Halo semua! Wah, sudah berbulan-bulan sejak aku terakhir kali menulis di sini. Kalian mungkin bertanya-tanya (iya deh Zan): apa gerangan yang bisa mendorong aku untuk menulis di sini?
FOMO. Jawabannya FOMO.
Aku memutuskan untuk ikut-ikutan menulis setelah melihat tulisan Carlos, yang terinspirasi oleh tulisan Tatha (dan semoga akan ada yang mau ikut-ikutan menulis setelah melihat tulisanku, ya- kita bisa membuat rantai tulisan berderet kalau cukup banyak orang yang berpartisipasi). Mereka berdua memberikan kritik pedas tentang kondisi pemerintah dan negara tercinta kita yang sedang amburadul.
Aku setuju dengan pendapat mereka dan merasakan hal yang sama dengan mereka. Tapi, di tulisan ini, aku tidak akan melakukan hal yang sama dengan mereka- aku sudah terlalu lelah untuk memikirkan kritik. Yang ingin kulakukan di sini adalah menanyakan satu hal: setelah semua ini, untuk apa kita masih berpegang pada harapan?
-
Tahun ini, suasana menjelang ulang tahun delapan dekade negeri kita terasa seperti parodi tahun-tahun sebelumnya- sebuah relik dari waktu di mana harapan masihlah bersemayam di hati orang-orang. Sulit untuk merasa optimis dengan kondisi negeri seperti ini.
Semenjak peralihan presiden, dan mungkin jauh sebelum itu, negeri ini terus jatuh dan jatuh- dan tak kunjung nampak tanda-tanda akan bangkit untuk menjadi lebih baik. Kebebasan rakyat kian dipersempit oleh kebijakan yang entahlah memenuhi kepentingan siapa, aparat yang seharusnya menjaga ketertiban semakin tak dipercayai warga, panggung politik yang malah berubah menjadi pertunjukan komedi... Semua kacau. Seakan seorang dewa telah mengutuk negara kita dengan badai abadi, dan kita harus serabutan mencari pegangan sejak saat itu.
Jadi, untuk apa berharap?
Orang-orang mungkin bermimpi akan adanya reformasi di masa yang akan datang. Saat sistem pemerintahan yang seharusnya mengayomi mulai membelenggu rakyatnya sendiri, sudah waktunya sistem itu dibakar dan kita membangun sesuatu yang baru. Pada akhirnya, rakyat akan muak. Pada akhirnya, kita akan bebas. Tinggal tunggu waktu saja. Dari situ, mungkin kita bisa berharap.
Masalahnya, sejarah sudah mengajarkan kalau kita tak kunjung belajar dari kesalahan diktator lama. Negara kita dibangun di atas reformasi setelah kita merebut tahta dari seorang jenderal, yang merebutnya dari sang bapak pendiri negeri, yang merebutnya dari tangan pemerintah kolonial, yang merebutnya dari kerajaan tua yang tak pernah berhenti berselisih satu sama lain. Revolusi tidak membawa perubahan bagi masyarakat, hanya mengubah muka orang yang duduk di singgasana.
Jadi, untuk apa berharap?
Mungkin kita memang ditakdirkan untuk menjadi bangsa yang terbelakang. Mungkin para revolusioner hanyalah kumpulan oportunis, orang-orang congkak yang menyangka mereka bisa mengubah dunia lantaran mereka punya lidah yang lebih tajam dan senapan yang lebih banyak dibandingkan pendahulu mereka. Mungkin memang semestinya negara ini dijajah saudara dan diperintah tiran. Mungkin memang takdir negara ini untuk selalu kalah. Untuk tunduk.
Tapi tak mengapa, toh dunia ini lebih dari sekedar tanah-air dan bendera merah-putih. Lepas landas, mengubah kewarganegaraan; kita bisa membangun hidup baru jauh dari bayang-bayang rezim negeri dan pejabat yang tak kompeten. Dari situ, kita bisa berharap untuk diri sendiri.
Tapi, tak semua orang bisa begitu, bukan? Bagaimana dengan mereka yang tidak mampu, atau tidak mau meninggalkan bumi pertiwi mereka sendiri? Apakah itu cinta atau kebodohan, hati orang siapa yang tahu. Tapi pantaskah kita menelantarkan mereka tergenang dalam keburukan negeri? Memangnya mereka yang tak mampu, tak berhak untuk bebas dari rantai diktator?
Hidup ini adalah badai yang tak peduli, dan semua manusia hanyalah semut yang terlempar mencari pegangan. Sejak awalnya, sejak makhluk bersel satu saling lahap untuk pertama kali, hidup harus membunuh untuk bisa bertahan. Pada akhirnya, kita hanya perlu peduli untuk diri kita sendiri- perlu peduli tentang bagaimana kita bisa bertahan dari badai yang menerjang untuk satu hari lagi; sebelum kita akhirnya disapu oleh angin waktu dan dilamun kehampaan.
Jadi, untuk apa berharap? Jika tangan kita tak berdaya untuk merubah nasib dan usaha kita tak berarti, untuk apa berharap? Kenapa menyakiti hati dengan angan yang takkan tersampai saat satu-satunya yang berarti adalah bertahan hidup? Harapan hanya membuat orang-orang mencoba melakukan hal yang biasanya takkan mereka lakukan.
Tapi... Bukankah itu hal yang bagus? Untuk tidak pernah puas dengan dunia kita saat ini dan selalu bertekad untuk mengubahnya jadi lebih baik?
Ratusan tahun lalu, tak terhitung pemuda-pemudi yang bermimpi untuk lepas dari belenggu penjajahan. Sekarang, negara kita mungkin carut marut dan berantakan, tapi itu negara kita. Dan walaupun jalannya penuh darah dan onak duri, kita sudah berjalan sendiri selama delapan puluh tahun.
Mungkin hidup kita singkat dan suara kita tak berarti. Pada akhirnya, tak peduli seberapa cepat kita berlari, kematian akan selalu menyusul kita. Tapi aku ingin, saat aku sampai di garis akhirnya, aku bisa melihat ke belakang tanpa menyesal karena tindakan yang tak diambil dan yakin bahwa aku telah melakukan yang terbaik.
Jika hidup kita begitu singkat dan suara kita lirih ditelan riuhnya suara negara yang tak terbantahkan, aku ingin menggunakannya untuk berteriak selantang mungkin ke tengah badai. Mungkin, suara kita akan digemakan oleh angin waktu, jauh setelah kita pergi dari dunia ini. Dan mungkin, seseorang di luar sana akan mendengarnya, dan tahu mereka tak sendiri. Dan mungkin, mereka juga akan berseru; dan bersama suara kami bisa menantang badai.
Itu alasanku untuk berharap. Begitu rapuh, begitu naif, begitu banyak kata mungkin- tapi itu alasanku. Dan mungkin, itu bisa jadi alasanmu juga.
Aku tak bisa berjanji kalau dunia tidak akan menghancurkan harapan kita berkeping-keping, tapi aku bisa menjanjikan satu hal: tak ada badai yang abadi. Sehabis gelap, terbitlah terang. Lalu gelap lagi. Lalu terang lagi. Ini hidup, dan hidup takkan selamanya cemerlang. Tapi matahari pasti akan terbit lagi, itulah hakikatnya. Itu bisa aku janjikan. Dan mungkin, suatu hari, slogan Indonesia Cerah bukanlah olokan.
-
Sampai jumpa di tulisan yang lain! ... Itu kalau aku punya motivasi untuk lanjut menulis di sini, sih. Entahlah, aku tak bisa janji. Sama seperti pemerintah, janji Farzan juga tak bisa dipercayai.
Tapi seriusan. Sampai jumpa lagi.
Kalau buat kak Andy pribadi, selama masih ada hari esok, harapan itu tetap penting, apalagi kalau kita masih punya kesempatan untuk melakukan sesuatu, kalaupun itu sekedar menyalakan lilin 🕯🙏🏼
Nyalanya takkan padam selama kita masih bisa berguna untuk sesama ya kak
Saya sempat menuliskan tentang ini Farzan. Masih nyambung...
https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/3415/aes336-kisah-empat-batang-lilin
Tapi narasi kamu asik banget bacanya. Sangat menikmati alur menulisnya. Mantap.