Masih seputar AES. Saya sangat mengapresiasi tulisan-tulisan yang berhasil diunggah. Karena proses menuang gagasan itu pastinya bukan hal yang mudah bagi semua orang. Tapi yakin juga bahwa setiap orang pasti punya sesuatu untuk diceritakan. Tidak mesti sesuatu yang ilmiah, pengetahuan yang dikuasai atau wawasan yang dimiliki. Pengalaman keseharian, pemikiran yang terlintas, kepingan yang ditangkap dari stimulan seperti artikel, buku atau film yang dinikmati di waktu jeda ternyata bisa jadi cerita menarik bagi orang lain. Bagi saya pribadi, membaca beragam tulisan di ujung hari menjadi penutup hari yang menyenangkan. Tak terkecuali, atau tepatnya, justru tulisan-tulisan yang ringan, dengan gaya penulisan khas masing-masing individu. Selalu unik karena tidak ada pengalaman atau pemikiran yang sama.
Mungkin yang kerap jadi pertimbangan atau kekhawatiran bagi sebagian orang adalah kelayakan dari gagasan tersebut untuk diunggah dan dibaca orang lain. Ada citra yang menjadi batasan. Tentunya itu adalah bagian dari diri yang tidak dapat diabaikan. Karena sejauh yang diketahui, media sosial memang identik dengan image diri.
Namun yang saya alami, saat mulai bergerak, menjajal kemampuan dan mengikuti arus, yang kemudian menjadi lebih muncul dan banyak saya baca adalah bagaimana seseorang menghargai dirinya, menghargai kehidupannya, menghargai pengalaman bahkan hal-hal sederhana yang mungkin awalnya khawatir dipandang receh oleh pembaca. Terlebih mereka yang berhasil menuang gagasannya hingga ke tatar reflektif. Karena membagi pengalaman dan pemikiran, ibarat menaruh keping diri yang tentunya berharga bagi dirinya, dan bukan tidak mungkin, sekaligus menjadi cara untuk mendorong keyakinan pada kemampuan diri.
Satu hal lagi, pada mereka yang bersedia menjajal diri dengan intensitas AES yang tinggi, tampak pula bahwa kreativitas mereka kian terasah. Karena momen-momen ketika menghadapi dan mengatasi kebuntuan ide saja, telah menelurkan cerita-cerita yang menarik 
Terima kasih dan terus semangat !
Eh ternyata sejudul, jadi sekalian apresiasi untuk AES ke 150nya pak @joefelus
Bener yang kak Ine ungkapkan di atas. Saya mah sudah ga jaim lagi, kak. Menulis kadang mengalir begitu saja selama jujur pada diri sendiri kadang dari sebuah kehampaan bisa mengerucut ke sebuah refleksi yang menyehatkan bagi diri sendiri. Dengan sebuah kejujuran, proses menerima diri sendiri semakin lancar, walau sudah ubanan ternyata masih berproses dalam hal ini. EAS ini menjadi wahana bagi saya selain untuk mengekspresikan diri dan pikiran tapi juga sebagai tempat ber-refleksi. Asyik ternyata.
Wah dalam.. Uban sih sudah, tp mengalir lancarnya belum nih pak.. masih berproses saya pak 🙏🏼☺️