AES018 Menerima Kehilangan
Mega
Tuesday January 18 2022, 9:25 PM
AES018 Menerima Kehilangan

Beberapa minggu lalu hamster kesayangan si sulung meninggal karena suatu ketidaksengajaan. Sedih, tentu saja, apalagi bagi anak-anak yang telah memeliharanya sejak berusia satu bulan sampai ia meninggal di usia hampir 16 bulan. Berbeda dengan saat ikan peliharaan mereka meninggal, kematian si hamster menorehkan perasaan kehilangan yang amat sangat bagi keduanya. 

Hamster itu dibeli dengan uang saku si sulung atas permintaannya, dengan catatan ia harus merawatnya sendiri. Sebelum membeli hamster, ia 'berkonsultasi' dulu pada seorang teman yang sudah lebih dulu memelihara hamster tentang ukuran kandang yang sesuai, serta mencari banyak informasi perawatan hamster di internet. Binatang menggemaskan itu pernah hampir meninggal di minggu-minggu awal kehadirannya karena tersedak biji jagung, namun berhasil diselamatkan si sulung. Beberapa kali juga ia sakit dan si sulung merawatnya hingga sembuh. Sedangkan si bungsu senang sekali mengajaknya bermain dan mengajarinya naik-turun halang rintang. Dan, karena akhirnya kami memelihara beberapa ekor hamster, ia pun bercita-cita menjadi seorang pelatih hamster.

Malam itu kami menguburkannya di halaman depan rumah. Anak-anak terus menangis sampai mereka tidur. Dan esok paginya si bungsu langsung menangis begitu bangun tidur karena teringat hamster kesayangan, sementara si sulung sudah bisa menerima kehilangannya meskipun masih bersedih. Kesedihan si bungsu masih berlanjut di meja makan saat ia tiba-tiba menangis sambil menyantap makan siangnya. Banyak pertanyaan yang diajukannya, seperti 'apakah si hamster sudah menjadi malaikat?'; 'apakah memang sudah waktunya Tuhan memanggil si hamster, meskipun kecelakaan itu tidak terjadi?'; 'apakah sebenarnya si hamster masih berada di kandangnya tapi tidak terlihat?' 

Sorenya kami membuat nisan untuk hamster kesayangan, sebagai pengingat dan ungkapan rasa sayang. Anak-anak menaburkan beberapa kuntum bunga kamboja yang luruh di atas makam. 

Malam itu, aku melihat buku berjudul 'Kamu Boleh Sedih' tergeletak di meja. Seperti kebetulan yang disengaja. Jadilah buku itu pengantar tidur untuk si bungsu. Buku terbitan Kanisius itu berisi panduan self-help bagi anak-anak yang kehilangan orang terdekat. Rasanya memang pas dibacakan untuk si bungsu pada saat-saat seperti itu.

Dan, esok harinya anak-anak sudah lebih bisa menerima kepergian hamster kesayangan mereka dengan rela. Si bungsu tidak lagi menangis walaupun masih sedih, akunya. "Nici (nama si hamster) pasti maafin aku kan? Dia sudah bahagia di surga. Kemarin di buku itu dibilang begitu," katanya. Ya ya ya... Dia pasti sudah bahagia di tempat barunya, Kay, karena dia tahu kita sangat menyayanginya. 😇🤗