AES06 intermezzo
innocentiaine
Tuesday July 6 2021, 8:55 PM

Lebih dari 10 tahun, Tibon adalah penguasa tunggal. Meski wilayah kekuasaannya hanya sebatas halaman belakang rumah. Tapi ia menjaga wilayahnya dengan baik. Tak pernah seekor tikuspun lolos dengan mudah dari wilayahnya. Ia ribut sekali kalau melihat pintu gerbang terbuka sedikit saja. Bila ada yang melintas, dengan gagah ia akan berteriak, “Siapa kau, apa urusanmu di sini?” laksana satpam yang menginterogasi penyusup. Meski secara usia sudah bisa disebut kakek, ia sangat galak.

Cimeng datang tiba-tiba, entah dari mana asalnya. Saat itu pandemi baru saja merebak. Tubuh mungilnya kurus, tatapannya takut dan curiga. Cimeng mencari tempat berlindung yang aman. Sejak itu Cimeng menetap. Ia tahu batas wilayah kekuasaan kakek Tibon. Awalnya ia tidak berani mendekat, apalagi melintas batas. Perlahan, karena bosan Cimeng mulai menjelajah. Dengan cepat ia mempelajari jadwal piket jaga si kakek satpam. Jadi ia bisa bermain dengan aman di antara ilalang di halaman belakang, memperhatikan lalu menyergap kupu2. Ia bisa leluasa berjemur di wilayah perbatasan. Sesekali kakek Tibon memergoki Cimeng. Ia mengejar dan berteriak-teriak dengan senewen, mengusir si Cimeng. Cimeng dengan cepat bersembunyi. Setahun lebih berlalu. Cimeng semakin handal. Ia bisa menyelinap ke berbagai celah yang terbuka. Meski tubuhnya semakin besar dan membulat, ia juga semakin eksploratif dan gigih.

Beberapa hari yang lalu, 3 pengungsi diselamatkan. Ibu Kupo dan 2 anaknya, Dadang dan Iceu. Konon beberapa hari sebelumnya anak yang ke 3 baru saja meninggal. Ketika datang, ke 2 anaknya dalam kondisi cukup parah, terutama Iceu. Udara dingin musim kemarau memperburuk keadaannya. Di malam kedua Iceu semakin melemah. Kompres air hangat dan berlapis selimut tidak membantu Iceu untuk bertahan. Selamat jalan Iceu, bermainlah tanpa rasa sakit di kediaman barumu. Untunglah Ibu Kupo terlihat sehat. Dadang sempat mendapat pertolongan dokter. Meski masih tampak ringkih dan kikuk, ia bertahan. Setelah beberapa hari kondisinya semakin baik. Belum sepenuhnya sembuh, tapi sudah lebih segar dan aktif bermain.

Ketika mereka datang, Cimeng tak bersuara. Dalam diam ia memperhatikan kesibukan tersebut dengan tatapan bingung dan bertanya-tanya. Ketika ketiganya ditempatkan di dekatnya, Cimeng terlihat waspada dan menjaga jarak. Entah mengerti gentingnya situasi atau memang enggan basa-basi, Cimeng mundur teratur, kemudian menghilang ke tempat-tempat persembunyian yang sudah ia jelajahi. Belakangan Cimeng memilih untuk berada di kebun dalam bersama Tortii dan Belel. Ia menghindari Kupo ataupun Dadang. Lebih sering mengikuti Tortii berdiam di balik rimbun dedaunan, menikmati sejuknya tanah dan hangatnya matahari.

Pagi itu cerah. Cimeng masih bergelung malas sambil mandi matahari bersama Tortii. Mendengar suara-suara di dapur, Kupo dan Dadang segera mendekati pintu dapur, bersiap menyambut sarapan pagi. Tibon masih piket jaga. Melihat Kupo dan Dadang di dekat pintu dapur, seperti biasa ia ribut berteriak-teriak, menyuruh mereka pergi. Hanya pagar pembatas di antara mereka. Tanpa takut sedikitpun Kupo maju mendekati Tibon. Tatapannya tajam dan galak. Sambil menggeram, “Mundur kau!” ia melayangkan tamparan bercakarnya. Tibon terperangah, langsung terdiam dan mundur sambil menatap tak percaya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sang penguasa bertemu ibu preman yang galak. Hingga beberapa saat setelah mencerna, barulah ia berteriak-teriak lagi. Teriakan bingung antara tidak terima dan tidak percaya. Sarapan paginya hanya ia sentuh sedikit. Hilang sudah selera makannya pagi itu. Sementara Kupo dengan tenang, merasa menang, menikmati makan paginya dengan lahap, lalu duduk-duduk di pagar pembatas sambil membual cerewet.

intermeso.jpg

You May Also Like