"What do you want?"
"I don't know."
"If you don't know, how are you going to ask for it?"
Itu percakapan yang terus terngiang-ngiang dalam pikiran saya. Selama berhari-hari. Saya memang sekarang memiliki banyak waktu untuk berpikir. Memikirkan tentang hidup, berapa lama lagi saya kemungkinan akan berada di dunia, apa yang ingin saya lakukan hingga mencapai waktu itu, dan sebagainya.
"No one gets out of here alive, so stop treating yourself as secondary. Eat delicious food, walk in the sun, dive into the ocean, share your truth. Be silly, be kind, be weird. For everything else, there's just no time."
Kutipan di atas adalah nasihat yang sangat keren, saya sangat suka dan kalau tidak salah diucapkan oleh aktor yang Nina tidak suka, Richard Gere. "Dia kalau main selalu sama, sebagai Richard Gere." Kata Nina. hahaha.. Dia memang tidak suka filem-filem drama, sama seperti dia juga tidak suka Kevin Costner karena alasan yang sama. Saya beda, saya suka filem-filem yang mengharukan. Dan banyak sekali filem seperti itu di Hallmark Channel atau Lifetime. Konon itu katanya channelnya ibu-ibu rumah tangga bahkan boss saya sering cerita menjelang natal dia akan nongkrong di depan televisi selama liburan akhir tahun sambil mengenakan piyama dan minuman hangat di tangan sepanjang hari menikmati filem-filem cheesy. Saya tidak peduli diledeki Nina. Dan saya tidak sendirian kok, kemarin ketika membeli soto untuk ayah saya, bapak tukang soto sedang asyik nonton drama Korea di HP nya hahaha.. Oh saya bukan penggemar drama Korea. Saya tidak mau terjebak harus nonton puluhan episode! hahha
Eniwei, kembali ke obrolan hari ini. Kutipan Richard Gere ini membuat saya merenung. Setelah memutuskan untuk pensiun, saya banyak waktu luang. Memang saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bukan karena anti sosial, saya senang sekali ngumpul dengan banyak orang bahkan seandainya hanya sekedar untuk ngobrol ngalor ngidul pun saya suka. Yang saya benci adalah jalan raya! Saya belum bisa menikmati mengemudi di jalan raya seperti dulu. Itulah sebabnya saya menciptakan berbagai kegemaran yang biasa dicari di luar di rumah sendiri. Belum semuanya terwujud tapi yang sekarang pun sudah cukup.
So, what do I want? Apa yang saya inginkan untuk mengisi sisa hidup ini? Pertanyaan sederhana yang saya hingga saat ini belum bisa menjawab. Sudah sering saya ngobrol soal tujuan hidup. Saya ingin jadi orang yang berguna, misalnya. Itu tujuan mulia. Tapi butuh sesuatu yang riil, bukan?
Pelajaran dalam hidup itu datang dari banyak sumber. Bisa dari pengalaman diri sendiri, belajar dari kesalahan dan keberhasilan, dari buku-buku, sekolah dan pengalaman orang lain. Selama kita menjadi pengamat yang baik dan merenung untuk mengendapkan dan merangkul semua pelajaran itu dengan pemahaman yang baik, maka banyak sekali yang dapat kita peroleh sebagai bekal untuk masa depan. Pelajaran-pelajaran ini bisa menjadi acuan untuk menentukan tujuan hidup kita selanjutnya.
Well, masa depan saya sudah semakin jelas. Saat ini sudah hampir tidak ada lagi yang ingin saya kejar mati-matian. Sepertinya saat ini tinggal mengendapkan semua pengalaman yang ada dan menikmati buah dari hasil kerja keras selama hidup (itu kalau masih ada sisa hahahaha). Tapi untuk mengejar karir, misalnya, saya sudah tidak memiliki ambisi lagi. Membantu orang lain mungkin masih ada dalam agenda kegiatan saya, tapi bukan untuk kepentingan diri melainkan hanya sekadar berusaha menjadi useful. Walau begitu saya tetap masih belajar dari banyak hal, terutama pengalaman orang lain sebab apa lagi yang paling signifikan sekarang?
Tidak mudah. Bukan apa-apa, menentukan tujuan itu tidak seperti kalau kita menentukan tempat liburan. Banyak pertimbangan dan alasan terutama karena hidup kita itu hanya sekali dan kesempatan tidak hadir setiap waktu. Dari pengalaman selama ini, banyak kesempatan yang kadang muncul hanya sekali, kalau kita menghabiskan waktu dengan mempertimbangkan bibit bebet dan bobot kadang-kadang kesempatan itu terlanjur lewat, tapi jika kita memutuskan dengan gegabah juga tidak jarang berakhir dengan penyesalan. Itu serunya hidup. Tapi satu hal yang penting, kita harus selalu berbesar hati, mengakui kesalahan jika memang kita membuat keputusan yang tidak tepat dan kemudian belajar daripadanya dan move on.
Eniwei, sebelum melenceng kemana-mana, yang saya amati saat ini adalah dunia yang semakin carut marut. Saya tidak mau menjadi bagian dari orang-orang yang meninggalkan legacy buruk untuk generasi berikutnya. Sejarah akan mencatat, untungnya saya tidak memiliki peran penting di masyarakat, tapi saya bisa menyumbangkan sedikit minimal diantara masyarakat sekeliling saya. Yang dunia butuhkan saat ini adalah welas asih, kehangatan hubungan antar individu yang harmonis, saling membantu, saling mendukung dan yang jelas jauh dari kebencian dan perpecahan. Mungkin ini bisa saya jadikan tujuan hidup ke depan, berbagi senyuman, berbagi kata-kata halus dan bijak, berbagi hiburan dan sebagainya. Mungkin tidak mudah, karena sebagai manusia kita juga sedikit banyak akan terpngaruh kondisi luar tapi bukan berarti tidak bisa. But I know that I don't want to be easy, but I want to be worth it.
Foto credit: tinybuddha.com