AES0016: Hujan Pembawa Akhir, Badai ke-1307
Farzan
Friday November 15 2024, 10:09 AM

Hujan turun dari angkasa, dan itu adalah hujan pembawa akhir.

Si Putri dan Kapten bernyanyi di pelabuhan, suara mereka jernih tanpa beban; lebih ringan dibandingkan angin laut. Itu suara yang penuh harapan. Kau bisa mendengarnya di tawa si Putri yang menendangi genangan lumpur dan si Kapten yang melepaskan kapal-kapal mainan ke parit. Kau bisa mendengarnya bergetar di kapal tua yang diperbaiki, di prajurit berkaki palsu, di perisai gompal dan pedang tumpul.

Mereka tidak terganggu oleh akhir yang akan datang. Karena apalah akhir, kalau bukan perayaan atas kekuatan dan ketegaran? Masih ada kehidupan. Masih ada musik dan teh Jire dan tawa di hari esok, karena mereka bisa bertahan.

-

Hujan turun dari angkasa, dan itu adalah hujan pembawa akhir. 

Si Pencuri bersembunyi jauh di bawah tanah; dan si Hakim di atas menaranya yang tinggi. Bahkan sekarang, si Pencuri sudah merumuskan plotnya yang berikutnya, dan si Hakim berpikir untuk mencegahnya. Kendati terpisah jarak, mereka berdua sama-sama memutuskan kalau sesuatu seremeh hujan tidak akan menghentikan hiruk-pikuk perselisihan mereka.

Badai bergemuruh di atas kepala mereka, deras sekali. Di bawah basuhannya, waktu berhenti selama sesaat. Tapi baik si Pencuri maupun Hakim terlalu keras-kepala untuk beristirahat; karena beristirahat berarti berhenti untuk berpikir; dan mereka yang banyak berpikir acap kali mendapati tekad mereka goyah.

Mereka tidak terganggu akan akhir yang akan datang. Karena apalah artinya akhir? Esok, hari ini, kemarin; semua sama saja. Pikiran mereka terlalu terpaku pada perseteruan mereka; dan tak akan ada yang mengalah untuk mengenang keberhasilan dan kegagalan mereka tahun itu.

-

Hujan turun dari angkasa, dan itulah hujan pembawa akhir.

Sang Raja duduk di takhtanya, jauh di atas. Dia dilindungi benteng tertinggi, di tempat bahkan hujan tak bisa menyentuhnya. Dia dikelilingi oleh para Pelantun terbaik, mereka yang diberkati Suara Vakra sendiri. Tapi dia menarik setiap nafas dengan ketakutan, dan matanya mendelik ke setiap sudut dengan khawatir. Ruang takhta itu sudah dikuasai kesunyian. Biasanya, kesunyian datang membawa ketenangan dan perlindungan dari gelisah. Tapi tak ada ketenangan di keheningan ini. Di mana seharusnya ada lagu dan kehidupan, yang ada hanyalah nafas-nafas terakhir dari raksasa yang telah tumbang. 

Kau bisa mendengarnya berdengung dan merayap, menggerogoti setiap detik yang berlalu di sana. Kau bisa mendengarnya di rintihan lentera yang akan mati dan tumpukan kertas yang bersebaran tak tersentuh di meja. Kau bisa mendengarnya di gumaman beberapa orang yang dengan keras kepala mencoba tidak membahas kabar-kabar suram yang mengepung tahun itu, punggung mereka bungkuk dari beban mengetahui banyak hal. Hujan datang, dan dengannya, akhir. Dan tak ada yang lebih mengerikan dibanding akhir, karena tak ada yang tahu apa lagi yang menanti setelahnya.

Selamat tahun baru.

You May Also Like