Sambil mengayuhkan tangan secara bergantian jauh ke depan sambil menggerakan kaki dengan ritme yang teratur, saya menghitung sudah berapa laps yang sudah dilakukan. Kolam renang begitu senyap, hanya bunyi cipratan air dari beberapa jalur yang digunakan oleh orang-orang yang sama yang selalu saya jumpai di pagi hari ketika berada di kolam renang. Kebanyakan memang orangnya itu-itu saja.
Semalam, untuk pertama kalinya saya mendapat kesempatan membaca sebuah esai yang Kano tulis. Esai itu sebagai bentuk persyaratan untuk melamar ke universitas. Kano sedang berlatih dan ketika membaca, saya begitu terpukau. Saya tidak pernah tahu bahwa dia pandai menulis. Setahu saya pelajaran bahasa Inggris bukan topik yang dia sukai. Dia benci literatur, dia benci puisi! Tapi cara dia menulis buat saya begitu mengagumkan apalagi dalam bahasa Inggris. Saya sendiri tidak akan mampu menulis sebaik itu. Maklumlah karena bahasa Inggris buat saya bukan bahasa ibu, itu adalah bahasa ke-3 yang saya pelajari di sekolah hingga universitas. Setelah selesai universitas saja bahasa Inggris saya masih pabaliut, baru sesudah saya menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari selama bertahun-tahun, bahasa saya jadi agak mendingan. Beda dengan Kano yang justru bahasa Indonesia adalah bahasa yang dia pelajari, bahasa Inggris adalah bahasa pertama dia.
"Hey, I was thinking if you allow me, I am willing to publish your essay. It's very good!" Kata saya.
"No, I don't think so, dad! I do not want they think that I do plagiarism if my essay is published and go to internet before I turn it in for my application."
"Make sense! But you know, I think you have a talent. I like the way you write."
"Yea, I don't know. I haven't considered anything about writing." Katanya.
Saya terus mengayuh tangan bergantian, berbalik ketika sudah berada di ujung. Ternyata berenang bisa juga jadi saat untuk merenung. Saya sampai lupa sudah berapa kayuhan dan sudah berapa kali bolak-balik. Pagi hari memang kolam renang banyak dipergunakan oleh orang-orang yang sangat rajin berolahraga. Tidak ada suara orang ngobrol atau tertawa, semua hanya bunyi cipratan air. Selebihnya hanya keheningan dan kedamaian.
Tadinya saya pikir bahwa saya tahu hampir segala sesuatu tentang si gondrong! Ternyata semalam saya begitu terkejut ketika dia meminta pendapat tentang tulisannya. "What do you think about this, dad?" Tanyanya. Saya membaca dari awal hingga akhir dan tulisannya itu jadi bahan permenungan hingga saya tertidur.
Saya jadi ingat essay yang saya baca di AES tentang apa yang sedang dihadapi para remaja dari tulisan-tulisannya. Waktu itu saya berharap akan bisa mendorong Kano untuk ikut serta menulis hanya agar saya bisa ikut mengetahui apa yang dia hadapi dalam hidupnya. Ngobrol saja kadang tidak cukup, seperti yang saya ungkapkan bahwa ada boundary, batasan dalam interaksi verbal. Saya bisa jauh lebih mendalami pikiran dan ekspresi perasaan seseorang dalam tulisannya yang jujur. Dan itu membuka mata saya semalam. Seolah-olah memasuki sebuah lorong yang belum pernah saya lalui. Sesuatu yang baru dan sangat menarik untuk ditelusuri. Mudah-mudahan saja saya diberi kesempatan lain untuk membaca tulisan-tulisannya. Tapi sebelumnya memang dia harus menambah ketertariknnya dalam menulis.
Jam tangan saya bergetar, itu tanda berenang sudah harus diakhiri dan harus segera mandi karena saya harus sudah berada di tempat kerja dalam waktu 25 menit lagi. Sambil keluar dari kolam dan pergi ke shower, pikiran saya masih terus berlanjut. Banyak hal yang saya tidak ketahui tentang anak ini. Ini temuan yang sangat menarik, bukan karena keingintahuan dan rewel, tapi ini upaya untuk mengenal dia secara lebih baik. Saya tidak perlu tahu semuanya, saya hanya ingin mengenal pribadinya yang sekarang sudah semakin berubah menuju kemandirian dan kedewasaan. Ini selangkah maju kedalam sebuah misteri baru.***