AES015 It Takes Two to Tango
Sewaktu ramai beberapa pekan lalu saat seorang public figur, penyanyi dan juga podcaster dijuluki Duta Persahabatan, di usia mudanya berpulang setelah sakit lama, publik menyoroti betapa ramah, extrovert dan melimpahnya energi dan cinta yang ia miliki sehingga punya banyak sahabat dari berbagai kalangan. Saya setuju, sangat setuju bahwa beliau adalah sosok hangat yang penuh kasih dan positive vibes.
Tapi ada hal yang ingin saya kulik, yaitu bagaimana circle pertemanannya bisa sangat kuat, yang rasanya tidak akan terjadi jika tidak ada timbal balik. Ya, saya yakin teman-teman satu circlenya juga punya rasa cinta dan kasih, serta effort yang sama besarnya sehingga pertemanan dan persahabatannya bisa begitu kuat. Kedua belah pihak tentu saling mengusahakan, bukan?
Saya sendiri, sejujurnya punya sangat banyak energi untuk berteman, dulu. Saya ingat waktu SMP, hampir teman satu angkatan saya hafal namanya, sering juga saya SKSD tanya atau sapa duluan. Beranjak kuliah pun sama, saya senang bersosialisasi dengan banyak orang sehingga punya kenalan cukup banyak di luar kelas. Beberapa teman dari SMP pun masih berhubungan baik dengan saya hingga kuliah, sebagian kecilnya bahkan hingga saat ini
Namun akhir-akhir ini, mungkin saat pandemi melanda, dan kegiatan sosial mulai terbatas, ditambah fase awal menjadi orang tua, kesempatan untuk berhubungan dengan teman semakin terbatas. Saya ingat pada saat awal punya anak hingga lockdown, satu-satunya hiburan saya hanyalah IG Story dan DM instagram. Di mana saya bisa mengomentari cerita teman, mengobrol panjang lebar sampai curhat. Oh satu lagi, WhatsApp. Saya ingat dua jalur komunikasi itu jadi hal yang paling penting untuk menjaga kewarasan saya dari terbatasnya ruang sosial pada saat itu.
Tapi... tentu tidak semua hubungan masih bertahan hingga sekarang. Adakalanya DM IG atau chat WA yang saya kirim tidak dibalas, beberapa diikuti dengan ucapan maaf karena late reply, sisanya benar-benar berlalu begitu saja. Jauh sebelum saya berkenalan dan akrab dengan Gen Z yang katanya memang tidak punya energi buat balas chat. Awalnya hal tersebut cukup mengganggu, terlebih kalau orang yang kita chat masih bisa bikin IG story atau 'status' padahal chat saya belum mereka balas. Sempat muncul pertanyaan kenapa ya? Apa saya salah? Kok saya dicuekin? Dan sebagainya. Hingga saya ada di titik oh ya mungkin memang begitu saja habitnya. Kini saya sudah lebih santai menanggapinya, punya jurus 'mute' saja orang yang jarang reply supaya saya ga 'gatel' pengen komenin doi. Hihihi.
Belakangan dunia kerja mempertemukan saya dengan rekan kerja Gen Z, ternyata mengajari saya bahwa memang tidak semua orang punya energi untuk balas chat, meski di konteks pekerjaan sebetulnya harus tetap profesional dan komunikatif ya. Tapi saya akhirnya mengerti dan melihat pola:
- Ada orang yang memang hanya ingin meluapkan apa yang ia rasakan lewat IGS, tapi tidak punya kapasitas buat merespon, dan melakukannya pada semua orang (tidak spesifik mengabaikan 1 orang saja)
- Ada orang yang mengusahakan balas chat karena merasa perlu 'merawat' hubungan, meskipun energinya tidak sebanyak itu
- Ada orang yang memang suka bersosial lewat chat, bertemu langsung, atau apapun itu karena energinya sangat buanyakkkk. Contohnya mungkin almarhum Vidi si Duta Persahabatan.
Tidak ada yang salah dari beragam pola tersebut. Akan tetapi, jika kita dipertemukan dengan orang yang sama effortnya (menyapa duluan, mencari jika sudah lama tidak kontak, dan paham jika tidak selalu bisa saling hadir, tapi tetap komunikatif dan berbaik sangka), rasanya kita juga bisa punya hubungan yang langgeng. Di dunia dewasa yang semakin sepi ini, ada 1-2 sahabat dengan effort yang sama imbang, rasanya sudah cukup. Sisanya tentu saja menyenangkan membuka diri pada hal dan pertemanan baru. Tidak semua circle berisi cinta dan perhatian yang melimpah, tidak harus semua.
Saya respons duluan ah di sini... ππΌπ€.
Saya sepakat, circle pertemanan saya juga mengecil - tapi semakin mendalam. Dapat beberapa teman yang sangat dekat di Semi Palar - yang mana sangat saya syukuri. ππΌ