Sedari pagi hingga sore menjelang, dibawah pohon Tabebuya yang bermekaran dengan warna kuning keemasan. Anak-anak bilang "Ibu para pohon", "rumah serangga", "pohon misteri". Aku tidak tahu sejak kapan dia berdiri kokoh di tempat ini...
Sedari pagi hingga sore menjelang, dibawah pohon Tabebuya yang bermekaran dengan warna kuning keemasan. Anak-anak saling berbagi cerita dan perasaan mereka, bahkan ada sebuah puisi dan gambar yang diolah dengan penuh cinta.
Konon katanya, pohon ini hanya tumbuh di tempat yang hangat, sebagai peneduh...
Terima kasih, untuk bungamu yang bermekaran menyambut kedatangan kami dan mereka yang selalu semangat!! Semoga rasa tulus, semangat, dan cerita kami hari ini sampai kepadamu dan memberi kehangatan. Teruslah ada dengan kokoh untuk kami Menyusun Kepingan Kisah bersama mereka...
Hari ini Kelompok Gatrik (SD-4) melaksanakan Pertemuan Tatap Muka Terbatas untuk pertama kalinya. Bahagia sekali melihat dan merasakan semangat mereka dari awal hingga akhir pertemuan, walaupun kali pertama kami bertatap muka.
Saya dan Kak Imeh mengajak Kelompok Gatrik untuk berimajinasi!
Diawali dengan doa pagi dan waktu hening, duduk melingkar di area rumput hijau yang basah. Merasakan nafas secara perlahan, hangat sinar mentari bahkan sampai ke tulang.
Berlatarbelakang tema stasiun, Stasiun Semi Palar (ruang kelas 2) dan Stasiun Tabebuya (di bawah pohon Tabebuya dan Pendopo), Kelompok Gatrik melakukan perjalanan menuju rumah kakek nenek Kawu dan Wula (tokoh tema) menuju sebuah kota ajaib yang misterius menggunakan kereta api. Sepanjang perjalanan dari Stasiun Semi Palar, Kelompok Gatrik melakukan misi; membuat tebak-tebakan, bercerita kisah lucu, bercerita kisah seram, cerita tentang kakek dan nenek, bernyanyi bersama, bahkan menari bersama hingga sampai di Stasiun Tabebuya.
Setibanya di Stasiun Tabebuya, kami saling mendengarkan cerita sembari memandang pohon Tabebuya yang sedang berbunga indah. Pantas saja jika dijuluki "Bunga Terompet Emas", bunganya yang berwarna kuning tampak berkilauan terkena sinar mentari yang juga menyapa kami dari pagi hingga siang tadi. Misi berikutnya dilanjutkan dengan menggambar pohon Tabebuya secara berkelompok sebagai oleh-oleh untuk kakek nenek Kawu dan Wula. Tantangannya adalah mereka harus menggambarkan pohon Tabebuya secara bergantian dalam waktu hanya 10 menit, dan 4 menit waktu untuk mewarnainya. (^.^)v
Yel-yel semangat turut diteriakkan! Rona bahagia terpancar dari wajah mereka...
Dua jam berlalu tanpa terasa, mereka bahkan berkata bahwa waktunya kurang. Kami pun harus berpisah dengan sebuah refleksi tentang perasaan mereka hari ini, dan doa tutup sebagai rasa syukur kami.
Terima kasih untuk hari ini! Bahkan tidak lupa kami berterima kasih kepada pohon Tabebuya yang berbunga indah seakan menyambut kedatangan kami semua...
O iya! Selamat Hari Guru Sedunia!!!
(foto hasil jepretan Kak Ine)
Kak @ine fotonya saya pinjam ya... (>,
☺️ punya bersama ka Fin.. kan ada cerita, kegiatan dan gatriknya.. senang sekali lihat gatrik pertama saling jumpa..