AES003 What is Justice?
Hanief Adnadi
Thursday June 2 2022, 8:40 AM

What is justice?

Pertanyaan demikian sudah menghantui manusia sejak manusia sejak manusia mulai berpikir. Pemikir-pemikir sedari jaman Yunani Kuno sudah menyumbangkan ide mereka menyoal keadilan. Seperti misal Plato di Republik berpendapat bahwa keadilan adalah ketika manusia hidup harmonis dengan one’s natural dispositions, John Rawls berpendapat bahwa keadilan bisa dicapai dengan mengembalikan manusia ke original condition lalu membagikan kekayaan sosial dengan merata. Selain mereka banyak lagi filsuf yang berbicara menyoal keadilan seperti Marx, Locke, dan lain-lain

Pertanyaan ini pun bisa terlontar dari seorang anak. Seorang anak bisa membatin “hey, ini tidak adil” ketika menerima perlakuan yang berbeda dari orang lain. Seperti misal, ketika kelasnya ribut lalu dia diingatkan, dia bisa saja kemudian menunjukkan kelas lain yang sama ributnya atau bahkan lebih. Atau ketika terjadi perkelahian, dua pihak tersebut bisa saja kemudian saling menuduh bahwa dirinya lah yang disakiti oleh temannya.

Jadi, apa itu adil? Dari mana keadilan muncul?

Untuk kasus-kasus yang muncul di atas, keadilan muncul di dalam ruang sosial. Dalam konteks tersebut, yang bisa dikatakan adil atau tidak adalah interaksi sosial yang terjadi. Interaksi sosial ini terjadi dengan pertemuan (terkadang tabrakan bahkan) antar perspektif. Ketika itu terjadi, perspektif manakah yang dijadikan acuan utama? Perspektif yang paling kuat? Itu akan menimbulkan ketidakadilan kembali. Perspektif yang merasa tertindas? Siapa yang merasa tertindas? Ada kutipan yang prevalen di kalangan aktivis di Amerika Serikat, “when you’re accustomed to privilege, equality feels like oppression”. Yang mana yang akan kita beri panggung?

Solusi yang terasa paling mudah adalah mendasari keadilan ini dalam kondisi materiil. Namun bagaimana ketidakadilan yang sekilas tidak kasat mata? Bisa kah itu kemudian menjadi materiil? Untuk anak SMP yang setiap harinya dirundung tiada jeda, itu akan tetap terlihat materiil buat dia.

Saya menulis ini dengan harapan saya bisa merunutkan pikiran saya untuk mendapat jawaban, tapi nampaknya di akhir essay ini saya malah berakhir dengan pertanyaan baru dibanding jawaban. Nampaknya pertanyaan keadilan ini akan menghantui saya sampai nanti