Saya kenal orang bernama Stanley. Stanley adalah seorang pekerja kantoran biasa, bekerja sebagai akuntan. Stanley sebenarnya tidak terlalu meminati pekerjaannya, namun dia takut jika dia berhenti bekerja sebagai akuntan, dia akan menyesalinya karena dia akan kehilangan gaji yang cukup besar untuk karyawan sepertia dia dan tidak akan mendapatkan pekerjaan seperti ini lagi. Stanley membeci pekerjaannya karena dia tidak kompeten di bidang tersebut (Deformasi Profesional). Pada waktu itu juga, dia mendapatkan atasannya mencaci dan mengancam untuk memecatnya jika dia telat mengerjakan laporan akuntansi mingguan perusahaan (Argumentum ad Baculum). Stanley sering mengeluh dirumah kenapa dia mengalami nasib ini sebagai akuntan (Self-selection) dan dia merasa bahwa tidak ada solusi lain dari permasalahan ini; dia merasa hanya bisa memilih antara melanjutkan kerja menyakitkan sebagai akuntan untuk gaji atau mengundurkan diri (False Dilemma). Kebetulan di perusahaan Stanley bekerja, Stanley memiliki satu teman. Teman tersebut berusaha juga untuk meyakinkan atasannya Stanley bahwa Stanley adalah aset berharga dari perusahaan. Jika Stanley dipecat, maka perusahaannyalah yang akan rugi (Argumentum ad Ignoratiam). Pada 14 Oktober 2010, Stanley sudah muak dengan semua ini. Stanley menggunakan elevator yang akan mengantarnya langsung ke lantai dimana bossnya biasa bekerja. Stanley sudah memiliki rencana, dia akan membicarakan dulu tentang gajinya, lalu dia akan bicara tentang keputusan dia apakah Stanley akan keluar dari perusahaan atau tetap bekerja disana (Planning Fallacy). Sesaat dia sampai diatas, dia melihat bahwa bossnya sedang tidak ada disana. Karena Stanley tidak ingin kembali bekerja dibawah sambil menunggu bossnya dan secara keseluruhan lebih produktif, maka dari itu dia hanya akan menunggu di ruangan bossnya (Prokrastinasi). Setelah satu jam setengah berlalu, bossnya pun memasuki ruangan kerjanya. Stanley sangat terintimidasi dengan penampilan fisik bossnya; kekar, tinggi, dan memiliki kumis yang kamu pasti pernah lihat di film-film Western. Stanley hanya bisa meminta permohonan bahwa dia tidak mau dikeluarkan dari perusahaan karena dia kurang kompeten pada bidangnya (Argumentum ad Misericordia). Ternyata bossnya tidak begitu pemarah meskipun terlihat rada mengintimidasi dari penampilannya saja (Bias Asosiasi). Bossnya menanyakan, "Apa yang terjadi?" Stanley pun menjelaskan semuanya tentang situasi dia dengan atasannya. Sang boss pun mengekspresikan bahwa dia juga mengerti bahwa Stanley itu sedang berada di situasi yang tidak nyaman. Bossnya pun bilang, "Apakah kamu mengerti dari semua ini? Apakah kamu betul-betul percaya bahwa kamu itu nyata?" Stanley pun tidak mengerti apa yang bossnya bicarakan. Bossnya menjelaskan kembali, "Apakah kamu percaya bahwa orang bernama Stanley itu nyata dikarenakan penulisnya bilang bahwa dia kenal dengan orang bernama Stanley? Dan diakhirnya akan ada pembelajaran moral tentang segala Logical Fallacy ini? Tidak, ini bukanlah cerita yang seperti itu." Dalam sekejap, semuanya berubah menjadi hitam, bak sebuah purgatory.
Sedikit note: Mungkin ada makna yang bisa kita ambil dari tulisan ini. Filosofi dari logika rasional dan bagaimana cara penggunaannya itu bukan sesuatu yang semua orang dapat pahami, dan pemakaian logical fallacy akan selalu terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Tapi kita harus bertanya juga kepada diri kita, apa yang akan selanjutnya kita lakukan setelah memahami hal ini? Menerapkannya dikeseharian? Melawan logical fallacy orang-orang dengan langsung memberitahu bahwa aksi mereka salah? Apakah logika fallacy itu selalu salah? Itu semua adalah pilihan-pilihan yang akan kita pilih dan tanggung jawabkan setelah mengetahui pengetahuan seperti ini.