Hari itu adalah hari yang baik.
Saat Malez tua membuka pintu hari itu, dia dikejutkan dengan keberadaan bingkisan, menanti di depan pintunya. Utuh, tidak kekurangan apapun, kendati berbau garam. Itu kabar yang baik di hari yang baik; terutama dengan banyaknya kapal yang datang terlambat akhir-akhir ini lantaran para perompak yang merajarela.
Malez menenteng bingkisan itu, membuka pintu dan memasuki rumah. Deretan tanaman menyambutnya. Lorongnya dilengkapi deretan daun, melambai dan mengangguk. Beberapa berbentuk seperti payung dan hati, lainnya melingkari tonggak dari tembaga. Seketika, bernafas terasa lebih mudah.
Malez tersenyum saat melihat mereka. Para tanamannya adalah temannya. Berada di antara ratusan daun, semua hidup dan indah; mereka memberikan kedamaian, bahkan di masa-masa sulit seperti ini.
Hari ini adalah hari yang baik.
Senyum Malez semakin lebar lagi saat dia menghirup aroma ikan bakar- hadiah dari saudaranya. Dia selalu makan ransum bantuan sejak perang dimulai, dan roti yang lembek mulai membuat lidahnya mati rasa. Sudah waktunya dia mencicipi makanan sungguhan.
Dia memotong ikan itu dan menggigitnya. Rasanya renyah, dan sedikit asin, dan siripnya… Ah, siripnya! Dia sudah lupa bagaimana rasanya saat gurih dan pedas meletup di lidah, saat dia merasa kenyang karena makanan enak.
Hari ini adalah hari yang baik.
Dengan hati gembira, dia meraih bingkisan yang tadi dia bawa dari luar, menyiapkan pot dan pupuk. Tangannya kotor dan dia merasakan kepuasan dari melakukan pekerjaan. Dia membuka bingkisan itu, melihat benih bunga yang tergeletak di dalam. Dia membenamkan semuanya ke dalam pot, lalu menaruhnya ke pot.
Hari ini adalah hari yang baik.
Hari itu adalah hari yang baik.
Saat Malez tua membuka pintu hari itu, dia dikejutkan dengan keberadaan bingkisan, menanti di depan pintunya. Utuh, tidak kekurangan apapun, kendati berbau garam. Itu kabar yang baik di hari yang baik; terutama dengan banyaknya kapal yang datang terlambat akhir-akhir ini lantaran para perompak yang merajarela.
Malez menenteng bingkisan itu, membuka pintu dan memasuki rumah. Deretan tanaman menyambutnya. Lorongnya dilengkapi deretan daun, melambai dan mengangguk. Beberapa berbentuk seperti payung dan hati, lainnya melingkari tonggak dari tembaga. Seketika, bernafas terasa lebih mudah.
Malez tersenyum saat melihat mereka. Para tanamannya adalah temannya. Berada di antara ratusan daun, semua hidup dan indah; mereka memberikan kedamaian, bahkan di masa-masa sulit seperti ini.
Hari ini adalah hari yang baik.
Senyum Malez semakin lebar lagi saat dia menghirup aroma ikan bakar- hadiah dari saudaranya. Dia selalu makan ransum bantuan sejak perang dimulai, dan roti yang lembek mulai membuat lidahnya mati rasa. Sudah waktunya dia mencicipi makanan sungguhan.
Dia memotong ikan itu dan menggigitnya. Rasanya renyah, dan sedikit asin, dan siripnya… Ah, siripnya! Dia sudah lupa bagaimana rasanya saat gurih dan pedas meletup di lidah, saat dia merasa kenyang karena makanan enak.
Hari ini adalah hari yang baik.
Dengan hati gembira, dia meraih bingkisan yang tadi dia bawa dari luar, menyiapkan pot dan pupuk. Tangannya kotor dan dia merasakan kepuasan dari melakukan pekerjaan. Dia membuka bingkisan itu, melihat benih bunga yang tergeletak di dalam. Dia membenamkan semuanya ke dalam pot, lalu menaruhnya ke pot.
Hari ini adalah hari yang baik.