Sedari kecil aku, dan mungkin banyak dari kita diajar untuk memelihara kebersihan tubuh. Mandi, sikat gigi, cuci tangan, dll. Saat jatuh atau terluka, kita belajar merawat, mengobati luka supaya tidak infeksi. Semua yang melihat ikut khawatir, membantu mengobati, paling tidak memberi saran obat yang dapat digunakan. Namun jarang sekali kita diajak memelihara kebersihan emosi, merawat hati. Mungkin karena tidak terlihat jelas, tidak terukur, tidak ada prosedur penanganan yang pasti, saat mengalami kecewa, marah, sedih, takut dll, cenderung didiamkan. “Sudahlaah..” Sungguh berbeda dengan saat tubuh kita sakit atau terluka. Meski tak dapat dicuci atau disikat setiap hari seperti halnya gigi atau tubuh, bukankah emosi juga bagian dari diri, juga perlu dirawat.
Emosi atas satu kejadian memang dapat memudar seiring waktu, mungkin sekadar terlupakan tapi bukan hilang dengan sendirinya. Yang terbayang adalah sebuah ruang yang setiap hari digunakan, dilewati, tapi tak pernah dibersihkan. Tumpukan benda, yang didiamkan dengan harapan akan memudar dengan sendirinya. Nyatanya tetap ada di situ, mengokupasi ruang, membuat sesak, tertutupi debu dan kotoran. Bukan tak mungkin hal ini terefleksi ke keseluruhan diri. Tapi bagaimana pula bagaimana menjaga kebersihan atau kesehatan sebuah ruang yang tak kasat mata? Seorang teman yang mulai pulih dari tumpukan kesulitan karena trauma masa kecil, bercerita bahwa ia mengalami periode di mana banyak orang di sekitarnya - bahkan orang terdekatnya mengatakan bahwa meski tidak kemana-mana, ia seperti tidak ada, tidak dikenali. Antara diri yang jadi tidak terlihat, atau orang kesulitan melihat dirinya karena berada di antara tumpukan benda dari masa lalu. Baru setelah mulai membenahi ruang tersebut, ibarat melakukan declutter, mengeluarkan atau membersihkan dengan memberi perhatian dan menerima keberadaan, orang-orang di sekitarnya .
Ketika sudah menjaga ruang tersebut, bukan berarti akan selalu merasa senang atau terbebas dari emosi negatif. Namun lebih paham untuk tidak mengabaikan perasaan ketika terluka, juga memiliki kemampuan untuk menghadapi ragam dan perubahan emosi di keseharian.