AES 1496 Perut Juga Belajar
joefelus
Friday October 24 2025, 12:42 PM
AES 1496 Perut Juga Belajar

"Waduh tobat, kenyang banget!" Kata saya sesudah makan malam.

Memang perut saya serasa akan meledak karena sangat kenyang. Lalu kalau saya pikirkan baik-baik, saya semakin bertanya-tanya apakah memang organ pencernaan saya itu juga belajar karena malam ini jika saya perhatikan sungguh-sungguh, volume makanan yang saya nikmati tidak banyak. Yang saya santap tidak lebih dari beberapa sendok makan nasi, baby greenbeans atau buncis yang sangat muda yang hanya saya oseng dengan bawang putih dan potongan tomat besar-besar lalu makanan termewah di dunia: tempe! Hahaha.. Sederhana bukan?

"Kalau dari dulu kita makan seperti ini, mungkin kita kaya raya!" kata saya sambil terbahak-bahak.

Memang benar. Berapa harga buncis? Sangat terjangkau, satu bongkah tempe hanya 3 ribu rupiah dan sebutir tomat hanya seribu rupiah. Beras 1 cup dan satu siung bawang putih, mungkin total hanya 20 ribu rupiah. Kalau ditambah biaya gas dan minyak, tidak lebih dari 10 ribu rupiah lagi. Itu untuk 1 hari beberapa kali makan berdua! Saya sudah sangat bahagia makan seperti ini. Tidak perlu daging yang penuh hormon dan lemak yang membahayakan tubuh renta ini hahaha..

Sudah lebih dari 2 bulan pola makan saya berubah. Setiap pergi ke tukang soto langganan, saya selalu mengatakan nasi sedikit saja. Saya tidak mampu menghabiskan walau diberi setengah porsi, akhirnya saya minta 1/3 porsi. Itu pun sudah terlalu banyak karena begitu selesai makan saya agak sulit bernapas. Terlalu banyak makan, kemlakaren atau kamerkaan.

Ternyata sesudah saya berusaha mencari tahu, sistem pencernaan kita itu juga belajar. Nah seru khan? Ternyata pencernaan kita itu mempunyai "otak kedua", enteric nervous system (ENS) yang katanya mampu belajar fungsi-fungsi memory. Jadi jika kita mengubah kebiasaan makan, misalnya dengan porsi yang lebih kecil, maka sistem pencernaan kita juga beradaptasi. Ini menarik sekali. Tadinya saya pikir perut kita itu hanyalah sebagai fungsi otot-otot atau apa lah yang jika kita beri makan sedikit maka formasinya menyusut.

Pada awalnya saya berusaha dengan cara lain selain mengubah porsi makanan, yaitu makan secara perlahan-lahan, menguyah sebanyak mungkin. Dengan cara demikian, katanya, ini katanya loh sebab saya orang awam yang hanya membaca di sana sini, bahwa ketika ritme dan tempo kita makan diperlambat, kita berusaha menyampaikan pesan pada otak bahwa kita sudah kenyang, sementara kalau makan terburu-buru memberi informasi bahwa kita lapar. Masuk akal sekali sih, karena jika kita perhatikan orang yang kelaparan, begitu melihat makanan mereka makan selahap-lahapnya.

Saya belajar sesuatu yang baru hari ini tentang pola makan. Saya akan terus "mengajari" sistem perncernaan saya agar terus belajar gaya makan yang baru. Sejauh ini sudah sangat berhasil. Dulu jika saya makan nasi rames di misalnya Panda Express, yaitu kedai chinese food yang lumayan terkenal di mana-mana, sayangnya belum ada di Indonesia, sejauh ini di Asia baru bisa dijumpai di Jepang, Philipina, Korea Selatan dan UEA. Di kedai itu menyediakan nasi putih, nasi goreng, mie goreng untuk karbohidratnya lalu pelanggan boleh memilih 1, 2 atau 3 macam lauk. Yang terkenal misalnya Beijing Beef, Orange Chicken, Kung Pao Chicken, broccoli beef, dan sebagainya. Saya biasa memilih 1/2 nasi goreng dan 1/2 mie goreng, lalu kung pao chicken dan chicken with green beans atau beijing beef. Porsi mereka raksasa! Kontainer yang mereka pakai seringkali tidak mampu memuat makanan itu sehingga sulit ditutup. Saya dulu bisa menghabiskan sendirian! Saya yakin sekarang tidak akan mampu lagi. Terakhir saya makan nasi padang, dibungkus dengan sayuran dan lauk gulai ikan mas, sebungkus dapat saya habiskan untuk 4 kali meals! Setiap kali makan saya kekenyangan. Jadi nanti kalau saya makan di Mbak Esih dengan satu sayur dan ayam goreng, saya pasti tidak akan mampu menghabiskan seperti dulu! Hahahaha, mudah-mudahan saya tidak malnutrisi hehehehe.