Minggu malam kemarin saya sulit tidur. Kenapa? Saya juga kurang yakin. Bisa jadi ada kegundahan di hati yang belum terselesaikan di hari itu, bisa jadi juga se sepele ternyata saya sembelit atau kurang minum air. Sembari mengisi ulang botol minum, saya membuka browser untuk mencari berita sepakbola. Saya melihat tim favorit masa kecil saya, AC Milan, bermain. Pertandingan kandang lawan Atalanta. “Wah seru kayaknya, nonton ah” pikir saya. Saya langsung hidupkan laptop untuk menonton pertandingan tersebut
Turun minum, skor masih kacamata. Saya mulai ketar-ketir. Musim ini persaingan meraih gelar juara Serie A memang sengit. Pada musim lalu, Inter Milan yang berhasil meraih Scudetto setelah AC Milan terpuruk di akhir musim akibat tekanan mental perebutan juara yang luar biasa. Di musim ini, dengan sisa dua (!) pertandingan lagi, AC Milan memuncaki tabel, dua (!!) poin di atas Inter dengan keunggulan head-to-head record. Sembari menunggu babak kedua, saya melihat-lihat posisi tabel Serie A untuk tim lain
Saya menemukan Juventus di posisi 4. Saya sempat terheran. Tim yang menjuarai 9 dari 10 musim terakhir? Terdesak hingga hampir terdepak dari jatah Champions League? Jauh sekali turunnya. Kemudian saya juga ingat tim masa kecil saya yang lain, Manchester United. Kalau dilihat-lihat, sejak Sir Alex pensiun tahun 2013 MU belum pernah lagi juara Liga Inggris (disebutnya EPL). Terdepak dari jatah Champions League juga pernah. Padahal sebelumnya Sir Alex juara 13 kali dalam 23 tahun menjabat sebagai manajer. Lawannya juga tidak sembarangan, ada Wenger dengan Arsenal yang bermain cantik di awal 2000an, kemudian datang Mou dengan Chelsea yang penuh pemain bintang, kemudian Manchester CIty yang sempat merebut gelar juara dari MU bermodal selisih gol. Sekarang? Sudah resmi terdepak dari Champions League. Harapan MU hanya tinggal masuk ke Europa League. Itu pun jika tidak diselak Aston Villa yang hanya beda sedikit.
Saya pun mengingat sejarah sepakbola kembali. Sebelum 2 musim ini, Milan juga payah-payahnya. Ditinggalkan pemain inti seperti Pirlo, Gattuso, Nesta, Inzaghi, Maldini, dan kawan-kawan menyebabkan posisinya anjlok. Sempat pula terdepak dari jatah Champions League. Banyak tim lain juga seperti itu. Liverpool sampai 30 tahun lebih tidak merasakan gelar EPL (ada juara Champions League tahun 2005 sih, membalikkan keadaan melawan Milan juga hiks). Saat ini mereka dan Manchester City jadi duopoli jagoan EPL, tidak ada yang menyaingi mereka
Nampaknya sepakbola ini memang siklus, batinku. Tepat sebelum Leao mencetak gol. 1-0 untuk Milan. Ayo, Forza Milan, juara musim ini!