Seringkali, kita sendiri dihadapi dengan sebuah situasi spontan, dimana sesuatu terjadi secara tak terduga dan kita perlu melakukan sesuatu secara spontan. Hal hal tersebut bisa terjadi selama hanya sekian detik, karena saking spontannya kita tidak bisa bertindak. Misalnya, ada gelas kaca yang sudah berada di ujung meja, dan sudah mulai jatuh. Hal yang bisa kita lakukan, berada pada jangka waktu kurang dari 2 detik. Jika kita melihatnya jatuh, kita bisa ada 2 kemungkinan. Pasrah karena kita berpikir 'jatuh tidak akan terjadi', dan kita berusaha untuk menyelamatkannya juga. Kita pasrah jika sudah berteriak dan sudah kaget, tetapi tidak ngapa-ngapain. Dalam situasi tersebut, kita shock hingga tidak bisa berpikir jernih, sehingga tidak bisa menemukan solusi atas gelas yang jatuh, sehingga akhirnya pecah ke lantai.
Namun, bisa jadi juga gelas tersebut diselamatkan. Entah dari insting kita sendiri, ataupun dari pemikiran kita yang menyebabkan tindakan. Jika insitingnya cepat, kita langsung seperti autopilot yang sudah otomatis refleks dalam mengambil gelas yang sedang melayang jatuh, dan menyimpannya kembali sehingga akhirnya tidak pecah. Bisa jadi juga kemungkinannya, bahwa kita sendiri sudah memiliki pemikiran dari awal, dan bisa berpikir jernih dalam situasi yang menegangkan, menentukan, dan sangat dipertaruhkan. Kalau kita berpikir jernih dan tidak asal panik, dalam situasi dan kemungkinan tertentu (contohnya gelas jatuh ini), kita sendiri sudah tahu apa yang perlu dilakukan dan tidak hanya asal berteriak, sehingga akhirnya gelas tersebut diselamatkan.
Sama halnya dengan contoh lainnya, misalnya adalah orang yang kepeleset. Kepeleset itu, tidak sampai 1 detik untuk kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh. Mengapa seperti itu, karena kejadiannya terjadi cepat sekali. Kalau sering kepeleset, seperti aku, sudah pasti tahu bagaimana rasanya dan bagaimana tanda-tanda gejala awal sebelum kepeleset. Biasanya, karena permukaan yang kita injak itu licin, otomatis sangat riskan bagi seseorang untuk keselip dan kehilangan keseimbangan.
Orang biasanya, jika sedang terpeleset, sudah pasti akan kaget dan berteriak. Kalau pengendalian badan dan anggota tubuh, tidak betul-betul disadari saat itu karena memang malahan berteriak dan baru menyadari apa yang baru saja terjadi. Dengan seperti itu, kita hanya mengandalkan keberuntungan dan gerakan tidak disadari, untuk menyelamatkan kita dari terjatuh dalam terpeleset. Aku sendiri seperti itu saat mendaki, kalau jatuh mengandalkan kemampuan koordinasi badan secara tidak sadar, saat terpeleset. Namun, keberuntungan-lah yang seringkali menyelamatkanku, misalnya tiba-tiba memegang tanaman di sebelah, kakinya tiba-tiba berdiri lurus, dan juga badannya gerak balik ke atas.
Namun, ada kalanya juga aku terjatuh. Dan tidak enak sekali rasanya. Sehingga, aku memutuskan untuk berfikir dan menyadari secara betul, jika dihadapi dengan situasi seperti ini, apa yang perlu dilakukan secara pasti.
Dengan seperti itu, aku sendiri bisa benar-benar siap dalam menghadapi hal secara spontan. Saat aku terpeleset, sebelumnya aku sudah mencegahnya dan siap-siap apabila kemungkinan terburuk (terpeleset) terjadi. Kalau sedang terjadi, aku kalem karena sudah diekspektasikan. sehingga, tindakan yang diberikan bisa sangat sesuai dan menyelamatkan kita dari resiko apapun.
Saat ada gelas yang jatuh, dulu aku hanya kaget, berteriak, dan menunggu gelas itu tiba di lantai. Saat ini, ketika jatuh aku sudah memiliki pemikiran, bahwa badanku akan langsung bergerak apabila menerima rangsangan jatuh, dan aku tahu apa yang perlu diperbuat.
Lebih baik diberi waktu 20 detik, memakai 5 detik untuk berpikir jernih dan 15 sisanya untuk bertindak, daripada diberi waktu 20 detik tetapi mengerjakan hal secara panik sambil berpikir, dan tidak berpikir jernih. Apapun yang kita pikirkan, bisa mengubah nasib kita dan mengubah tindakan kita di depan.
Keren ini Haegen.