Kita selalu memiliki ekspektasi terhadap sesuatu ketika sedang belajar, ketika mencari. Aku sendiri adalah seseorang yang sulit mencari/menemukan benda, padahal sudah ada di depan mata. Mengapa seperti itu? Karena mungkin, ekspektasi bayanganku terhadap benda tersebut berbeda dengan realitanya. Semisal aku disuruh ibuku untuk mencari sisir, pasti kesulitan menemukannya, karena aku kurang terbayang bentuk, tempatnya seperti apa. Butuh 20 menit mencarinya, ternyata di balik wadah.
Kali ini, ceritanya adalah mengenai ekspektasi belajar. Baru kemarin-kemarin aku diajari untuk menyetir sebuah mobil. Ekspektasiku cukup tinggi, aku merasa sudah cukup tahu bagaimana mengendarai mobil yang benar. Dari semua itu, ada kenaifan di baliknya. Saat disuruh mencoba, saking groginya aku malah salah mengontrol mobil dan ngegas terlalu kencang. Ternyata itu di luar ekspektasi awalku.
Karena ngegas terlalu kencang, maka mobil tiba-tiba tersentak. Aku juga kaget, meskipun tenang (di sisi lain) karena langsung mengerem. Aku kira, pedal gas bisa ditekan kencang karena 'feel'nya belum dapet. Selain itu, karena baru pertama kali, aku cukup bingung dan sangat sangat tidak terbiasa.
Ternyata di balik ekspektasi kita semua, terdapat hal-hal yang bisa terlewat dan melenceng. Ekspektasi yang kita miliki seringkali melalui asumsi, obrolan, bahkan sekedar opini pribadi. Janganlah berekspektasi dulu sebelum kita mendapat bukti konkret. Andaikan aku tidak berekspektasi apa-apa, maka mungkin aku lebih tenang dan bisa mengikuti arahan. Detail-detail kecil yang ada juga perlu kuperhatikan. Berekpektasi, belum tentu tercapai ketika kita sudah tahu bagaimana garis besarnya, namun bukan detailnya. Aku belum tahu teknik menggunakan kopling, meskipun sebenarnya aku tahu cara kerjanya seperti apa.
Lain kali, aku akan lebih berhati-hati. Coba waktu hening dan santai terlebih dahulu, lalu peka terhadap semua detailnya. Jangan ekspektasi untuk gagal, namun ekspektasilah untuk berhasil. Terakhir, tinggal diterapkan.