Suara adzan menggema, waktunya shalat dzuhur. Ayah saya keluar dari kamarnya. "Listrik mati, Jo." Katanya. Tubuh renta dan kurus itu berjalan perlahan-lahan dengan sebuah alat bantu. Bekas-bekas kejayaannya sudah lenyap, tinggal kulit keriput membungkus tulang. Ada rasa haru menguasai lubuk hati yang terdalam. Tanpa sosok yang sekarang lemah ini, saya tidak akan pernah ada di dunia.
Hari ini saya menemai beliau. Sekarang harus selalu ada yang menemani sebab sering terjatuh, dan harus ada yang membantu beliau bangkit jika terjatuh. Usianya sudah 90 tahun.
"Give me 10 more years. I want to go with dignity." Kata sahabat saya beberapa hari yang lalu ketika kami bertemu dan melakukan perjalanan bersama ke rumah sakit karena ada putri seorang sahabat kami yang lain yang harus menjalani operasi.
Kami memang sedang membahas masa tua. Ngobrol tentang rumah jompo seharga 30 juta sebulan, 7,5 juta di Bali dan ada yang sekitar 5 juta di Lampung. Saya menggeleng-gelengkan kepala. Siapa yang akan mampu membiayai diri sendiri di masa tua jika sistemnya seperti ini. Berapa lama saya akan mampu bertahan menghabiskan masa tua dengan biaya tinggi seperti itu?
"Kita bekerja keras seumur hidup. Menabung untuk masa tua. Jika sebulan 5 juta, berapa lama kita akan mampu bertahan hingga dana pensiun kita ludes?" Kata saya
"Mangkanya, 10 tahun sepertinya cukup. Aku mau pergi sebelum tergantung pada pertolongan orang lain. Like I said, I want to go with dignity." Katanya.
"If I could choose, I also want to go in style." Jawab saya.
10 tahun untuk dia, artinya hanya 1 tahun tersisa untuk saya, karena saya lebih tua hampir 9 tahun. Apakah saya sudah siap? Saya lalu mulai membayangkan berjalan tertatih-tatih. Persis seperti yang barusan saya lihat ketika ayah saya berjalan perlahan-lahan kembali masuk ke kamarnya. Kalau saya diijinkan untuk memilih, persis seperti yang dikatakan sahabat saya tadi. Ingin pergi ketika belum membutuhkan pertolongan orang lain. Saya tidak ingin orang lain memandang saya dengan rasa haru karena sari-sari kehidupan, kejayaan dan kemampuan sudah meninggalkan tubuh. Pertama saya tidak suka menjadi beban orang lain. Kedua, independensi adalah keharusan bagi saya. Ketergantungan itu merupakan belenggu. Tapi hidup selalu merupakan misteri, kita tidak pernah tahu bagaimana awal kita dimulai dan tidak akan pernah tahu pula kapan akan berakhir.
Fptp credit: ac-illust.com