Gadis manis berambut ikal panjang itu maju ke depan kelas. Ia membacakan instruksi yang tertera pada secarik kertas yang ia peroleh. Berceritalah tentang kejadian paling berkesan yang dialami ketika belajar secara daring. Kira-kira demikian bunyi tugasnya. Setelah berpikir sejenak, si gadis mengambil posisi duduk di depan meja yang tersedia. Lalu mulai bercerita, “Setiap pagi aku buka komputer, menyapa kakak dan teman-teman…” sambil memperagakan gerakan membuka laptop. Dengan ceria si gadis lanjut bercerita, bahwa Kakak membalas sapanya, dan mengatakan bahwa ada satu hal yang belum ia lakukan, yaitu mengikat rambut panjangnya. Setelah diingatkan, si gadis sigap mengikat rambutnya sendiri. Keesokan harinya, ia melakukan hal yang sama. Duduk di depan laptop, menyalakan komputer, masuk ruang Gmeet dan menyapa kakak. Kakak kembali membalas sapanya, dan mengingatkan tentang satu hal yang masih belum si gadis lakukan, mengikat rambut. "Besoknya gitu lai" tutur si gadis dengan gayanya yang khas . Hingga suatu pagi Kakak hanya mengatakan bahwa Kakak yakin si gadis sudah tahu apa yang akan Kakak katakan. Si gadis segera mengikat rambutnya. Ia pun menutup ceritanya sambil mengikat rambutnya, dan dengan tersenyum mengatakan bahwa itulah hal berkesan yang ia alami saat mengikuti pembelajaran daring.
Terdengar sangat sederhana, hanya tentang mengikat rambut. Tapi ternyata tidak sekadar diingat baik, bahkan dipilih sebagai hal yang paling berkesan bagi si gadis untuk diceritakan di kelas. Bukan sesuatu yang sulit dan sebenarnya sudah dapat dilakukan sendiri dengan baik. Bukan pula hal yang tiba-tiba diminta dilakukan tanpa alasan jelas. Memiliki rambut panjang tentunya menjadi preferensi bagi banyak anak perempuan. Namun bersepakat bahwa saat berkegiatan, jangan sampai hal ini mengganggu mereka. Menutupi pandang atau wajah, atau membuat anak terdistraksi untuk memainkan rambutnya. Karenanya Kakak mengajak anak-anak di kelas, untuk hadir di kelas dengan rambut yang sudah diikat rapi.
Membangun satu kebiasaan baru memang membutuhkan ketekunan. Kesediaan Kakak untuk terus mengingatkan si gadis dari hari ke hari tanpa menaruh tuntutan berlebih memberi kesan mendalam bagi si gadis.
Mungkin memang demikian adanya membangun sesuatu. Ibarat menumbuhkan benih, perlu ada kesediaan untuk memberi air, pupuk, sinar matahari, dan waktu, tanpa menuntut tunas untuk segera muncul esok hari. Ketika tiba saat yang tepat, tanpa diduga tunas akan muncul dan berkembang terus.