Aku berdiri di depan hawu, memperhatikan api kayu yang perlahan menyala.
Tidak ada suara klik tombol, tidak ada layar digital, tidak ada notifikasi yang mendesak.
Hanya bunyi kayu terbakar, aroma daun pisang, dan gerak tangan yang sadar.
Bersama Wa Asep dan Wa Eli dari Pamolahan Sangkuriang, aku belajar memasak dengan cara yang sangat tua—dan justru terasa sangat baru bagi jiwaku. Boboko, aseupan, se’eng, hihid—alat-alat yang sering dianggap kuno—hari itu berubah menjadi guru kehidupan.
Ka Fifiin... Waah terima kasih sudah mampir lagi di sini... 🙏🏼🤗🌿. Tulisannya bagus bangeet. Nyambung sama apa yang sedang kami olah di Semi Palar. Nuhuun. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼