Pada sesi pembekalan kemarin sempat terbahas menyoal kompetisi dan efeknya terhadap orang-orang di dalam. Sempat terbahas oleh Kak Marta bahwa komposisi kelas K-8 lumayan beragam, dengan setengah dari kelasnya merupakan siswa baru dari luar Semi Palar. Menurut cerita Kak Marta, di sana tidak muncul kesenjangan maupun kecemburuan sosial. Seperti ketika menilai karya kelompok lego mana yang paling “bagus” mereka bisa menilai dengan jujur tanpa meninggikan kelompoknya maupun merendahkan kelompok lain.
Kemudian bahasan bergeser menjadi bahasan menyoal kompetisi. Kebetulan kak Andy sempat menulis tentang topik ini dengan tajuk Berkompetisi Dengan Diri Sendiri. Mengutip essay tersebut, “Manusia itu unik, jadi apa alasannya kita perlu berkompetisi?”
Ya, benar. Setiap manusia tidak ada yang diciptakan benar-benar sama. Selalu akan ada perbedaan fisik maupun karakternya. Belum lagi perbedaan lingkungan yang akan sedikit banyak membentuk pola pikirnya. Tapi pertanyaan besarnya, pola pikir apa yang terbentuk?
Dari obrolan kemarin, Kak Maul mencatut pola pendidikan di Finlandia yang berdasarkan pola cooperation, not competition. Prinsip itu merupakan satu dari sepuluh faktor yang mendukung peningkatan capaian anak-anak di Finlandia menurut artikel yang dilansir World Economic Forum. Ini juga sempat diterapkan di pendidikan vokasi di Uni Soviet pada dekade 1930an per kesaksian Pat Sloan di bukunya yang berjudul Soviet Democracy. Prinsip dasar dari model pendidikan ini bisa dijelaskan oleh sebuah thought experiment.
Katakan ada sebuah kelompok karya kerajinan perabot rumah tangga, seperti misal kelompok pembuat lemari pakaian berisi 20 orang. Setiap orang tersebut memiliki kemampuan membuat lemari yang berbeda. Kemudian 20 orang ini dibandingkan satu sama lain oleh seorang authority di atas mereka dan diberikan ganjaran oleh authority tersebut sesuai dengan peringkat mereka. Peringkat ini juga kemudian diumumkan setiap rentang waktu tertentu. Ketika di dalam lingkungan seperti ini, masing-masing individu akan dituntut untuk menghasilkan karya pribadi yang lebih bagus dari kawan pengrajinnya yang lain. Selain itu, tidak ada keuntungan bagi individu yang di peringkat atas jika ia membantu kawan pengrajinnya untuk mengembangkan kemampuan membuat lemari. Justru sebaliknya, jika ia membantu kawan pengrajinnya yang lain dia akan terancam pemotongan ganjaran.
Sebaliknya, dari individu peringkat bawah, walaupun ada insentif agar dia mengembangkan kemampuan membuat lemarinya, ia kemudian sulit mencari referensi bagaimana membuat lemari yang baik. Bagaimana tidak, kawan pengrajinnya yang lain enggan membagi kiat-kiat membuat lemari kepada dia. Jika ia bisa membuat lemari lebih bagus, mereka akan dipotong ganjarannya. Ketika ia sulit mencari referensi dan mencapai jalan buntu, maka dia tidak akan pernah mengembangkan potensinya dalam membuat lemari.
Kesuksesan model pendidikan ini terbukti secara nyata di banyak situasi. Uni Soviet berhasil mengejar ketertinggalan mereka di bidang industrialisasi dengan perkembangan pesat di dekade 1920an sampai tepat sebelum Perang Dunia Dua mulai. Kuantitas dan kualitas produk industri berat mereka mulai mengejar negara-negara barat. Bahkan di awal Perang Dunia Dua, pasukan Nazi Jerman ketar-ketir menghadapi tank tempur Soviet karena baja mereka sulit ditembus meriam Jerman.
Di sisi lain, skor PISA test Finlandia di tahun 2015 mampu mengungguli semua negara Eropa lain kecuali Irlandia dan Estonia, dan berhasil mencapai peringkat 7 dari 55 negara lain. Ini malah dicapai tanpa menggalakkan kompetisi internal di antara masing-masing siswa, namun lebih mendorong kerjasama antar siswa tersebut. Ini bahkan tercermin dari respon civitas academica di Finlandia yang mendapat kabar peringkat negara mereka di PISA test. Mereka tidak terlalu memasalahkan peringkat tersebut, karena yang mereka cari adalah pembelajaran dan pengembangan potensi pribadi, bukan persaingan antar individu.
Ini yang nampak betul di K-8 SMP Semi Palar. Ketika ada kawannya yang kesulitan dalam memahami olahan atau mengerjakan karya, ia akan dengan senang hati menawarkan bantuan. Ketika ia sendiri kesulitan, ia pun tidak sungkan bertanya ke kawannya yang lain. Ketika ia melihat kawannya bisa mengerjakan sesuatu dengan cemerlang, ia tidak sungkan memberi pujian dan apresiasi. Tidak ada rasa iri maupun dengki, yang ada adalah kekaguman dan ucapan selamat yang tulus. Ditambah semangat ingin mengembangkan diri dan belajar dari lingkungan sesuai minat masing-masing individu.
Apakah penerapan pola pikir ini di lingkungan sekolah akan langsung mengubah dunia? Tentu saja tidak. Uni Soviet butuh 20 tahun dan hanya fokus ke sekolah vokasi industri berat. Finlandia sudah berjuang di jenjang pendidikan anak dan remaja sejak 1979 dan itupun dipotong krisis ekonomi global di tahun 1990, mereka baru mulai melihat hasilnya pada awal dekade 2010. Penerapan di Indonesia sendiri? Ada beberapa sekolah selain Semi Palar yang sudah mulai menerapkan sistem tanpa ranking ini, namun kadang orang-tua murid malah tetap bersikeras meminta hint akan prestasi anak mereka dibanding angkatan. Memang jalan panjang dalam mengubah program masa lalu yang mengakar, namun harapannya anak-anak yang sempat melalui pendidikan yang kooperatif dan holistik ini dapat kemudian membawa perubahan di masyarakat sekitar.
P.S. Tentunya bukan hanya ini faktor keberhasilan Finlandia dalam mengubah pendidikan mereka, namun itu bahasan lain hari. Iki essay wis kedawan, aku ae rada siwer macane. Sekian dan semoga yang baca ga terlalu siwer.