Dari semalam badan terasa aneh. Terutama di bagian pencernaan, merambat jadi lemas dan sakit di seluruh tubuh. Kalau diingat-ingat, memang sedang kacau sekali pola makan belakangan ini. Selaparnya, seadanya. Konon sakit adalah mekanisme tubuh ketika terjadi ketidakseimbangan di dalamnya. Apa sih yang sebenarnya terjadi ketika tiba-tiba alami diare, demam, bengkak atau nyeri di bagian tertentu, yang merambat ke sistem dan fungsi di bagian lain lain, bahkan menjadi sulit melakukan hal-hal yang biasanya berlangsung otomatis tanpa dirasa, tanpa dipikir. Beberapa waktu sebelum ini, si bungsu juga tetiba sakit. Merasa perlu konsul ke dokter supaya tahu. Karena ketidaktahuan membuat gelisah. Dan sejauh ini dokter dipandang sebagai orang yang paham serba serbi dalam tubuh manusia. Daftar, antri, menunggu, masuk, cerita apa yang dialami, diperiksa bagian yang sakit, menjawab beberapa pertanyaan, diberi resep dan jadwal kontrol selanjutnya, ambil obat, bayar lalu pulang. Ehh, tunggu.. maksud hati berkunjung ke dokter kan karena ingin mendapat penjelasan. Ingin bertanya lebih jauh tapi seolah waktu si dokter sangat terbatas, harus bergegas, berbagi waktu dengan pasien lain yang masih mengantri. Tetap belum mendapat pencerahan atas apa yang terjadi. Sekadar merasa membaik setelah minum obat dan bisa istirahat lebih baik setelah beberapa waktu tidak bisa tidur dengan lelap. Syukur-syukur segera pulih, gejala dan rasa sakit menghilang, bisa kembali beraktivitas normal, seperti tak terjadi apa-apa. Tetap tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga sakit.
Siklus yang kerap terjadi ketika sakit, sejak jaman dulu sepertinya. Jarang bisa sampai tahu dan menyadari penyebab dari sakit tersebut. Biasanya mencoba merefleksi sendiri, perubahan yang terjadi, gejala yang mulai terasa, kapan, di mana, dll. Benar tidaknya tak pasti juga. Coba cari tahu tentang obat pun serupa kebingungannya. Kenapa banyak obat yang bila dibaca pada kemasannya, faktor resikonya lebih banyak daripada faktor mengatasinya? Kalaupun gejala sakit saat ini teratasi tapi jadi beresiko mengalami gangguan pada bagian tubuh lain karena mengonsumsi obat. Aneh, tapi sepertinya dalam kondisi sakit, orang seringkali merasa terdesak. Butuh jalan pintas untuk segera mengatasi gejala ataupun rasa sakit.
Hmm.. perlu memperbaiki pola hidup, yang lebih sehat intinya sih Ne.. :D
Memang sedih melihat sistem kesehatan di Indonesia ya Kak. Kalau dibandingkan dengan tempat lain. Saya di sini kadang cukup email dokter atau telepon nurse mengenai masalah kesehatan, tidak perlu datang dan tidak perlu bayar.
Semoga cepat membaik, kak.
Thank you pak @joefelus 🙏🏼
Wah pasti jauh lebih nyaman ya kalau leluasa untuk konsul dan tanya.. entah mengapa sering dapat kesan dokter kok ga informatif, ga mau repot menjelaskan..
Iya kak, kalau saya konsultasi in person bisa sampai 1 jam. saya tanya semua dan dokter menjelaskan sampai pakai whiteboard kaya sedang kuliah hahaha... Kalau di Indonesia memang rasanya dokter cuma ingin cepat karena pasien antri, bahkan pernah ada dokter yang setengah ketiduran
Wah ideal banget itu ya pak.. intinya memang pasien tahu apa yg terjadi, kenapa dan apa yang perlu/bisa dilakukan ya, ga sekadar nelen obat yang diresepkan..
Iya kak. Klinik sepi dan di sini malah pasien jarang diberi obat kecuali kalau memang dibutuhkan. Kalau misalnya batuk, pilek, sakit tenggorokan, dokter paling suruh kumur air garam dan beli obat yang over the counter model tylenol (paracetamol) itu juga dibilang kalau memang sudah tidak kuat, dan kalau masih tahan diminta banyak minum dan istirahat. Antibiotik hampir tidak pernah.