AES 1160 Hier Encore
joefelus
Wednesday July 31 2024, 4:32 AM
AES 1160 Hier Encore

Layar monitor besar dihadapan saya agak buram, karena ada yang menghalangi pandangan saya, menghalangi mata saya.

Saat itu saya duduk sendirian sambil menghadapi setumpuk pekerjaan yang harus segera diselesaikan karena semester musim gugur akan segera tiba. Sekitar 2 minggu lagi para mahasiswa akan kembali ke kampus, asrama-asrama yang selama musim panas dihuni oleh para peserta konferensi akan kembali menggeliat dengan kehidupan rutin. Saya harus menyelesaikan tugas ini agar semua bisa siap, sementara waktu saya sangat terbatas. Tidak lebih dari 3 hari lagi waktu saya yang tersisa tapi saya ingin semua selesai hari ini, oleh sebab itu dari pagi saya langsung memfokuskan diri sambil ditemani berbagai musik.

Kemudian suara biola mengalun dengan sangat lembut dan indah diiringi dentingan piano. Seorang pria menyanyikan sebuah komposisi yang begitu indah dalam bahasa perancis. Saya berhenti sebentar dan mengalihkan perhatian saya dari pekerjaan sambil memejamkan mata. Lagu ini begitu indah dengan kata-kata yang menurut saya sangat romantis walau sama sekali tidak saya mengerti. Bunyi suara bahasa Perancis memang sangat enak didengar, membuat telinga saya begitu nyaman dibuai dengan suara yang indah walau sama sekali tidak saya mengerti. Katanya bahasa Perancis itu sangat romantis, saya rasakan itu sekarang.

Entah mengapa saya begitu terhanyut dalam lagu yang sama sekali tidak saya mengerti ini. Saya terus memejamkan mata dan tanpa sadar mulai basah dan perasaan yang sangat dalam mulai memuncak sehingga tenggorokan saya mulai mengering dan tersedak. Perasaan yang luar biasa mulai menyelemuti seluruh indera saya dan mulai terhanyut dan tenggelam dalam berbagai kesyahduan.

Hier encore. Itu judul lagu tersebut. Saya langsung berusaha mencari syairnya. Lagu ini diciptakan oleh Charles Aznavour sekitar awal tahun 1960-an. Menceritakan seorang pria yang merenungi kehidupannya. Masa lalu yang sudah lewat dan terisa-siakan, yang hingga saat menjelang kematiannya (banyak yang menginterpretasikan seperti itu) masih menghantui dirinya.

Hier encore
J'avais vingt ans
Je caressais le temps
Et joué de la vie
Comme on joue de l'amour
Et je vivais la nuit
Sans compter sur mes jours
Qui fuyaient dans le temps

Yesterday, when I was young
The taste of life was sweet as rain upon my tongue
I teased at life as if it were a foolish game
The way the evening breeze may tease a candle flame
The thousand dreams I dreamed, the splendid things I planned
I always built to last on weak and shifting sand
I lived by night and shunned the naked light of the day
And only now I see how the years ran away

Saya berusaha mencari versi bahasa Inggrisnya. Walau tidak terlalu tepat dengan versi bahasa perancisnya, tetap saya menyukainya dan membuat saya melanjutkan lamunan. Melamunkan masa lalu, masa selama 8 tahun yang sudah saya lewati. The taste of life was sweet as rain upon my tounge. Walau saya tidak membiarkan hari-hari yang telah dilalui dengan percuma, saya dapat merasakan kepedihannya ketika semua itu akan berakhir dan hampir lewat.

Lagu itu memberikan rasa penyesalan yang sangat kuat, bahwa banyak hal yang tidak terlaksana karena tersia-siakan. Saya berbeda, tidak ada yang saya sia-siakan tapi tetap merasakan kepedihan karena semuanya itu akan segera usai. Saya harus bersyukur bukan menyesali. Tak apa semuanya akan berakhir, tapi keindahan dan kepenuhan yang sudah lewat tetap menjadi milik saya.

Sambil mengusap mata saya sambil tersenyum, layar monitor menjadi semakin jelas. Ya, tidak ada penyesalan, hanya memang harus selalu menyimpan semua kenangan itu baik-baik.

Foto credit: scoreexchange.com