AES 1219 Bogus
joefelus
Saturday October 19 2024, 11:35 AM
AES 1219 Bogus

Beberapa waktu terakhir ini banyak pembicaraan mengenai raihan prestasi akademik oleh beberapa orang yang dipertanyakan substansinya. Pertama kali saya membaca sebuah berita, saya merasa terhibur karena saya anggap sebagai bahan gurauan, kemudian diskusi semakin ramai, saya mulai merasa terganggu, dan 2 hari terakhir ini muncul yang lebih seru. Yang terakhir ini membuat saya tidak hanya terganggu tapi bahkan tersinggung dan malu.

Entah mengapa di tanah air ini titel akademik menjadi semacam status sosial. Di awal memang saya mengerti, ketika lulus sarjana ada sebuah kebanggaan ketika nama saya mendapat embel-embel capaian akademik, lama-lama saya tinggalkan karena terus terang, saya merasa terbebani. Gelar sarjana itu mengindikasi sebuah level mastery tertentu, dan karena saya merasa tidak memenuhi kriteria yang menurut saya sepadan, maka saya merasa malu menggunakannya. Lagian apa sih itu? Hanya beberapa huruf yang tidak berarti apa-apa jika isi kepala saya nol besar. Itu hanya membuang-buang waktu sekian detik menuliskan huruf di depan nama saya. Itu menjadi tidak penting lagi.

Menuliskan sejumlah titel akademik yang sudah dicapai memang sah-sah saja. Praktik menuliskan titel akademik di tanah air sudah sejak lama dilakukan dan tidak tanggung-tanggung jika ada sejumlah titel, maka semua dicantumkan. Itu hak yang bersangkutan walau sebetulnya menurut saya sih tidak perlu. Juga penggunaan gelar profesor itu hanya jika berkecimpung dalam dunia akademik, jika tidak sebetulnya tidak perlu digunakan. Tapi lagi-lagi semua itu tergantung pada kebiasaan setempat. Di Amerika, penggunaan titel hanya pencapaian akademik yang tertinggi. Itu pun terserah pada setiap individu ingin menggunakannya atau tidak, tapi dalam konteks resmi maka biasa hanya satu titel pencapaian tertinggi, dan profesor hanyalah jabatan bukan titel. Jika orang tersebut adalah pejabat dalam dunia akademik, maka dipanggil profesor, tapi namanya dia hanya menggunakan satu titel akademik tertinggi.

Eniwei, bukan masalah keabsahan yang saya perbincangkan di sini, itu uruan universitas yang bersangkutan dan aturan pendidikan di sini, saya lebih tertarik pada masalah hati nurani dan rasa malu. Sekali lagi setiap orang mempunyai pertimbangan dan keputusan masing-masing, itu sah dan bukan masalah saya. Yang saya pertanyakan adalah buat apa kita sibuk mencantumkan sekian banyak atribut jika pada dasarnya isinya kosong serta jika memang kita tidak berhak atas atribut itu, mengapa kita ngotot untuk menggunakannya?. Nah itu merambah ke masalah moral, kode etik serta hati nurani yang kita miliki.

Ada seseorang yang tidak pernah menyelesaikan kuliah lalu tiba-tiba mendapat gelar doktor kehormatan. Ada salah kaprah di sana, doktor kehormatan adalah award, penghormatan, bukan pencapaian akademis, jadi seharusnya tidak perlu digunakan dengan nama yang bersangkutan. Itu aturan akademis yang resmi, tapi ya itu juga tergantung tempat dan kebiasaan lokal. 

Yang kemudian saya merasa tertampar adalah seorang yang memperoleh gelar doktor hanya dalam kurun waktu 1,5 tahun walau tidak pernah kuliah (konon) dan juga risetnya ditulis oleh seorang sarjana S1 yang baru lulus 4 tahun. Lebih hebat lagi gelar itu dikeluarkan oleh salah satu universitas paling terkenal di Indonesia. Beberapa menit yang lalu saya menerima sebuah surat edaran yang dikeluarkan oleh dewan guru besar, mengundang para pelaku akademik di universitas itu dan mereka akan membahas masalah kode etik dan moral berkaitan dengan kasus itu. Luar biasa!

Kenapa saya merasa tertampar? Karena saya menjadi saksi hidup dari seseorang yang berjuang dalam usaha meraih pencapaian akademik terteinggi itu. Harus mengambil 72 kredit, melalui beberapa qualify exams dan melakukan penelitian yang memakan waktu sekian tahun karena harus menciptakan sebuah model, mencari dan mengolah data, dan sebagainya. Ini bukan pekerjaan yang mudah karena penuh keringat dan air mata. Lalu kemudian saya melihat kasus beberapa hari yang lalu dimana seolah-olah pencapaian akademik tertinggi itu seperti sebuah lelucon. Saya kenal beberapa alumni dari universitas itu dan mereka merasa malu.

Semuanya memang kembali ke nurani masing-masing. Bagi saya pribadi, untuk pa mengaggung-agungkan sesuatu yang kosong, apalagi kalau itu bogus atau hanya kebohongan belaka? Jadi seperti kita membanggakan kaleng biskuit Khong Guan, padahal isinya rengginang! Tapi ya beda juga sih, karena rengginang itu sangat enak dan layak memiliki kaleng sendiri, jangan nebeng Khong Guan! Beda kasus ini sih Hahahahaha.

Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Betul Joe. Prihatin banget. Apalagi para petinggi negara yang memberi contoh buat anak-anak kita. Mau jadi apa Indonesia. Bangsa yang mendewakan sama status dan tampilan luar... Cari jalan pintas dan ga peduli sama proses. 😖
joefelus
@joefelus   2 years ago
Betul Kak, sangat memprihatinkan dan sekaligus sangat memalukan. Butuh semacam terobosan di dunia pendidikan Indonesia dan harus segera meninggalkan fokus "admistrasi". Karena jika semua hanya berkiblat ke kertas, maka banyak loop holes yang bisa diterobos oleh mereka yang memiliki hati nurani yang sangat rendah. Dan universitas harus berhenti "menjual diri" sehingga terkesan menjauh dari predikat "scholar" yang seharusnya mereka junjung tinggi. Memuakkan sekali.
You May Also Like