AES 265 Bahasa
joefelus
Saturday February 12 2022, 12:26 AM
AES 265 Bahasa

"TOM!"

No answer.

"TOM!"

No answer.

"What's gone with that boy, I wonder? You TOM!"

No answer.

The old lady pulled her spectacles down and looked over them about the room; then she put them up and looked out under them. She seldom or never looked THROUGH them for so small a thing as a boy; they were her state pair, the pride of her heart, and were built for "style," not service -- she could have seen through a pair of stove-lids just as well. She looked perplexed for a moment, and then said, not fiercely, but still loud enough for the furniture to hear:

Itu adalah beberapa baris pertama di halaman pertama dari buku karangan Mark Twain, The Adventures of Tom Sawyer. Itu adalah buku bahasa Inggris pertama yang saya baca ketika masih SD. Sebuah buku milik ayah saya yang dulu ketika beliau masih muda belajar di sekolah Inggris, entah apa nama sekolahnya.

Bukunya berbentuk hard cover dengan sampul berwarna hijau berlapis kain dan di berbagai sudut kainnya sudah rusak termakan waktu sehingga bagian sampul dari karton yang tebal terlihat jelas. Kemampuan bahasa Inggris saya waktu itu sangat minim, saya juga tidak punya kamus, jadi saya hanya membaca dan membaca sambil menebak-nebak isinya. Buku itu seperti harta karun yang saya bawa kemana-mana. Tentu saja saya selalu berusaha sembunyikan agar tidak terlihat teman-teman sebab saya takut diejek. Membaca buku berbahasa Inggris di kampung bukan hal yang "normal" apalagi untuk kalangan anak-anak SD yang kami tahu bahasa Inggris hanya sebatas icebuk dan icepen (It's a book dan it's a pen) hahahaha... percaya atau tidak, tanpa pengetahuan dan ketrampilan berbahasa Inggris, saya menamatkan buku itu! saya tahu ceritanya, bagaimana Tom Sawyer bersama sahabatnya yang menggelandang Huckleberry Finn dan seorang anak perempuan Becky Thacher berhasil berpetualang menemukan harta karun dan mengalami kejadian seru dengan penjahat Injun Joe! Imajinasi saya sangat terpicu sejak mulai dengan cerdik Tom mengerjai teman-temannya mengecat pagar, pergi ke kuburan bersama Huckleberry Finn membawa kucing mati, dan sebagainya.

Mungkin pengalaman pertama saya bersentuhan dengan buku ini yang mulai membuat saya tertarik dengan bahasa. Ketika memasuki SMA bahkan saya memilih kelas bahasa. Pada saat itu para murid harus memilih antara IPA, IPS atau Bahasa. Saya memilih bahasa tapi tidak ada peminat sehingga saya terlempar ke kelas IPA yang saya benci, tertama pelajaran Fisika dengan Pak Memet yang aneh ketika mengajar karena sepertinya semakin banyak anak-anak yang tidak mengerti, beliau semakin bahagia. Buktinya rata-rata murid memperoleh nilai 3. Nilai 3 itu artinya dalam ulangan yang selalu hanya ada 3 soal, semuanya salah! Setiap soal yang ada jawabannya mendapat hadiah 1 jadi total 3!

Saya belajar banyak bahasa walau hampir tidak ada yang pernah tuntas kecuali bahasa Inggris dan bahasa Sunda. Di sekolah saya belajar bahasa Jawa, lengkap dengan menulis aksara honocoroko, menulis huruf arab gundul, kemudian bahasa Sunda. Lalu saya pernah belajar bahasa Latin, hanya 2 semester hahaha, kemudian belajar bahasa Belanda secara autodidak dan membeli buku-buku karena keluarga istri selalu menggunakan bahasa belanda dalam keseharian mereka. Ya lumayan saya bisa secara pasif hanya sekedar mendengar dan dapat mengikuti percakapan walau kemudian lenyap karena orang tua meninggal, sehingga penggunaan bahasa Belanda terhenti. Bahasa berikutnya yang sempat saya pelajari adalah bahasa Jepang. Ini malah saya ambil selama 4 semester lebih dan saya praktikan di pekerjaan sehari-hari karena banyak pelanggan yang berbahasa Jepang. Proses belajar terhenti karena saya putus asa ketika mulai belajar menulis dan membaca karakter Kanji! Saya menyerah hahaha. Dan terakhir saya belajar bahasa Spanyol karena saya tinggal di lingkungan masyarakat yang banyak menggunakan bahasa Spanyol. Oh satu lagi, saya sempat belajar bahasa daerah dari Filipina, Ilocano.

Kenapa bahasa begitu menarik bagi saya? Karena bahasa membuat saya bisa lebih berbaur dengan masyarakat yang menggunakan bahasa itu. Salah satu cara untuk dapat diterima dalam sebuah komunitas adalah dengan mengenal bahasa mereka. Jangan salah, belajar bahasa mereka juga menjadi semacam cara untuk lebih akrab. Mereka senang membantu dalam belajar. Proses belajar bahasa menjadi bagian dari interaksi yang menyenangkan.***

Foto: twinkl.com