Sunan Lawu, salah satu tokoh spiritual paling misterius di tanah Jawa, dalam ajaran ilmu mengenal diri yang diajarkannya menyebutkan :
" Manusia merdeka adalah mereka yang terbebas dari rasa takut".
Rasa takut adalah blocking mental paling kuat yang perlu dilampaui saat seseorang ingin benar2 mengenal dirinya sendiri. Rasa takut memicu bagian otak bernama amygdala dan sistem energi tubuh melakukan serangkaian aktivitas biologis dan energetic yang besar sekali pengaruhnya pada kesadaran dan kondisi tubuh seseorang.
(Perlu bahasan terpisah tentang ini)
Rasa takut bermacam macam bentuknya. Dari yang paling kecil seperti takut hantu misalnya, sampai yang paling besar efek emosi dan energi nya seperti takut mati, takut kekurangan materi, takut meninggalkan kehidupan di bumi dll.
Dan di era modern kita, rasa takut paling kuat yang perlu dilampaui dalam upaya manusia mengenal diri nya adalah rasa takut akan kematian dan kekurangan materi. Dua jenis rasa takut ini adalah blocking mental paling kuat di era peradaban modern.
Jiwa yang memilih hidup dibumi pada era ini, memang harus mengalami dua jenis rasa takut ini, sebagai bagian dari pengalaman rasa dalam proses evolusinya.
Dan pelajarannya akan terus diulang, sampai jiwa tersebut benar benar merdeka kesadarannya dari dua jenis rasa takut ini.
Bumi sebagai panggung tempat kesadaran mewujud, memiliki setting panggung yang berbeda beda disetiap siklusnya.
Disesuaikan dengan pengalaman rasa kolektif jiwa jiwa dibumi yang perlu dicapai di era tersebut. Dalam banyak ajaran siklus ini dikenal dengan berbagai istilah, salah satunya Catur Yuga, yang merupakan sebuah siklus abadi tentang naik turunnya vibrasi kesadaran yang datang silih berganti.
Era kita saat ini, adalah era keterpisahan dan keterbatasan, jiwa2 yang memilih turun dibumi di era ini memang datang untuk belajar dan mengalami pengalaman keterbatasan dan keterpisahan. Kita sedang mendekati akhir dari siklus ini.
Di era yang lain, seperti era Lemuria misalnya, setting panggung dibumi adalah spiritualitas dan pengalaman ketunggalan.
Jiwa yang menempati tubuh fisik dibumi pada masa itu, tidak mengenal rasa takut akan kematian. Mereka tidak memandang kematian sebagai akhir segalanya karena jiwa2 diera ini bisa secara sadar meninggalkan tubuh fisik mereka kapanpun mereka mau semudah kita mengganti baju saat ini.
Proses evolusi para Lemurian, sudah sampai pada suatu pengalaman rasa, dimana secara sadar mereka sudah mampu mengurai tubuh fisik mereka kembali menjadi energi murni.
Sehingga ketika tubuh itu ditinggalkan, mereka tidak meninggalkan sisa tubuh yang perlu dikubur, dibakar, dll karena semua unsur pembentuk tubuh mereka bisa secara sadar diurai kembali sampai level subatomic partikel oleh gelombang pikiran mereka menjadi energi.
Karena secara fisika, mereka memahami dengan pemahaman yang jauh melampaui pemahaman kita saat ini, bahwa segala sesuatu termasuk tubuh manusia adalah bentuk padat dari energi.
Dan hal ini di era itu bukan sesuatu yang ajaib, aneh, atau mustahil karena semua jiwa di era Lemurian memiliki kemampuan melakukan itu, jadi sangat biasa saja dan umum terjadi.
Sama biasanya dengan kita yang melihat manusia bisa berkomunikasi tanpa kabel melalui smartphone saat ini.
Karenanya para Lemurian memahami kematian sangat berbeda dengan kesadaran jiwa2 yg hidup di era modern. Akses memory kesadaran mereka juga masih membawa ingatan akan kehidupan mereka didimensi non fisik. Karenanya saat itu, rasa takut akan kematian tidak eksis dalam kesadaran para Lemurian.
Memori sadar dan bawah sadar mereka masih memahami, bahwa kematian sejatinya tidak eksis dan bukanlah akhir dari segalanya.
Memori tentang kemampuan inilah yang kemudian melahirkan konsep moksa dalam banyak ajaran spiritual diperadaban modern.
Walau moksa sendiri dipahami dengan berbagai makna, tapi secara prinsip ini adalah tahapan spiritual dimana jiwa kembali melebur kedalam kesadaran semesta, yang terutama dibawa oleh jiwa jiwa yang pernah hidup di era Lemurian.
Alam bawah sadar mereka menyimpan suatu memory bahwa ada suatu metode "kematian" yang sama sekali berbeda dengan apa yang dipahami secara umum saat ini, bahwa potensi kesadaran manusia luas tanpa batas.
Mas Gun, semalem aku tuh ngerenungin lagi bahasan Mas tentang fear dan amygdala. Kynya ini topik yang menarik banget utk diangkat loh utk Ngobras berikutnya. Rasa takut dan khawatir suka bikin kabut banget dan bikin kita jadi jauh dari kesadaran, pdhl sebagai ortu ini penting banget utk bs kita olah agar lebih jernih dalam membersamai anak2. Colek @kak-andy dan @dini gmn gmn? 🤭
Gaskeun... Menurut saya ini tantangan mendasar manusia modern. Karena walaupun sudah tidak kelaparan, tidak ada beruang dan suku sebelah yang akan menyerang kita, amygdala kita terus dipicu menyala oleh berbagai sistem kehidupan, berbagai konten di media sosial dan lain sebagainya... ☝🏼🤗
Setujuuuuu
Saya bagian tim hore aja Bu @lei, ikut meramaikan saja sesuai arahan para senior 🙏