Sejak beberapa waktu lalu, ada sedikit perubahan di ruas jalan yang kerap kulewati hampir setiap hari. Marka jalan ini terhitung baru hitungan bulan, lajurnya berubah dengan tambahan 1 lajur sepeda. Meski tetap 3 lajur, namun dengan tambahan satu lajur khusus, praktis seharusnya lajur untuk kendaraan hanya terbagi menjadi dua.
Ntah bagaimana mulanya, satu waktu aku mulai tersadar dengan kendaran yang semrawut, 1 lajur itu seringkali diisi dengan dua baris kendaraan. Paling ngga, aku menemukan ada kendaran linglung mau berada di lajur yang mana. Berujung barisnya jadi 'berantakan' -dimataku. Ala kulli hal memang seperti itu kondisi setiap harinya. Tapi pernah, biidznillah, rapih dan sesuai dengan marka jalan. Aku senang, gak memungkiri kalau aku teh ternyata masih suka getek liat sesuatu yang gak teratur. Dalam hati, aku bilang, monmaap, mataku terganggu.
Kejadian ini sebetulnya ngingetin aku sama sebuah film dokumenter yang pernah kutonton. Tapi jangan tanya judulnya, ini udah lama banget, waktu aku masih suka nontonin segala macem. Singkat cerita, film tersebut mengangkat satu kecenderungan, yaitu bahwa manusia jika mendapati dua pilihan jawaban, hanya sedikit orang yang bertahan dengan pilihannya. Terlepas benar dan salah, mereka akan cenderung mengikuti kelompok dengan jumlah terbanyak. Fenomena yang menarik sebetulnya, karena bisa saja seseorang telah memilih jawaban yang benar, namun karena ia melihat kelompok yang lebih besar memilih hal berbeda dengannya, tanpa meragu ia rela pindah kelompok.
Lebih spesifiknya, dalam film itu dijelaskan seolah otak manusia ini lebih nyaman jika berada dalam komunitas yang besar. Hanya segelintir saja yang 'mau' bertahan dengan perbedaan itu. Dan keberadaan manusia-manusia yang berani beda ini, menurutku justru luar biasa. Menunjukkan seberapa besar keteguhan di dalam dirinya. Alih-alih membandingkan, lagi-lagi terlepas benar dan salah, aku kembali merasa perlu mempertanyakan bagaimana hatinya bisa dimantapkan dalam memilih, menyortir, serta mempertimbangkan.
Maka, ketika aku tarik kembali pada situasi yang hampir setiap hari kualami ini, tak lagi perlu merasa heran. Terjadi dan teralami sendiri, bagaimana ketika sesuatu telah 'dipelopori' kemudian memiliki sekian 'pengikut', bisa ditebak segala yang gak wajar kemudian tinggal menunggu waktu untuk berubah status menjadi wajar.
Pertanyaannya, ketika hal seperti itu terjadi, masih berlakukah sebuah kebenaran? Ya, tentu. Ketika kita terus berpegang pada kebenaranNya. Dimana semua keteraturan berada dalam aturanNya. Malam tidak pernah mendahului siang, pun begitu dengan matahari yang tidak mungkin mengejar bulan. Maka ketika semua berada pada garis edarnya, kita tahu betul kebenaran itu hanya dapat disandarkan kepada siapa?
Eh, kok jadi kemana-mana, nih. Hihi.. Sebetulnya, aku berharap, semoga keruwetan ini sedikit demi sedikit bisa terurai. Gak hanya di titik ini, tapi juga dalam banyak hal. Atau setidaknya, ada kesadaran minimal untuk taat sama pemimpin selama aturannya tidak bertentangan dengan kelima sila yang istimewa itu. Heup ah, kita cukupkan saja dulu. Sementara ini cukup dinikmati saja alur yang ada.