Sudah lewat pukul 10 malam. Mata saya sudah minta untuk dipejamkan, semikian juga tubuh yang sudah lelah. Apalagi di luar turun salju walau tidak deras, tapi tetap memberikan sinyal kepada benak saya untuk tidak melakukan apa-apa. Seluruh tubuh saya menuntut untuk beristirahat, tapi benak saya masih menginginkan untuk menuntaskan tugas untuk menulis jatah hari ini.
Seharusnya tadi saya tidak ikut bergabung dengan teman-teman kantor menghabiskan beberapa jam sesudah usai jam kantor pergi ke bar. Sesudah beberapa gelas bir, saya memang jadi rileks, tapi kepala juga rileks sehingga sampai saat ini belum menemukan ide untuk menulis. Memang tadi sangat menyenangkan dan bisa melepas lelah dari kepenatan sambil ngobol, berseda gurau dan bermain bilyard. Salah satu kegiatan kegemaran kami semua selain bermain tenis meja. Kebetulan di ruang rekreasi di lantai bawah di gedung kantor kami ada meja pingpong. Jadi pada saat istirahat, kami sering mengisinya dengan bermain tenis meja. Seingat saya sudah puluhan tahun tidak bermain, jadi memang butuh berlatih kembali. Walau banyak melakukan kesalahan, tetap saja ini permainan yang menyenangkan untuk kami.
Malam ini adalah Chinese new year's eve di tempat saya berada. Kalau di Indonesia sudah memasuki hari pertama tahun baru. Di tempat saya sekarang tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa, sebab mereka yang merayakan tidak banyak jumlahnya. Berbeda waktu saya tinggal di Hawaii karena di sana mayoritas penduduknya adalah orang Asia. Nah karena di sini orang Asia tidak terlalu banyak, maka tidak terdengar apa-apa. Sepi saja dan karena saya juga tidak ikut merayakan, maka sama sekali tidak ada bedanya, kecuali ucapan-ucapan selamat tahun baru dari teman-teman di tanah air.
Perayaan apa lagi yang juga tidak terdengar imbasnya? Lebaran misalnya. Walau tetangga saya banyak dari Timur Tengah, tapi pada saat bulan Ramadhan juga sepi-sepi saja, hanya sempat beberapa waktu yang lalu banyak anak berkeliaran dan bermain pada saat tengah malam menjelang makan sahur, selebihnya ya sepi-sepi saja.
Demikian juga halnya dengan Pemilu yang sedang ramai di tanah air. Kebetulan saya juga menjauhkan diri dari berita-berita seputar kampanye maupun debat pasangan calon presiden dan wakilnya. Saya menjauhkan diri dari berita maupun obrolan diantara sesama teman. Kenapa begitu? Karena pengalaman saya sebelum ini, banyak sekali konflik terjadi diantara teman-teman ketika masing-masing mempertahankan pendapat tentang pilihan mereka. Saya tidak mau terlibat dalam hal ini. Yang saya lakukan adalah melakukan riset sendiri, melihat kebaikan maupun kekurangan para kandidat, membuat keputusan untuk memilih, dan ketika surat suara dari konsulat jenderal tiba di rumah, langsung saya pilih dan saya kirim kembali. Tugas saya sebagai warga negara sudah dilaksanakan dan saya hanya tinggal menunggu hasilnya.
Mungkin terdengar seolah-olah saya mengucilkan diri. Mungkin saja benar, tapi memang saya ingin menikmati kedamaian. Kadangkala saya kangen juga dengan gegap gepita masa Ramadhan. Saya di Bandung tinggal di perkampungan yang lumayan padat, menjelang makan sahur biasa anak-anak karang taruna berkeliling mengingatkan penduduk. Saya sering terbangun dan mendengarkan musik kreatif yang mereka ciptakan. Di kampung saya, anak-anak membunyikan biola, suling dan alat lain, sehingga memang bunyinya keren sekali. Nah kadang saya kangen hal ini. Tapi karena pada dasarya saya lebih senang kehidupan yang sepi dan damai, saya tidak pernah keberatan tidak merasakan imbas keramaian menjelang perayaan-perayaan tertentu yang biasa dilakukan di tanah air.