nuansa sejati dari warna kehidupan yang jernih.
Motivasi atau validasi eksternal menjadi menguap dan bukan menjadi penggerak utama bagi seorang individu dalam memunculkan ide atau tindakan untuk mampu produktif. Hal yang paling mendasar dari itu semua adalah kemampuan mengapresiasi sekecil apapun kontiribusinya pada masyarakat tanpa membuatnya menjadi kontra produktif. Seekor lalat yang dipandang merugikan pada dasarnya ia berkontribusi dalam mempercepat proses penguraian bahan organik. Setiap kali lalat hinggap di sisa makanan atau bangkai, larvanya bekerja mengurai zat organik yang sulit hancur dengan cepat. Proses ini menjaga keseimbangan lingkungan karena sampah organik tidak menumpuk terlalu lama. Selain itu, penguraian oleh lalat menghasilkan unsur hara yang memperkaya tanah dan memungkinkan hadirnya kehidupan baru. Dari sini pembelajaran lama kembali muncul untuk kembali mengaktifkan radar dalam menemukan arti "keseimbangan" yang mutlak hadir pada beragam episode kehidupan.
Nuhun kak Dwi. Ini ngacapruknya serius gini euy... mendalam juga bahasannya. 😁
Sami-sami, Kak Andy... berharap ngacapruk yang berpaedah :D