“Tumben jam setengah enam udah makan malam,” ujar sosok yang secara biologis tercatat sebagai pencipta anak ini. “Bosen. Yang penting rahangnya nggak kaku,” jawab si anak. Ia lalu mengganti baju dan memakai sepatu yang seharusnya sudah dicuci sejak minggu lalu.
Pada hari Minggu, minggu lalu, linggu malu, aku memilih untuk mengakhiri jeda dua hari (atau bahasa kerennya libur) dengan lari dari rumah sampai ke daerah Smipa (lebih tepatnya melarikan diri dari pajak rumah). Udara saat itu untungnya tidak terlalu buruk. Walau tidak sebersih tabung oksigen, setidaknya tidak ada kejadian sesak napas setelah melakukan pelarian dari pajak negara itu.
Di tengah perjalanan yang sudah terasa seperti rute dari ruang tamu ke dapur, yaitu dari rumah ke Smipa, tiba-tiba muncul fenomena yang cukup mistis. Bahkan Baba Vanga dan Mamah Dedeh tidak bisa memprediksi. Sebuah langit dengan warna selain biru yang membosankan muncul di Sukamulya. Ini pertama kalinya setelah dua belas tahun melewati jalan yang sama, aku benar-benar menyadari ada keindahan alam di daerah ini. Sebenarnya bukan soal warna langitnya, tetapi di mana fenomena itu muncul. Di tempat yang selama ini terasa biasa saja.
Melewati daerah tersebut sebenarnya ya udah cetek lah. Tapi warna langit saat itu mengingatkan kembali ke masa Smipa. Mungkin karena aku selalu mempertanyakan mengapa Semi Palar mewakili warna biru dan jingga sebagai salah satu ciri khasnya? Pertanyaan sepele, tapi nyangkut di otak sampai ngutangnya lebih besar dari utang aku ke Co-op. Aku berhenti lari sejenak dan mengagumi langit itu selama beberapa menit. Sayangnya, foto diatas kurang menjamin keindahan sebenarnya yang telah disaksikan oleh anak lulusan sekolah ini.
Pagi hari biasanya dimulai dengan kilau matahari jingga yang ditemani birunya langit. Siang hari, yang tersisa hanya birunya saja, atau berubah keabu-abuan kalau hujan datang tanpa izin. Menjelang sore, ketenangan mulai menyentuh dan warna jingga muncul kembali, kadang bersama biru, kadang sendirian. Malam hari, walaupun kedua warna itu tidak ada, kesepian yang tersisa masih ditemani bintang-bintang yang cahayanya baru saja sampai ke mata kita setelah menempuh perjalanan besarnya mereka. Mungkin memang biru dan jingga tidak selalu ada. Tidak selalu bersamaan. Tidak selalu hadir seperti wi-fi rumah, atau secepat drive thru McDonald’s. Tapi aku yakin. Biru dan jingga masing-masing akan tiba di waktu yang tepat. Langka, susah, dan gak selalu bisa ditebak. Mungkin memang alam yang sedang mengocok dadunya.
Yang awalnya cuma mau lari untuk menikmati udara segar, malah jadi kepikiran tentang warna yang selalu mencolok dan bahkan menjadi bagian dari arsitektur Smipa. Mungkin dua warna itu bisa dimaknai sebagai tragedi, bisa juga komedi. Biru dan jingga memang kombinasi yang indah dan kontras, dan alam pun seolah setuju dengan hal itu. Tapi keindahan tidak selalu mudah ditemukan, sama seperti saat menatap langit. Terkadang hanya satu warna yang muncul, terkadang gelap, terkadang tidak ada apa-apa. Namun setidaknya, masih ada bintang yang menemani.
Memang sulit menemukan biru dan jingga. Kadang terpikir bahwa kedua warna itu menyimpan makna yang sama dengan senja, indah, tapi tidak pernah dimaksudkan untuk berlangsung selamanya. Barangkali begitu juga masa kita di Smipa.
Whoaa. Eijaz. Apa kabar? Terima kasih sudah mampir di sini. Pecah telor ya. Tulisannya juga asik... Makasih-makasih ditunggu tulisan berikutnya 🙏🏼😊