Distraksi terbaik bagi saya ketika banyak menghadapi berbagai situasi yang tidak menyenangkan adalah dengan memikirkan makanan! Haha.. sangat typical! Nah, masalahnya saya saat ini juga sedang menghadapi beberapa situasi problematik yang berkaitan dengan makanan dan sedang menjalani cara-cara pola makan yang lebih sehat. Karena makanan Indonesia itu enak-enak dan seringkali tidak bersahabat dengan kondisi kesehatan saya, maka mau tidak mau saya harus mencari alternatif.
Makanan Indonesia itu tidak lengkap jika tanpa nasi, bukan? Nah itu salah satu problem yang juga harus saya hadapi. Pengaturan porsi karbo sudah berjalan dengan baik selama 2 minggu terakhir dan saya sudah dapat melihat hasilnya. Akhir minggu ini saya akan mulai dengan opsi yang lebih sehat yaitu mengurangi lemak hewani, menambah serat, lebih mengurangi nasi tapi tanpa mengurangi kualitas kenikmatan makanan. Pilihan saya kali ini adalah dengan lebih banyak mengkonsumsi legumes.
Saya sulit menemukan padanan kata untuk legumes, mungkin mendekati kacang-kacangan atau polong-polongan karena termasuk dam kelompok Fabaceae. Contohnya yang sekarang mudah diperoleh di tanah air adalah lentils, kacang garbanzo atau chickpeas, kedelai dan sebagainya. Akhir pekan ini saya akan mengolah lentil dan mudah-mudahan dalam waktu dekat pesanan garbanzo saya tiba jadi akan semakin lengkap.
Jaman sekarang setelah belanja secara daring menjadi tren yang luar biasa, saya dapat membeli apapun dengan mudah dan tentunya biaya yang juga lebih terjangkau. Dulu untuk mencari quinoa saja sangat sulit dan seingat saya hanya ada 1 toko di Bandung yang menyediakan ini dengan harga selangit. Itupun tidak selalu ada. Saya suka quinoa karena ini bisa dijadikan pengganti nasi. Qunioa adalah sejenis biji yang jika diberi air panas akan mengembang dengan konsistensi unik mendekati beras merah. Ini sangat bergizi, memiliki kandungan protein yang baik, tidak berlemak walau masih kalah jika dibandingkan dengan lentils. Quinoa sangat praktis dan hanya makan waktu sebentar untuk disiapkan. Bisa dijadikan bahan tambahan untuk salad atau dikonsumsi sebagai pengganti nasi.
Menjaga dan merawat diri memang menurut saya adalah bagian dari ungkapan rasa syukur atas anugerah yang sudah saya terima. Cara bersyukur diungkapkan dengan upaya menjaga tubuh ini agar tetap sehat dan bugar, bukannya meng-abuse dengan memasukkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat dan kurang sehat kedalam tubuh. Nah ini maksudnya. Saya masih punya waktu untuk melakukan ini, mudah-mudahan masih panjang hahaha..
Eniwei, kembali ke legumes. Proyek saya mulai akhir pekan ini adalah bereksperimen dengan legumes. Saya beberapa puluh tahun lalu pernah makan siang disebuah kedai dekat kampus di rantau. Penampilannya sangat tidak menarik tapi saya tahu itu sangat sehat. Yang saya ingat, makanan itu adalah semacam stew (setup?) yang agak kental dengan bahan seperti labu kuning, lentils, kentang, mungkin ubi dan beberapa bahan lainnya. Saya sangat menyukai ini hanya saja terus terang saya tidak ingat rasanya. Jadi besok saya akan mencoba mengarang!
Di rumah saya sudah ada lentils dan ubi. Nah rencana saya nanti akan membuat stew menggunakan ubi, lentil, wortel, kacang merah dan sayuran hijau. Saya belum tahu apa, tapi di dekat halaman rumah banyak daun pepaya Belanda yang konon memiliki nutrisi yang baik, sehat dan yang jelas saya tinggal petik tanpa harus mengeluarkan biaya. Anggap saja sebagai pengganti kale.
foto credit: veggiefunkitcken.com