AES03 Literasi, Seni Melihat dan Menyadari
finsjournal
Saturday May 22 2021, 3:45 PM
AES03 Literasi, Seni Melihat dan Menyadari

Sudah sampai pada hari dimana saya dan rekan-rekan lain berusaha menggenapi dengan mencari dan mengumpulkan setiap kepingan tentang Pendidikan Holistik.

Tiga hari pembekalan, saya kembali menemukan kepingan-kepingan baru untuk saya rangkai dengan kepingan sebelumnya.

Saya dikenalkan pada "panduan SmiPa" yang tentu saja masih berproses. Saya memahami bahwa 'panduan' diperlukan sebagai pengingat atau semacam rambu agar proses Pendidikan Holistik yang dijalankan di Semi Palar tetap pada jalurnya, jika suatu saat keluar dari jalur, akan mudah untuk dikembalikan ke jalurnya lagi.

Di awal saya berproses, saya mempelajari Semi Palar dari tulisan dan cerita di website. Saya masih ingat yang menjadi titik perhatian Semi Palar, tepat di nomor 1 adalah "literasi". Kemudian muncul pertanyaan, kenapa harus "literasi" ? Yang saya tahu, anak-anak, maupun kakak di SmiPa memang dibiasakan untuk membaca buku dan menulis blog, anak SMP malah mampu menuliskan buku dari perjalanan besar mereka. Tapi, sepenting itukah "literasi" dalam Pendidikan Holistik di SmiPa?

Sepanjang proses, muncul pertanyaan-pertanyaan yang tanpa disadari saya menemukan jawabannya sendiri. Saya belajar dari Ka Andy, bahwa tidak ada jawaban yang benar atau salah, karena setiap orang merupakan individu yang unik, demikian juga dari cara berpikir, melihat, merasakan, mengamati, sampai pada menyimpulkan. Saya belajar bahwa setiap orang bebas dengan cara pandangnya sendiri. Bersyukurnya adalah selama berproses di SmiPa, kami bisa saling menggenapi dengan berbagai cara berpikir dan berdiskusi, setiap ide masing-masing dari kami, maupun dari kakak-kakak SmiPa yang membimbing proses kami.

Hingga sampai pada kesimpulan bahwa "literasi" itu tidak selebar daun kelor… Cakupannya begitu luas, bukan hanya sekedar membaca dan menulis. Dan ternyata, kemampuan literasi dapat menjadi modal dasar dari memahami proses belajar manusia, khususnya anak-anak maupun kakak SmiPa. Melatih kemampuan literasi adalah mengasah kepekaan diri (raga, pikiran, emosi, dan energi), tentang memahami alam semesta, sebuah peristiwa, pengalaman hidup, bahkan perasaan orang lain. Indah ya, jika semua manusia di bumi ini memiliki kemampuan literasi yang baik… Bumi akan damai.

Kembali kepada tujuan dari Pendidikan Holistik adalah mendidik manusia secara utuh yang diinterpretasikan sebagai lima aspek dari bintang SmiPa, yaitu nalar, nurani, kreativitas, karakter, dan jasmani. Melihat keunikan individu dari nurani dan karakternya menjadi dasar untuk memunculkan kreativitas dengan bantuan kemampuan berpikir (nalar) dan jasmani.

Kreativitas menjadi sangat penting ketika kita ingin melihat hasil dari proses berpikir, olahan dari proses belajar, yang dituangkan dalam sebuah karya atau gagasan. Inilah yang mendasari mengapa di SmiPa anak-anak membiasakan diri mereka membuat karya, sebagai hasil olahan proses belajar anak.

Kenapa harus "karya" ?

Karya/gagasan merupakan bentuk originalitas dari proses dan hasil belajar anak, dan ini bisa dijadikan asesmen yang otentik untuk mengetahui sejauh apa pemahaman anak terhadap topik atau informasi yang diberikan selama proses pembelajaran.

Dalam sebuah karya, sudah mencakup proses melatih semua ranah/aspek dalam diri anak. Misalnya dalam karya Maket Pembangkit Listrik Tenaga Microhydro yang dibuat oleh kelas 4 SD di SmiPa, terlihat bagaimana anak melatih daya nalar (kognitif) dengan mencari informasi tentang komponen yang ada pada PLTMH (dibutuhkan kemampuan literasi). Pemilihan media atau bahan yang digunakan dapat melatih aspek sensorik anak, misalnya ada yang menggunakan bahan bubur kertas, karton tebal atau tipis, benang, kabel, dll. Aspek motorik anak dilatih ketika mereka merangkai setiap komponennya, menggunakan gunting, lem, lakban, dll membutuhkan kemampuan perhitungan yang presisi (ada mata pelajaran atau kemampuan yang terintegrasi-matematika-numerasi) , serta koordinasi mata dan tangan yang membutuhkan kekuatan otot besar maupun kecil (motorik kasar dan halus).

Aspek emosi (ranah nurani) bisa juga dilatih saat mereka memikirkan manfaat dari PLTMH ini bisa memberikan daya listrik untuk berapa rumah, hubungannya dengan saat merangkai dan membuat denah PLTMH, penempatan baling-baling dimana (tentu harus dekat dengan sumber air), generator atau turbin dimana (tentu sebisa mungkin jauh dari pemukiman supaya tidak mengganggu). Apa yang bisa dilihat dari sini? Sejauh mana anak peduli pada lingkungan sekitarnya, respon anak terhadap sumber alam yang merupakan pemberian Tuhan, juga kebermanfaatan untuk sekitar. Ya… Kita berbicara empati.

Sebuah karya olahan kreativitas anak, mampu memperlihatkan karakter anak kan… Tergantung bagaimana kita melihat dan menyadarinya. Lagi-lagi kita bicara tentang kemampuan literasi, khususnya kakak fasilitator dalam mengamati hal besar dalam diri anak yang bisa dijadikan sebagai laporan perkembangan atau kemampuan dan pemahaman anak terhadap konsep yang diberikan dalam sebuah karya.

Itulah simpulan yang saat ini saya pahami, semoga seiring dengan proses lainnya dapat menggenapi sehingga sampai pada kesimpulan yang tepat ketika saya memandangnya secara holistik.

Salam,