AES189: Membaca Sumber Ilmiah
haegenquinston
Tuesday August 2 2022, 7:49 AM

Pada hari ini, aku membaca sebuah sumber ilmiah mengenai ilmu videografi yang berjudul 'The Filmmaker's Handbook'. Berikut di bawah ini adalah tulisan yang kubuat setelah membacanya:

Sebuah media berbentuk video yang diproduksi, disebut 'film' pada bahasa profesionalnya. Entah itu berbentuk layar lebar, serian drama di TV, bahkan rekaman video ulang tahun, semua itu adalah bentuk produksi film. Biasanya kita suka bingung dan punya nama berbeda-beda tergantung dari produk akhirnya, misalnya 'acara' dan 'program' untuk yang ditampilkan di TV, 'movie' untuk video teatrikal, bahkan DVD atau Blu-Ray yang ada pada toko retail. Itu semua merupakan bentuk dari proses pembuatan film.

Dari tahun 1991 hingga saat ini, sudah banyak sekali perubahan di dunia filmografi, seperti dari peralatan analog menuju digital. Perusahaan produsen peralatan perekaman film sudah mulai beralih ke dunia digital, tak lagi mengandalkan peralatan tradisional. Pada akhirnya, masa depan dunia filmografi cukup membingungkan, karena potensinya kebanyakan sudah tercapai.

Masuk ke tahap proses pembuatan film, ada 5 tahapan utama yaitu development, pre production, production, post production, dan distribution. Proses pembuatan film secara profesional ini selalu ada entah di film besar seperti Hollywood, produksi drama, bahkan produksi film amatiran di rumah sendiri.

Tahap development biasanya adalah tahapan awal dimana produser dan tim, merencanakan, membuat ide dan mematangkannya dengan perencanaan lanjutan seperti keuangan, proposal, dan estimasi biaya bagi peralatan. 

Di tahap pra produksi, persiapan yang dilakukan adalah persiapan teknis (melihat barang-barang yang akan menjadi properti video), seleksi secara detail, persiapan tempat dan subjek manusia. Sehingga saat produksi, tidak ada lagi perencanaan, semua berjalan sesuai skrip yang direncanakan sebisanya. Masa produksi bisa dilakukan dengan meminjam kamera (apabila budget tidak ingin terlalu berat), biasanya juga tergantung dengan budget yang ingin dipakai. Setelah perekaman dilakukan, secara profesional biasanya ada printing dan proses ulang dari hasil video yang sudah dibuat, biasanya dilihat ulang kembali (playback) apakah sudah cukup baik, memenuhi ekspektasi, dan sesuai standar. Videonya biasa masih raw, belum diedit, jika terjadi kesalahan maka tinggal diulang adegannya.

Post produksi berjalan cukup lama, ia berjalan setelah produksi selesai. Hal yang dilakukan cuma 1, yaitu editing video sampai bentuk akhirnya jadi. Ternyata ada beberapa tahapan di post produksi yaitu editing kasar, editing medium, editing halus, hingga tahap finishing. Pada tahap editing kasar, ada berjam-jam klip film mentahan yang perlu dipotong dan dibuang hingga tahap yang dicapai beralur. Di tahap kedua, editing yang dilakukan adalah memotongnya kembali agar punya durasi yang sesuai dengan standar film biasa. Di editing halus, barulah editing menuju tahap transisi per klip agar film memiliki visual yang cocok saat ditonton.

Sehabis semua tahap pemotongan klip, barulah kita berjalan ke tahap finishing dimana suara disesuaikan, musik ditambahkan, visual effect ditambahkan, dan sound mix ditambahkan. Secara sederhana, tahapan pengeditan video mulai dari alur-memotong klip dan menyesuaikan durasi- mengubah audio- mengubah visual. Namun proses proses tersebut bisa sangat memakan waktu yang lama, terutama jika tidak beralur.

Tahap distribusi: Ketika film sudah selesai diproduksi, distribusi yang dilakukan adalah promosi poster keluarnya film tersebut, promosi tanggal rilis, kadang berupa trailer dan pengumuman. Pada tahap itu, film bisa jadi sudah selesai atau belum selesai diedit (kebanyakan sih sudah selesai). Bagi amatiran, promosi film sederhana yang bisa dilakukan adalah pengumuman melalui media sosial dan apa yang kita miliki secara pribadi.

Publikasi bisa dilakukan secara pribadi atau melalui media besar, contohnya jika amatiran, bisa memakai media umum, jika film layar lebar, disebar kemana-mana untuk ditonton. Untungnya publikasi ini tidak ribet ke teknis pembuatan filmnya, karena arahnya lebih menuju ke marketing.

Begitu saja ulasan saya setelah membaca bab pertama dari buku The Filmmaker's Handbook.