AES30 Dongeng lagi?
matheusaribowo
Thursday October 13 2022, 11:31 AM
AES30 Dongeng lagi?

"Ka Mamat, dongeng lagi, donk!" sebuah suara terdengar tanpa terlihat sumber suaranya. Setelah tangan mungil menyentuh pinggang, barulah terlihat siapa pemilik suara. "Ka Mamat dongeng lagi donk! Aku dengerin dongeng Ka Mamat, loh." ujarnya sekali lagi dengan sorot mata yang begitu serius. Seperti orang dewasa yang meminta hak yang belum terpenuhi. Namun anak-anak tetaplah anak-anak. Dengan manja ia menyandarkan tubuhnya. "Aku dengerin dongeng yang jerapah." tegasnya sekali lagi dengan nada merayu. "Iya, yang aplistos."

Ungkapan seorang anak yang mengaku kelas TK A ini membuat percakapan tak hanya terjadi melalui gelombang suara. Lebih bergejolak lagi di dalam sini. "Iya, di dalam sini." kataku pada diri sendiri. Ternyata dongeng yang dimaksud itu adalah dari podcastku yang kurekam di tahun 2020. Sedangkan dongengnya sendiri kutulis di tahun 2017. Senang sekali ada yang mendengarkan podcast dongeng yang sudah lama ditinggalkan pembuatnya. Terlebih lagi ada yang mengingat dan menceritakan ulang dengan detail yang luar biasa. Seorang anak 5 tahun. Terima kasih untuk mengingatkan ini. Beginilah dongengnya:

Di sebuah samudra maha luas, hiduplah seekor jerapah bernama Aplistos. Ia tinggal seorang diri di sebuah pulau yang kecil, yang hanya sebesar halaman rumah. Selain hanya berisi padang rumput, pulau itu ditumbuhi sebuah pohon akasia yang daun-daunnya merupakan makanan kesukaan Aplistos.

Aplistos merawat dengan baik pohon akasia itu. Ia sirami pohon itu setiap hari. Bahkan saat malam ia pun tidur di bawahnya. Karena memang bentuk pohon akasia yang seperti payung dan meneduhkan.

Suatu hari datanglah seekor burung pemakan bangkai, Nazzar namanya. Tampak kelelahan, Nazzar beristirahat di salah satu ranting pohon akasia. Seketika Aplistos terbangun dari tidur siangnya, setelah mendengar kepak sayap burung itu. Aplistos belum pernah melihat Nazzar sebelumnya. Dalam hatinya ia mulai khawatir. Ia mulai takut kalau Nazzar akan menghabiskan biji-biji, merusak bunga, dan daun-daun pohon akasia kesayangannya.

Ia segera bangkit dan mencoba mengusir Nazzar.

“Tinggalkan pohon ini!” katanya dengan marah.

“Aku lelah sekali, ijinkan aku singgah sejenak.” pinta Nazzar yang masih kelelahan.

“Tidak! pergi, pergi, pergiiii!” Aplistos justru mengusir Nazzar.

Nazzar yang tengah kelelahan setelah menyeberangi samudra pun kaget dan terjatuh ke atas rumput.

“Aduuuh sakiiiit. Aku tidak memakan daun. Aku hanya ingin beristirahat sebelum kembali terbang.”

“Aku tidak percaya!”

“Baiklah!”

“Cepat pergi, jangan kau makan dan rusak pohon akasia milikku ini!”

Nazzar justru bingung melihat seekor jerapah setinggi 5 meter marah-marah. Namun muncul ide jahil di kepala Nazzar. Nazzar kembali terbang dan hinggap di atas ranting pohon akasia itu. Lalu berpura-pura memakan daunnya.

Aplistos terlanjur marah dan tidak mengetahui kalau Nazzar bukanlah binatang pemakan tumbuh-tumbuhan. Maka Aplistos dengan rakus melahap semua daun di pohon akasia itu.

Di sore hari yang cerah itu akhirnya Aplistos mati karena terlalu kenyang. Pohon akasia yang dicintainya pun hanya tersisa ranting-ranting yang segera kering lalu mati. Nazzar pun gembira karena mendapatkan makanannya sore itu.

Andy Sutioso
@kak-andy   4 years ago
Bagus ka Mamat ceritanya. 😇👍🏼
matheusaribowo
@matheusaribowo   4 years ago
Siap, ka Andy.