Keluar dari kendaraan dengan susah payah sambil sedikit-dikit keluar keluhan dari mulut saya. Sekujur tubuh sakit-sakit, kaki, hamstring, perut dada dan lengan berteriak-teriak jika digunakan hahaha.. Sepertinya 3 hari terakhir ini saya agak memforsir tubuh walau sebetulnya jika diperhatikan jam olahraga saya berkurang karena harus menjemput Kano. Nina masih belum kembali mobilitasnya karena masalah kaki.
Begitu saya berdiri di samping kendaraan, Kano keluar dari pintu dapur, saya tidak jadi keluar tapi kembali berusaha masuk lagi juga dengan mengeluarkan suara keluhan karena otot-otot tubuh terasa begitu sakit.
"Are you okay?" Tanya Kano
"Yea. I'm fine. Just my muscles all over my body are sore!" Kata saya
Kami kemudian berangkat pulang. Ada dua orang mahasiswi yang sedang membuang sampah, mereka sedang bersih-bersih karena akan segera pulang. Salah salu dari mereka mengambil ancang-ancang untuk melempar kantong sampah besar ke dalam tempat sampah yang tinggi. Meleset! Bukannya masuk malah jatuh ke tanah, Kano tertawa melihatnya dan tampaknya mahasiswi itu juga tahu bahwa dia ditertawakan. Sambil terus senyum-senyum dia memungut kembali kantong sampah itu. Kamipun berlalu. Karena banyak para penghuni asrama mulai pulang, jumlah mobil yang terparkir pun semakin berkurang. Sebentar lagi akan terlihat lengang karena para mahasiswa bubar lalu berganti dengan peserta konferensi di musim panas. Asrama akan berubah menjadi seperti hotel. Pendatang akan silih berganti selama beberapa bulan mendatang.
Sambil mengemudi saya agak melamun. hari ini memang saya begitu sibuk karena sejak pagi sekali saya bolak balik ke berbagai tempat untuk mengurus ijin bekerja. Keputusan yang kami ambil untuk menunda kepulangan membuat perijinan terlambat, dan itu akan mengganggu kelangsungan pekerjaan saya. Jika ijin kadaluarsa maka saya harus keluar dari pekerjaan. Itu pernah terjadi di tahun pertama saya tinggal di sini. Tapi peristiwa itu justru membuka peluang saya untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Yang penting saya harus siap dan terbuka akan segala kesempatan atau peluang yang muncul.
Tiba di rumah saya langsung beristirahat dan berusaha memikirkan ide untuk menulis. Tiba-tiba ada notifikasi bahwa Kak Andy meninggalkan pesan di salah satu essai yang saya tulis di bulan September tahun lalu tentang serangkaian peristiwa yang saling bertumbukan yang kemudian menentukan nasib seseorang. Di tulisan itu saya menyebutkan bahwa banyak orang menyalahkan nasib jika berhadapan dengan ketidak beruntungan. Saya bilang jangan pernah menyalahkan takdir atau nasib, tapi kita harus berkaca bahwa banyak kesempatan muncul tapi jika kita tidak pernah siap maka kesempatan itu akan lewat begitu saja. Nasib kita bisa berubah jika kita sendiri memang selalu jeli, siap dan waspada. Itu sebetulnya inti dari tulisan itu. Ada di AES 470 yang berjudul Collision Course In Life.
Nah ini kebetulan sekali karena saya sedang berhadapan dengan situasi yang unik. Dari pengalaman-pengalaman dahulu, saya selalu khawatir, kali ini saya tidak begitu. Kita tidak pernah tahu akan hari depan. Semua itu masih merupakan mimpi, bisa terjadi bisa tidak. Selama ini saya begitu khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk, ternyata saya hanya membuang-buang waktu saja. Kali ini saya melakukan pendekatan lain, biar saja jika nanti ijin terlambat dan saya akan kehilangan pekerjaan, yang penting apakah saya mempersiapkan diri untuk menghadapinya atau tidak. Itu kuncinya. Kalau saya masih ingin bekerja seperti sekarang, saya tinggal menghadap atasan saya dan membeberkan berbagai kemungkinan. Dulu saya pernah lakukan itu dan boss saya berkata bahwa saya bisa di-reinstated ketika ijin diterima. Itu satu pilihan. Pilihan lain, saya bertanya kepada sahabat saya apakah saya bisa bekerja di sana jadi tukang masak? Hahaha.. Iya! Saya kangen juga masak, apalagi dibayar! Nah itu ada pilihan kedua. Saya tidak tahu akan ada pilihan apa lagi, yang jelas saya tidak perlu khawatir karena segala sesuatu terjadi karena ada alasannya, bukan begitu? Pada saatnya semua akan berada di tempat yang seharusnya, dan semuany memang akan baik adanya. Tapi sekali lagi, kita bukan sebagai subjek yang pasif. Jadi ingat nasehat seorang pastor yang berkunjung ke Colorado, beliau berkata,"Memang Jo, di Kitab Suci dikatakan bahwa kita tidak perlu khawatir karena burung yang tidak menanam tapi mereka tidak pernah kelaparan. Jangan salah supaya tidak kelaparan, burung-burung itu tetap harus terbang mencari makan!" Itu juga ada di salah satu tulisan saya, lupa tapinya judulnya apa. Hahahaha..
Photo credit: cogbtherapy.com