AES005 Towards a New Education
Hanief Adnadi
Tuesday June 7 2022, 10:11 AM

Pagi mendung di hari Senin 6 Juni. Hari ini adalah hari no-bag day untuk kelas SD-5. Memikul sarung berisi perlengkapan hari ini, aku berangkat ke sekolah. Ketika dalam perjalanan, aku merenungkan keputusan hidupku yang menggiringku ke titik ini.

Aku kemudian teringat saat pertama kali aku mendapatkan kabar lowongan “guru” di Semi Palar. Ketika itu aku bahkan baru mendengar sedikit menyoal Semi Palar dari Jere, yang sudah berpengalaman di sana. Per cerita dia, Semi Palar ini bukan seperti sekolah lain. Sekolah yang “memperlakukan murid bukan seperti wadah yang siap menerima wejangan dari seorang guru yang maha tahu, tapi merupakan tempat murid mencari pembelajarannya sendiri dengan didukung guru sebagai fasilitator. Mendengar itu aku langsung tertarik. Model sekolah yang tidak mendikte siswa tapi mengajak siswa berkolaborasi dalam belajar? Di mana antrian pendaftarannya? Aku pun langsung memasukkan lamaran saya ke Semi Palar

Singkat cerita, aku pun diangkat sebagai guru magang di Semi Palar. Aku ditempatkan di kelas SD-5 kelompok Ular Naga. Dua kelas pertamaku adalah kelas daring, jadi tidak banyak yang kudapat di sana. Karena pengalaman aku yang banyak berkutat di sisi eksperimen dan lapangan, aku berpikir bahwa ini hanya pemanasan saja. “Kelas tatap muka nanti yang tantangan sesungguhnya, nip” batinku. Perkenalan daring berlangsung baik, teman-teman Ular Naga juga terbuka dan merespon perkenalanku dengan antusias. Aku pun menyiapkan diri untuk kelas tatap muka di minggu depan

Benar saja, kelas tatap muka memang banyak dinamikanya. Dari sisi akademik ada tarik-ulur antara olahan yang dibutuhkan di jenjang SD-5 dan keinginan teman-teman yang kebetulan di angkatan ini mayoritas masih sangat dominan sifat kekanak-kanakannya. Dari sisi karakter teman-teman Ular Naga masih dalam tahap membentuk kesadaran terhadap lingkungan. Ini sering muncul dari interaksi sesama teman-teman Ular Naga. Masih banyak konflik yang muncul di kegiatan mereka. Di kegiatan-kegiatan tersebut juga terlihat teman-teman Ular Naga masih ada yang dalam proses mengenal diri sendiri. Ada yang baru sekali diajak naik ke gunung dan kemudian ketakutan melihat tingginya posisi dia saat mendaki. Ada juga yang masih menuntut “keadilan” yang jika diperhatikan tuntutannya lebih ke “dia dan kelompoknya” dibanding keadilan yang lebih luas.

Jika kita merujuk ke model pendidikan lama, cara menangani anak-anak tersebut adalah dengan disiplin keras dan model hukuman pembuat jera. Anak dianggap seperti mahluk yang “liar” dan “perlu diatur keliarannya agar bisa terintegrasi ke masyarakat”. Sudah cukup lama model pendidikan itu bergulir, dan akupun masih merasakan hantu-hantunya. Tidak heran, aku besar di pendidikan model seperti itu. Tetapi yang kulihat selama masa magang ini adalah pendidikan yang me”manusiakan” anak

Jika seorang anak tiba-tiba melawan, ia tidak diperlakukan sebagai seseorang yang “harus dibuat jera”. Ia kemudian diajak berdialog oleh seorang guru untuk mengetahui alasan dia “melawan”. Jika alasannya adalah ia merasa dicurangi, maka ia kemudian diajak diskusi mengenai apa yang ia rasakan. Jika ternyata yang ia rasakan muncul dari konflik “diri”nya dengan “lingkungan”nya (ini masih sering terjadi, dan ini tidak hanya eksklusif satu orang, kadang keduanya merasa seperti itu) maka kemudian dia diajak untuk memahami lingkungannya agar sadar “keadilan” itu bukan konsep “diri” saja, namun konsep yang berlandaskan di lingkungan. Ketika seorang anak melakukan kesalahan seperti menghilangkan barang temannya, ia diajak untuk bertanggung jawab kepada temannya langsung atas kesalahannya.

Tidak hanya itu. Aku sebagai guru magang juga mendapat banyak pelajaran baru seperti bagaimana mengajak anak-anak agar tertarik dengan pembelajaran, membentuk kesenangan belajar dan rasa keingintahuan, menyalurkan rasa keingintahuan tersebut menjadi pemahaman akan hal yang ia pelajari, dan sebagainya.

Pemahaman tersebut juga bukan hanya terbatas di mata pelajaran sesuai arahan Kemendikbud. Seperti yang sudah dibahas di atas, pemahaman tersebut juga mencakup pemahaman akan kemanusiaan dan ruang sosial. Bagaimana agar anak-anak dapat memahami bahwa dia bukan hidup seorang diri di dunia namun juga akan terus bersilangan dengan jalur orang lain yang punya kebutuhan, keengganan, dan kesenangannya sendiri. Memahami bahwa kebutuhan, keengganan, dan kesenangan mereka hanya bisa dipenuhi oleh keberadaan orang lain. Bahwa orang lain bukanlah halangan, tapi kesempatan dia untuk mencari kebermanfaatan dirinya.

Apakah mudah menjadi guru yang mampu mengemban tugas tersebut? Tentu saja tidak. Seperti yang kutemukan di teman-teman Ular Naga, tetap ada tarik-ulur yang terjadi dalam proses menerapkan hal itu. Namun dalam proses magang ini aku melihat usaha dan jatuh-bangun dari kakak-kakak fasilitator yang luar biasa. Aku juga diajak terlibat dalam proses fasilitasi ini dan banyak critique (kalau Kak Andy sih bilang istilahnya di sini feedback) dalam membantuku untuk mendalami peran sebagai fasilitator. Teman-teman guru magang juga hadir memberikan forum obrolan dan solidaritas dalam menjalani kegiatan sehari-hari Aku pun tanpa sadar ikut dalam proses mencari kebermanfaatan diri di dalam Semi Palar.

Begitu lah yang saya dapatkan selama masa magang ini. Masih banyak lagi yang saya dapatkan namun tidak sempat saya tuangkan. Terima kasih Semi Palar. Do’a kecil saya, semoga berhasil “menjadikan” model pendidikan baru yang diperjuangkan.