Remaja, adalah pribadi dan tahap pada kehidupan, dimana kita mengalami kondisi mental yang tidak stabil. Keputusan-keputusan yang aku alami, cukup berat untuk dipertimbangkan. Ketidakstabilan dalam perasaan dan emosi, membuat seorang remaja terombang ambing. Entah dalam prinsip, hubungan, atau hal lainnya yang aku tidak tahu. Pokoknya, mood swing sangatlah wajar pada usia segini.
Hal yang bisa kita pelajari dari suatu kondisi mood swing adalah, bagaimana kita menghadapinya. Misalnya, kalau aku, sedang terbawa perasaan tidak enak, aku langsung olahraga. Agar energinya terbuang dan agar fokus pada kegiatan olahraganya sendiri. Ada hal lain yang bisa dijadikan pengalihan dari mood swing yang sedang tidak baik. Kalau aku sedang kecewa, pasti aku mencoba untuk cari-cari cara agar bisa keluar dan move on. Solusi dari kesedihan dan kekecewaan, ataupun kecapek-an, mungkin adalah pandangan positif dalam diri. Ada sebuah kesenangan, di tengah kesedihan. Untuk mencapai itu, kita bisa lho, kalau melakukan kegiatan yang kita suka. Yang membuat kita tenang, dan yang jarang-jarang seru. Contohnya, kabur dari rumah untuk jalan-jalan dengan teman
. Menurutku sendiri sih, oke. Karena kita memang perlu mengimbangi perasaan dan mencari ketenangan dahulu.
Namun, ada bedanya dengan berlarut dalam kegiatan menenangkan. Misalnya, mengambil cuti 1 minggu sebulan agar terjauhkan dari stress pekerjaan. Apakah itu worth it? Tentu tidak, karena tidak seimbang. Meskipun kita butuh ketenangan, bukan berarti kita seenaknya tidak berjuang. Solusi dari stress adalah anti stress, namun bukan berarti anti stress berlebihan juga baik. Yang membuat kita stress, dari sisi lain bisa membuat kita berkembang. Yang membuat kita tidak nyaman, adalah keluar dari zona nyaman. Jadi harusnya sih, menurutku, hal-hal yang menantang bagi diri, sesekali diperlukan.
Beberapa hari ini, aku kecewa karena tim basket jagoanku, kalah. Bagaimana cara untuk menghadapi situasi seperti itu? Apakah marah marah, apakah penyesalan dan dipikirkan terus sepanjang hari, atau apakah kita merelakan? Tidak selalu, aku bisa merelakan tentunya. Ekspektasi yang aku taruh, terlalu tinggi. Kalau tidak sampai, kecewa. Padahal, justru harusnya ekspektasi ku berada dalam level rendah, misalnya 'wajar kalau kalah'. Saat menang, itu melebihi ekspektasi kita sehingga bisa disyukuri lebih. Sementara kalau kalah, ya biarin aja. Memang sudah terekspektasikan.
Apakah yang seperti itu lebih baik dilupakan dan diganti hal lain? Mungkin, terkadang aku tanpa sengaja lupa, setelah berolahraga. Namun, lebih baik menyelesaikan ketidakseimbangan daripada dilupakan begitu saja dan suatu hari nanti tetap teringat.