Saat kamu menyadari waktu yang berlalu, setiap detik selalu terasa seperti menetes terbuang dari tangkupan tanganmu, dan tiba-tiba harimu di masa-masa remaja tinggal hitungan jari. Aku belum ingin dewasa! Aku merasa aku belum cukup bijak dan pemberani untuk menantang dunia, dan aku jelas-jelas belum cukup bertanggung-jawab untuk menanggung beragam harapan dan ekspektasi yang ditaruh pada kaum muda.
Di antara beragam harapan tersebut, salah satunya adalah berkendara. Aku tak tahu kenapa, tapi sedari dulu aku selalu bermusuhan dengan kendaraan. Barangkali masalah keseimbangan. Di saat teman-temanku sudah mahir mengendarai sepeda sejak TK, aku baru bisa menaiki sepeda saat menginjak SD besar, dan itupun setelah aku mematahkan salah satu lenganku dalam proses belajarnya. Sekarang, saat teman-temanku mulai menginjak umur di mana mereka sudah sah untuk memiliki SIM, aku harus berkenalan dengan saudara sepeda yang lebih mengerikan lagi: motor.
Bukannya aku benci motor atau bagaimana. Tapi motor merupakan sebuah binatang liar yang tak mudah dibujuk. Mesinnya meraung, rodanya menderu. Saat kami kecil, salah satu kakak memberikan nama julukan untuk motor: kuda besi. Betapa tepat nama panggilan itu. Dengan jalan kaki atau sepeda, kamu bisa merasakan bagaimana setiap ayunan kakimu berkontribusi untuk mendorong dirimu maju. Dengan motor dan mobil, yang harus kamu hanyalah memutar pedal gas, maka dia akan melesat sendiri. Dan sungguh cepat dia melesat! Dengan sentakan kecil, mereka menerkam. Sangat, sangat praktis. Jalan yang panjang menjadi pendek. Kota yang besar seketika menciut. Dunia menjadi dalam jangkauan, dan hidup menjadi semakin cepat.
Kendaraan motor sudah menjadi bagian yang begitu lekat dari kehidupan sehari-hari, kita kerap lupa betapa muda mereka sebenarnya. Selama ratusan ribu tahun lalu, manusia berjalan dengan kaki mereka sendiri. Hingga ribuan tahun lalu, mereka menjinakkan dan mengendarai kuda, dan bersama mereka menjelajahi dunia. Baru ratusan tahun yang lalu manusia pertama kali menciptakan sepeda yang bisa bergerak menggunakan tenaga mesin, dan baru puluhan tahun kendaraan itu dipergunakan dalam skala massal oleh segala lini masyarakat.
Dan tentu saja, keberadaan mereka membuat semuanya berubah. Industrialisasi dan modernisasi selalu memasuki lini-masa kehidupan, mendorong umat manusia untuk lebih maju, lebih efisien. Dengan adanya kendaraan, roda kesibukan bisa menderu dengan lebih cepat. Manusia selalu menemukan cara untuk mempercepat segalanya. Pada akhirnya, semua proses yang dulunya memakan waktu lama bisa berlalu dengan sekejap mata, semua atas nama progres.
Lama-lama, kebebasan yang ditawarkan kendaraan, perasaan bahwa kamu bisa menjangkau seluruh dunia, memudar- dan kendaraan hanyalah kurungan monoton. Dia menjelma menjadi cara untuk pergi dari tempat A ke tempat B dari hari ke hari, tak lebih dari itu. Begitulah kutukan kehidupan modern. Dia memotong sedikit demi sedikit hidupmu atas nama efisiensi, sampai tak ada lagi yang tersisa kecuali bagian yang berguna.
Aku mencoba membayangkan dunia tanpa keberadaan kendaraan bermotor, sebuah dunia yang bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Pasti dunia tersebut sangatlah kecil, atau sangatlah lambat. Dunia dimana seluruh hidupmu bisa dihabiskan dalam tempat yang sangat kamu kenal, atau dunia dimana yang ada hanya hari ini dan masa depan hanyalah bayangan samar di ujung hari. Kamu bisa menghabiskan hari-hari menghitung rintik hujan dan bercerita pada angin, kamu bisa mengenal setiap semut yang berlalu di sela-sela rumput.
Sulit memang untuk bisa sampai di dunia yang seperti itu. Untuk bisa menjadi seperti itu, orang-orang harus berhenti berdarah untuk sistem yang hanya menguntungkan segelintir orang, sistem dimana orang hanya bisa berdiri tinggi saat menginjak setumpuk orang-orang lain. Untuk bisa menjadi seperti itu, orang-orang harus sadar betapa berharganya setiap detik yang mereka miliki, dan betapa penting untuk mengisinya dengan benar-benar hidup dengan sadar.
-
Eh? Bukankah tadi aku sedang menulis soal masalahku belajar bermotor? Kok jadi membahas ini? Kalau kalian sudah sampai sini, tolong sekalian doakan aku bisa belajar cepat, ya. Sampai jumpa lagi.