Ide tentang tulisan ini sebetulnya sudah ada seminggu sebelum saya mendapatkan berita tipis-tipis (maksudnya berita belum resmi heheheh) tentang kelas human design untuk Kakak. Untuk saya ini jadi bukti kesekian bahwa divine timing itu ada dan tamparan kesekian juga sebetulnya. 😛
Jadi sedari kecil, saya suka sekali hal-hal yang berkaitan dengan mengenali diri sendiri. Mungkin karena ada di posisi yang memang mengharuskan saya untuk memproses semuanya sendiri juga, saya kerap merasa butuh untuk mencari orang lain, atau alat bantu untuk memvalidasi atau menjelaskan semua emosi dan kebimbangan ini. Jadi selama perjalanan hidup ini, saya tanpa sadar mengkoleksi satu-satu tools untuk mengenal diri. Ada yang dasarnya dari ilmu psikologi, tapi ada juga yang dasarnya dari ilmu yang bisa dibilang esoterik, seperti belajar tentang chakra, bazi, linking awareness, astrology, atau human design.
Untuk astrology, saya pertama kali belajar saat saya kuliah. Waktu itu pengetahuan awal saya tentang astrology masih seputar sun sign. Dan saya pada saat itu tidak merasa saya Sagitarius banget anaknya. Agak malu malah mengaku Sagitarius, secara saya anaknya lebih senang di rumah daripada jalan-jalan. Tapi setelah belajar tentang astrology lebih dalam lagi, saya malah menemukan hal-hal yang justru jauh lebih dalam dari sekedar menjelaskan karakter-karakter dasar dari setiap sign yang selama ini dibicarakan orang.
Dalam astrology, ada yang namanya natal chart. Salah satu astrologer yang saya ikuti di youtube pernah mengatakan, "Saya pribadi melihat natal chart ini adalah mandala hidup kita." Dan memang kalau kita bedah, satu chart saja bisa menjelaskan banyak sekali hal dalam hidup kita. Mulai dari karakter, bakat, hingga trauma. Saya pun sudah bertahun-tahun ini membedah chart saya sendiri. Kembali lagi kepada keyakinan bahwa "Guru datang saat murid siap" selalu ada hal yang baru dan lebih dalam saat saya membaca chart. Selalu ada pembelajaran baru.
Kalau yang saya lihat dari natal chart, Tuhan sebetulnya sudah mengirimkan setiap manusia ke dunia lengkap dengan bekalnya. Bekalnya sendiri ada yang kadang bisa langsung kita lihat sebagai anugerah atau bakat, ada yang cenderung kita anggap sebagai "racun". Padahal, sama saja seperti obat yang biasa kita minum, asalkan kita paham dengan kandungannya dan tahu bagaimana mengonsumsinya, "racun" itu justru akan jadi obat yang mujarab untuk kita.
Sama seperti saat saya mendengarkan penjelasan tentang human design dari Kak Irwin Ponco malam ini. Ada wisdom di setiap center yang tidak terisi. Ada gelombang yang perlu saya nikmati naik turunnya. Ada maksudnya mengapa energiku begini, energiku begitu. Lebih menarik lagi, ada pembelajaran juga dari setiap energi orang lain yang kita temui.
Malam ini saya diingatkan kembali ke apa yang sudah saya punya selama ini. Untuk tetap menghargai "racun" saya dan menggunakannya dengan baik. Untuk tetap menikmati pasang surutnya gelombang dan belajar pasrah. Belajar melepas ketakutan juga jangan lupa.
🙏🙏🙏